Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi pertanian Khudori menilai pemulihan kepercayaan pelaku usaha di industri perberasan adalah langkah mendesak untuk mengatasi kelangkaan pasokan beras di pasaran.

Khudori, yang juga Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), berpendapat bahwa cara-cara intimidatif, seperti larangan membeli gabah petani di atas Rp6.500 per kilogram (kg), telah menciptakan aura ketakutan yang tidak kondusif bagi pelaku usaha beras.

“Pemulihan diperlukan agar semua pihak bisa bergotong royong kembali mengisi pasar beras yang kering pasokan,” katanya dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.

Khudori mengatakan saat ini industri perberasan dihantui oleh rasa takut, membuat para pelaku usaha enggan beroperasi maksimal. Akibatnya, pasar yang seharusnya diisi oleh berbagai pihak kini menjadi kering.

Ia mengingatkan bahwa Bulog tidak akan mampu memulihkan pasar sendirian jika situasi memburuk.

Menurut dia, jika pelaku usaha terus berhenti beroperasi karena takut dan pasokan beras kian menipis, warga bisa panik.

Oleh karena itu, langkah-langkah pemulihan harus segera diambil sebelum situasi memburuk. Dengan memulihkan kepercayaan, diharapkan semua pihak dapat bekerja sama untuk menjamin ketersediaan beras dan menjaga stabilitas nasional.

Pada bulan lalu, masyarakat sempat dihebohkan dengan kasus beras oplosan. Setelah melakukan sidak dan investigasi, Satgas Pangan bersama Kementerian Pertanian menemukan 212 merek beras yang diduga merupakan oplosan, yaitu campuran antara beras medium dan premium.

Akibat temuan tersebut, sebagian produsen memutuskan untuk menarik stok beras premium dari peredaran, yang menyebabkan kelangkaan di ritel.

Satgas Pangan Polri juga menemukan bahwa produsen dan distributor menahan pasokan, khawatir akan berurusan dengan hukum terkait pelanggaran mutu kemasan.