TIMESINDONESIA, SULAWESI TENGGARA – Persoalan pendidikan di Indonesia sangatlah kompleks. Factor budaya, akses, infrastruktur, guru, dan sebagainya menjadi factor belum meratanya proses pendidikan. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada tanggal 10 Oktober 2024 telah meluncurkan peta jalan pendidikan Indonesia 2025-2045.
Menurut Bappenas Akses pendidikan berkualitas di Indonesia belum merata. Persoalannya beragam, mulai dari kemiskinan, ketimpangan mutu sekolah dan kualitas guru, hingga kesenjangan infrastruktur antardaerah (Kompas.id).
Beberapa persoalan pendidikan seperti pemerataan akses pendidikan menjadi persoalan yang belum selesai. Menurut data GoodStats hanya ada 66% warga Indonesia yang lulus sampai jenjang SMA pada tahun 2023.
Angka ini sangat miris, melihat potensi besar yang dimiliki Indonesia. Apalagi pemerintah ingin mencapai Indonesia emas 2045 (https://data.goodstats.id/).
Selain itu, persoalan mutu atau kualitas juga menjadi persoalan yang selalu dijadikan tolak ukur setiap pendidikan. Murid ketika melakukan tindakan yang dianggap melanggar norma sosial, seketika itu pendidikan menjadi sasaran utama.
Dianggap tidak mampu membina dan memberikan pembelajaran yang mengubah sikap seseorang. Olehnya itu pendidikan memiliki peran sentral dalam membentuk generasi yang berkualitas.
Mundjidah Wahab pengasuh PP Bahrul Ulum mengatakan memang pendidikan selalu dinamis, selalu membutuhkan peningkatan dari pada setiap komponen dalam pendidikan.
Menurutnya setiap orang yang sudah mewakafkan dirinya untuk memperbaiki pendidikan Indonesia, dapat meluangkan waktunya agar dapat membaca, memikirkan dan menelaah keadaan pendidikan saat ini.
Pada beberapa dekade lalu, tentunya kita sudah melihat pemerintah bekerja keras agar akses pemerataan pendidikan terwujud. Mulai dari program zonasi pendidikan, sampai kepada merdeka belajar.
Kedua program ini, secara leksikal penulis melihat sebagai upaya memperbaiki pendidikan secara fisik, yang memang sejak dulu menjadi persoalan penting dunia pendidikan Indonesia.
Kementerian pendidikan dasar dan menengah (Kemendikdasmen), melihat bahwa pendidikan yang secara fisik sudah lumayan baik, maka selanjutnya adalah memperbaiki kualitas hasil belajar dari murid itu sendiri. Abdul Mu’ti sebagai Menteri telah meluncurkan satu konsep pendidikan yang disebut dengan Deeplearning.
Deep learning merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman mendalam dan pengaplikasian konsep secara lebih baik. Sehingga murid tidak hanya sekadar belajar mendapatkan informasi dari guru, tetapi bagaimana siswa memahami konsep secara menyeluruh, mengaitkannya dengan disiplin ilmu dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata (kemdikbud.go.id).
Pendidikan Bermutu
Penyelenggaraan pendidikan yang bermutu merupakan amanat UUD 1945 dimana pendidikan harus menciptakan masyarakat yang cerdas, maju, dan berjati diri. Abdul Mu’ti yang sejak dulu konsen pada dunia pendidikan telah mengimplementasikan amanat undang-undang, untuk menghasilkan pendidikan yang bermutu.
Bukan tanpa dasar Mendikdasmen Abdul Mu’ti menerapkan metode belajar deep learning saat ini. Berdasarkan data, kurikulum pendidikan Indonesia sudah 11 kali berganti sejak tahun 1947 sampai saat ini, kita menggunakan kurikulum merdeka. Kurikulum yang sudah 11 kali berganti, sepertinya sudah cukup untuk menguatkan system pendidikan.
Abdul Raup dkk pada tahun 2022 menulis sebuah penelitian yang berjudul “Deep Learning dan Penerapannya dalam Pembelajaran” pada jurnal ilmiah pendidikan.
Penelitian ini menunjukkan deep learning yang merupakan bagian dari AI dapat membantu terlaksananya hasil pendidikan yang berkualitas (Raup dkk, 2022).
Ia kemudian mencontohkan seorang pemain catur yang bermain game catur, ia sangat kesulitan mengalahkannya.
Deep learning yang juga bagian dari AI, mampu membaca pikiran dan logaritma cara berpikir manusia dalam melakukan tindakan.
Abdul Mu’ti dalam siaran pers kemendikdasmen Nomor: 70/sipers/A6/II/2025 di Universitas Negeri Malang mengatakan pintu pertama untuk melakukan learning yang mendalam itu adalah attention.
Perhatian ini merupakan sebuah proses yang melibatkan panca indera manusia, sehingga kemampuan, pengalaman, dan pengetahuan yang dimiliki menjadi pemantik rasa ingin tahu yang lebih jauh dalam proses belajar.
Dengan demikian, cara belajar seperti ini yang nantinya diterapkan pada proses pembelajaran justru akan sangat membantu para guru dan tentunya kualitas murid secara individu dapat meningkat.
Deep learning bukan sekadar metode pengajaran, melainkan sebuah paradigma pendidikan yang menekankan pemahaman mendalam, refleksi kritis, serta penerapan pengetahuan dalam konteks nyata.
***
*) Oleh : Asman, Pegiat literasi Asal Sulawesi Tenggara.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.