Mesir Tolak Keras Usulan Oposisi Israel untuk Memerintah Gaza Selama 8 Tahun
GH News February 27, 2025 01:04 AM

Pemimpin oposisi Israel Yair Lapid mengatakan Mesir harus memerintah Jalur Gaza setidaknya selama 8 tahun setelah perang berakhir. Mesir menolak usulan tersebut.

Dilansir kantor berita AFP, Rabu (26/2/2025), Mesir menolak usulan eks PM Israel agar mengambil alih pemerintahan Gaza. Mesir menyebut usulan itu tidak dapat diterima dan bertentangan dengan posisi Mesir dan Arab yang telah lama berlaku terkait masalah Palestina.

"Setiap gagasan atau usulan yang menyimpang dari pendirian Mesir dan Arab (mengenai Gaza) ditolak dan tidak dapat diterima," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Mesir, Tamim Khalaf, seperti dikutip kantor berita negara MENA.

Yair Lapid sebelumnya mengungkap alasan mengusulkan agar Mesir memerintah Jalur Gaza setidaknya selama 8 tahun setelah perang berakhir. Hal itu, kata dia, sebagai imbalan untuk keringanan utang Mesir.

"Solusinya adalah Mesir akan bertanggung jawab atas pengelolaan Jalur Gaza selama delapan tahun dengan opsi untuk memperpanjangnya hingga 15 tahun," kata Lapid kepada lembaga pemikir Foundation for Defense of Democracies (FDD) yang berhaluan agresif di Washington, seperti dilansir AFP, Rabu (26/2).

Lapid mengusulkan, pada saat yang bersamaan, utang luar negeri Mesir akan dibayar oleh komunitas internasional. ,Diketahui Mesir menjadi salah satu negara yang terlilit utang luar negeri yang besar.

"Pada saat yang sama, utang luar negerinya akan dibayar oleh komunitas internasional dan sekutu regional," lanjut mantan Perdana Menteri Israel itu.

Lapid mengatakan Mesir akan memimpin pasukan perdamaian dari negara-negara Teluk dan komunitas internasional untuk pengelolaan dan pembangunan kembali Gaza.

"Selama periode tersebut, kondisi untuk pemerintahan sendiri di Gaza akan tercipta, dan proses demiliterisasi total Gaza akan selesai," katanya tentang wilayah tersebut, yang saat ini dikuasai oleh kelompok militan Palestina Hamas.

Israel telah melakukan serangan mengerikan di Gaza selama lebih dari 15 bulan dengan alasan membalas serangan Hamas yang terjadi pada 7 Oktober 2023. Serangan Hamas di Israel itu menyebabkan sekitar 1.200 orang tewas dan ratusan orang disandera.

Sementara, serangan militer Israel telah menewaskan lebih dari 48 ribu orang. Serangan itu juga melukai ratusan ribu orang dan memaksa jutaan orang mengungsi.

Sebagian besar Jalur Gaza juga hancur. Kini, warga di Gaza bisa bernapas sedikit lega karena gencatan senjata sudah tercapai.

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.