Peneliti Budaya Tionghoa Dorong Pemerintah Perhatikan Pemakaman Cikadut, Punya Sejarah Panjang
Giri August 01, 2024 02:32 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Peneliti sejarah dan budaya Tionghoa dari Universitas Maranatha, Dr Sugiri Kustedja, menyebut pemakaman umum di Cikadut merupakan heritage di Kota Bandung.

Sayangnya, kata dia, kondisi pemakaman di Cikadut tidak terkelola dengan baik. Padahal, pemakaman tersebut memiliki sejarah panjang etnis Tionghoa. 

"Pemakaman di Cikadut sangat perlu dilestarikan karena memiliki nilai sejarah. Sebenarnya sebelum Covid-19, kondisinya belum separah sekarang. Tetapi, sekarang kondisinya sudah sangat memprihatinkan," ujar Sugiri, Kamis (1/8/2024). 

Di kawasan pemakaman Cikadut, kata dia, banyak berdiri perumahan dan tempat pembuangan sampah. Tak cuma itu, akses jalan menuju lokasi pun sudah memprihatinkan.

"Kondisi ini pun sudah kami sampaikan ke DPRD dan pemerintah. Memang ternyata tanah Cikadut ini terbagi dua kepemilikannya yaitu milik Pemkot Bandung dan Pemkab Bandung," ucapnya.

Hanya saja, kata dia, belum ada langkah nyata untuk memperbaiki kondisi di makam tersebut.

Sugiri pun berharap ada peran serta pemerintah agar lahan di Cikadut ini bisa terselamatkan. Termasuk tidak jadinya membuat tempat pembuangan sampah sementara di atasnya.

"Khawatir nantinya hilir mudik kendaraan sampah yang besar-besar akan memperparah kondisi jalan di sana," ucapnya.

Pembina Komunitas Aleut, Ridwan Hutagalung, mengatakan, pihaknya rutin berkunjung ke TPU Cikadut sejak 2006 karena sana ada beberapa tokoh etnis Tionghoa yang berjasa bagi Kota Bandung.

"Semisal Letnan Tan Joen Liong, letnan terakhir Tionghoa yang ada di Kota Bandung. Selain itu ada pula makam yang berada di belakang makam yang biasa disebut 'white garden' yang berwarna putih. Uniknya tulisan di belakang white garden tersebut menggunakan bahasa Armenia," ujar Ridwan.

Ridwan pun berharap pemerintah memberikan data atau mendata ulang siapa-siapa saja yang dimakamkan di TPU Cikadut. Sebab, kemungkinan masih banyak tokoh sejarah yang dimakamkan di situ.

"Makam di sini merupakan situs cagar budaya yang dilestarikan. Bahkan ada yang umurnya sudah seratusan tahun lebih," katanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.