TRIBUNNEWS.COM - Tim bulu tangkis beregu putra Indonesia datang ke Asian Games 2026 dengan status unggulan pertama.
Status unggulan pertama Indonesia ditentukan berdasarkan akumulasi poin tiga pemain tunggal putra dan dua pasangan ganda putra terbaik dalam ranking dunia BWF per 8 September 2026.
Indonesia mengungguli China yang berada di posisi unggulan kedua.
Sesuai aturan pengundian BWF, dua tim unggulan teratas ditempatkan di sisi undian yang berbeda.
Artinya, Indonesia dan China tidak akan saling berhadapan sebelum partai final.
Kondisi tersebut tentu menjadi keuntungan tersendiri.
Namun, ancaman justru bisa datang dari tim-tim lain yang berpotensi bertemu Indonesia mulai babak perempat final.
Baca juga: Modal Amri/Nita Disorot Liliyana Natsir Tatap Asian Games 2026 usai Bersinar di Kejuaraan Dunia
Target medali emas dari nomor beregu putra Indonesia jelas tidak sesederhana itu.
Ya, Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sebelumnya memang memasang target medali emas dari nomor beregu pura.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Pusat (Kabid Binpres PP PBSI), Eng Hian.
"Kami mengejar target gelar juara di nomor beregu putra dan memberikan hasil terbaik di nomor beregu putri," kata Eng Hian, dikutip dari Djarum Badminton.
Fajar Alfian dkk pantang terlena. Negara lain bisa saja memberikan kejutan, bahkan sebelum babak final.
Piala Thomas 2026 menjadi pengingat. Kala itu Indonesia datang sebagai unggulan kedua.
Secara mengejutkan, langkah Indonesia justru terhenti di fase grup setelah kalah 1-4 dari Prancis.
Untuk pertama kali dalam sejarah, Indonesia gagal lolos dari fase grup Piala Thomas.
Jangan sampai, sejarah kelam tersebut terulang di nomor beregu Asian Games 2026 yang bakal berlangsung di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Jepang, pada 20-24 September mendatang.
Baca juga: Tontowi Ahmad Tak Muluk-muluk soal Asian Games 2026: Medali Dulu untuk Ganda Campuran Indonesia
Indonesia berpeluang menghadapi India, Malaysia, Korea Selatan, atau Thailand di perempat final beregu putra.
India menjadi salah satu lawan yang patut diwaspadai karena memiliki kekuatan relatif merata di sektor tunggal maupun ganda putra. Rekam jejak pertemuan di ajang beregu juga menjadi pengingat bagi Indonesia.
Di final Piala Thomas 2022, Indonesia harus mengakui keunggulan India setelah kalah telak 0-3.
Korea Selatan juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Negeri Ginseng memiliki kekuatan besar di sektor ganda putra, terutama dengan keberadaan Kim Won-ho/Seo Seung-jae dan Kang Min-hyuk/Ki Dong-ju.
Kelemahan Korea Selatan di sektor tunggal putra bukan berarti Indonesia dapat bermain tanpa tekanan.
Pengalaman Asian Games 2022 di Hangzhou menjadi bukti bahwa kejutan bisa terjadi.
Kala itu, Indonesia yang juga berstatus unggulan pertama justru tersingkir di perempat final setelah kalah 1-3 dari Korea Selatan.
Salah satu hasil yang paling mengejutkan terjadi ketika Lee Yun-gyu yang berada di peringkat 119 mampu mengalahkan Jonatan Christie pada partai tunggal kedua.
Sementara itu, Malaysia juga mempunyai potensi mengganggu misi Indonesia meraih medali emas.
Kekuatan utama Malaysia berada di sektor ganda putra, sedangkan sektor tunggal putra relatif tidak terlalu diunggulkan.
Di sisi lain, Thailand menghadirkan tantangan dengan karakter berbeda.
Thailand memiliki kekuatan lebih menonjol di tunggal putra, namun tidak sekuat Malaysia dalam sektor ganda.
Pertemuan terakhir Indonesia dan Thailand di Piala Thomas 2026 menunjukkan bahwa pertandingan tidak akan mudah. Skuad Merah Putih saat itu harus berjuang hingga akhirnya bisa menang 3-2.
Maka dari itu, status unggulan pertama belum cukup untuk menjamin Indonesia melaju mulus.
Kedalaman skuad dan kemampuan mengatur strategi pada setiap pertandingan akan sangat menentukan.
(Tribunnews.com/Isnaini)