Korban Tewas Gempa Melonjak Capai 2.000 Orang, Myanmar Umumkan Hari Berkabung Nasional
Bobby Wiratama April 01, 2025 12:31 PM

TRIBUNNEWS.COM – Pemerintah Myanmar mengumumkan masa berkabung nasional selama tujuh hari usai negaranya diguncang gempa berkekuatan 7,7 magnitudo.

Pengumuman itu disampaikan pemerintah Myanmar pada Senin (31/3/2015) waktu setempat.

"Myanmar mengumumkan tujuh hari berkabung nasional atas gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 skala richter yang melanda Myanmar bagian tengah pada hari Jumat," bunyi keterangan media pemerintah Myanmar, MRTV, dilansir Anadolu Agency.

Pasca pengumuman dirilis, bendera nasional akan dikibarkan setengah tiang selama masa berkabung untuk menghormati para korban tewas.

Untuk mempercepat proses evakuasi, Pemimpin junta Myanmar, Min Aung Hlaing, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.

Pembicaraan itu digelar guna membahas dampak bencana dan upaya penyelamatan serta bantuan.

Sementara itu sejumlah negara-negara seperti Rusia, India, China, Thailand, UEA, PBB, dan dilaporkan telah mengirim tim khusus untuk pencarian dan penyelamatan.

Serta memberikan bantuan kemanusiaan di tengah melonjaknya korban jiwa akibat gempa mematikan Myanmar

Korban Tewas Capai 2.000 Jiwa

Menurut laporan terbaru dari Dewan Administrasi Negara Myanmar saat ini jumlah korban tewas akibat gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang melanda Myanmar pada Jumat (28/3/2025) terus bertambah.

Setidaknya 2.056 orang tewas dan lebih dari 3.900 orang terluka, dan hampir 300 orang lainnya masih hilang.

"Lebih dari 2.000 orang kini dipastikan tewas di Myanmar setelah gempa bumi terbesar melanda," bunyi keterangan pemerintah Myanmar.

Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memproyeksi jumlah korban tewas Myanmar dapat melampaui 10.000 orang, lantaran saat ini operasi pencarian dan penyelamatan korban berjalan tidak maksimal.

Pemakaman ratusan korban diperkirakan akan dilaksanakan pada hari ini Selasa (1/4/2025).

Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah telah meluncurkan permohonan darurat pada Minggu untuk mengumpulkan lebih dari 100 juta dollar (setara Rp 1,6 triliun) guna membantu para korban.

Cuaca Panas Hambat Proses Penyelamatan

Selain kekurangan alat berat, Tim penyelamat di Myanmar menghadapi tantangan yang semakin berat dalam upaya mencari korban selamat akibat cuaca panas.

Suhu di Myanmar diperkirakan mencapai 40 derajat Celcius, yang menyebabkan petugas penyelamat kelelahan dan mempercepat pembusukan tubuh korban, sehingga menyulitkan proses identifikasi.

72 jam pertama setelah gempa bumi secara luas dianggap sebagai jendela “emas” untuk menjangkau korban yang terkubur hidup-hidup di bawah reruntuhan.

Akan tetapi setelah periode tersebut, peluang untuk bertahan hidup tanpa sumber air berkurang dengan cepat.

Kejadian tragis terjadi ketika tim penyelamat mengira mereka telah menyelamatkan seorang perempuan hamil yang terperangkap di bawah reruntuhan selama lebih dari 55 jam.

Namun setelah melakukan amputasi pada kakinya untuk mengeluarkannya, perempuan tersebut dinyatakan meninggal dunia.

"Kami mencoba segalanya untuk menyelamatkannya," kata salah satu petugas medis, menambahkan bahwa perempuan itu telah kehilangan terlalu banyak darah akibat amputasi, seperti yang dilaporkan oleh AFP.

(Tribunnews/Namira)

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.