Tarif Timbal Balik Trump Diprediksi Akan Memicu Lonjakan Pengangguran di Indonesia
Acos Abdul Qodir April 05, 2025 06:32 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemberlakuan tarif timbal balik impor sebesar 32 persen yang diterapkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap Indonesia diprediksi berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, terutama sektor non-migas. 

Beberapa sektor yang selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia ke AS akan terhantam, termasuk manufaktur, tekstil, perkebunan, pertanian, dan perikanan.

Ekonom dari Universitas Kristen Atma Jaya Jakarta, Rosdiana Sijabat, mengatakan Amerika Serikat telah lama menjadi salah satu mitra dagang utama Indonesia, bersama dengan China dan India. 

Sebelumnya, ekspor Indonesia ke AS didominasi oleh produk non-migas, yang berkontribusi sekitar 11 persen terhadap total ekspor Indonesia.

Namun, dengan diberlakukannya tarif timbal balik, sektor-sektor tersebut akan mengalami tekanan berat.

"Yang diberlakukan AS kepada Indonesia tentunya kita tahu bakal berdampak kepada perekonomian Indonesia. AS jadi mitra dagang utama Indonesia selain China dan India," ujar Rosdiana kepada Tribunnews pada Sabtu (5/4/2025).

Rosdiana mengungkapkan bahwa sektor-sektor yang paling terpengaruh antara lain industri manufaktur, industri padat karya seperti tekstil, serta sektor perkebunan, pertanian, dan perikanan. Bahkan, sebelum tarif ini diterapkan, Indonesia sudah kesulitan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar lima persen.

"Sebelum ada pemberlakuan tarif timbal balik saja pertumbuhan ekonomi Indonesia saja susah mencapai target 5 persen. Apalagi, ini ada tarif timbal balik," kata Rosdiana.

Lebih lanjut, Rosdiana memprediksi bahwa lonjakan angka pengangguran akan menjadi salah satu dampak terbesar dari kebijakan ini.

Banyak sektor industri yang bergantung pada ekspor, terutama manufaktur dan padat karya, berisiko mengalami penurunan tajam, yang pada gilirannya akan mempengaruhi lapangan kerja.

"Angka pengangguran kita pasti bakal naik lagi. Kita tahu beberapa waktu lalu banyak pabrik tekstil tutup. Dan sekarang kondisinya makin tidak mudah dengan adanya tarif timbal balik," kata Rosdiana.

 

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.