Investasi Bukan Perjudian: Kenapa Investor Lebih Melirik Negara Tetangga?
Oktafianus Candra March 26, 2025 12:20 PM
Investasi bukan soal coba-coba atau keberuntungan. Dibalik keputusan investasi, ada perhitungan matang, analisis risiko, dan strategi jangka panjang. Nah, di tengah kondisi ekonomi global yang penuh gejolak dan situasi politik dalam negeri yang tak menentu, banyak yang bertanya-tanya: Apakah Indonesia masih menarik bagi investor, atau justru negara tetangga mulai jadi pilihan yang lebih menggiurkan?
Belakangan ini, Indonesia menghadapi tantangan besar di dunia investasi. Ketidakstabilan politik, kebijakan ekonomi yang sering berubah, dan ketidakpastian hukum bikin investor jadi was-was. Belum lagi masalah klasik seperti birokrasi yang berbelit dan infrastruktur yang belum merata, bikin Indonesia terasa kurang ramah bagi investor yang mencari kemudahan. Bahkan, pasar saham kita lagi gonjang-ganjing. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun drastis hingga 7% dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini sampai bikin Bursa Efek Indonesia mengambil langkah darurat dengan melakukan trading halt alias menghentikan sementara perdagangan. Nggak cuma itu, lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs juga menurunkan peringkat saham Indonesia dari overweight jadi market weight, artinya mereka mulai ragu soal prospek ekonomi kita. Akibatnya, investor asing ramai-ramai jual saham mereka dan mencari peluang di tempat lain.
IHSG 18 Maret 2025
zoom-in-whitePerbesar
IHSG 18 Maret 2025
Menariknya, di hari yang sama ketika IHSG terjun bebas, indeks di negara-negara Asia lainnya malah menunjukkan performa positif. Ini tanda jelas bahwa modal asing mulai 'kabur' dari Indonesia menuju negara lain yang dianggap lebih stabil dan menjanjikan. Fenomena ini dikenal dengan istilah capital flight atau arus keluar modal.
Sementara Indonesia berjuang menghadapi tantangan, beberapa negara tetangga di Asia Tenggara justru tampil memikat di mata investor. Misalnya, Singapura sudah lama dikenal sebagai pusat keuangan kelas dunia. Regulasi di sana jelas, bisnis lancar, dan infrastruktur lengkap—ideal banget buat investasi. Malaysia menawarkan insentif pajak yang menarik, terutama di sektor teknologi dan manufaktur, dengan proses bisnis yang relatif lebih simpel dibandingkan Indonesia. Vietnam, dengan ekonomi yang tumbuh pesat, menjadi primadona baru di sektor manufaktur. Banyak perusahaan besar mulai mengalihkan pabriknya ke sana sebagai respons dari perang dagang AS-Tiongkok. Thailand pun tak kalah menarik dengan kekuatan di sektor otomotif dan pariwisata, ditambah infrastruktur logistik yang sangat mumpuni, membuat investor makin tertarik.
Ada beberapa alasan kenapa investor mulai melirik negara lain. Salah satunya adalah stabilitas politik dan ekonomi. Investor butuh kepastian, dan negara dengan situasi politik stabil serta kebijakan ekonomi yang jelas selalu jadi pilihan utama. Kepastian hukum juga menjadi faktor penting. Aturan yang jelas dan perlindungan hukum yang tegas bikin investor merasa aman menanamkan modal. Selain itu, insentif yang menggoda seperti pajak rendah dan kemudahan perizinan menjadi magnet kuat bagi investasi asing. Diversifikasi risiko juga menjadi pertimbangan. Dengan menyebar investasi di beberapa negara, investor bisa mengurangi potensi kerugian jika ada masalah di satu negara.
Di tengah persaingan ketat dengan negara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia, Indonesia harus membuktikan bahwa kita mampu menjadi tempat investasi yang stabil dan menguntungkan. Kalau nggak, arus modal asing bakal terus mengalir ke negara yang lebih siap. Sebagai negara dengan potensi besar, Indonesia sebenarnya punya peluang emas menjadi destinasi investasi utama di Asia Tenggara. Tapi, kalau kita tidak segera memperbaiki fondasi ekonomi dan menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif, jangan heran kalau investor memilih pergi ke tetangga yang lebih ramah. Ingat, investasi bukan judi—ia membutuhkan kepastian dan strategi jangka panjang. Saat ini, negara tetangga tampaknya lebih paham soal ini daripada kita.
© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.