TRIBUNNEWS.COM - Hari Raya Idul Fitri 1446 H atau Lebaran 2025 sudah tiba.
Umat Muslim di seluruh Indonesia telah melaksanakan sholat Idul Fitri pada Senin (31/3/2025) hari ini.
Setelah bulan Ramadhan, terdapat satu ibadah yang baik di bulan Syawal, yakni puasa sunnah Syawal.
Puasa Syawal dapat dilakukan umat Islam selama enam hari berturut-turut setelah tanggal 1 Syawal.
Namun, bolehkah melakukan puasa qadha Ramadhan dan puasa Syawal digabungkan?
Dikutip dari laman MUI, Imam al-Syarqawi (w 1227 H) dalam karyanya Hasyiyah al-Syarqawi berpendapat:
“Bila seseorang berpuasa pada Syawal dengan niat qadha, atau selainnya seperti nadzar atau puasa sunnah lain, orang tersebut tetap mendapatkan pahala puasa sunnah Syawal. Sebab substansi puasa enam hari di bulan Syawal telah dilaksanakan. Tetapi, dia tidak mendapatkan pahalanya dengan sempurna sesuai kriteria yang dituntut (oleh hadits). Bila ingin mendapat pahala puasa Syawal dengan sempurna, harus dilaksanakan dengan niat khusus puasa enam hari Syawal (tidak digabung dengan yang lain)…” (Lihat Hasyiyah al-Syarqawi, juz 1, hlm 474)
Senada dengan pendapat tersebut, al-Ramli (w 1004 H) dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj berpendapat bahwa seseorang melaksanakan puasa qadha pada Syawal, dia tetap mendapatkan pahala sunnah Syawal tetapi tidak mendapatkan pahala yang sempurna.
Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa boleh-boleh saja menggabungkan niat qadha puasa Ramadhan dan sunnah Syawal secara bebarengan.
Namun perlu diingat, bila ingin mendapat pahala puasa Syawal dengan sempurna, maka harus mendahulukan qadha terlebih dahulu lalu dilanjutkan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Terdapat beberapa keutamaan bila menjalankan puasa sunnah di bulan Syawal.
Dikutip dari laman Pemprov Jambi, berikut keutamaan puasa sunnah di bulan Syawal:
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan kemudian diikuti enam hari pada bulan Syawal, maka pahalanya sama dengan puasa satu tahun."
Pernyataan ini sangat menakjubkan dan memberikan harapan akan penghapusan dosa yang kita lakukan sepanjang tahun.
Puasa Syawal adalah ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Beliau sendiri senantiasa melaksanakan puasa ini, kecuali dalam keadaan sakit atau terpaksa.
Ketekunan Rasulullah dalam menjalankan puasa Syawal adalah teladan yang seharusnya kita ikuti.
Puasa Syawal juga dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan.
Penelitian menunjukkan bahwa puasa intermiten, seperti puasa Syawal, dapat meningkatkan kesehatan tubuh dan menurunkan risiko penyakit.
Di tengah kesibukan hidup, memperhatikan kesehatan adalah hal yang tak boleh kita lupakan.
Bagi setiap muslim, menjalankan ibadah tidak pernah berujung pada satu pencapaian.
Puasa Syawal memberikan kesempatan untuk menyempurnakan amal ibadah yang telah dilakukan.
Kesadaran akan kekurangan dalam menjalankan ibadah utama mendorong kita untuk terus berusaha memperbaiki diri.
(Whiesa/Widya)