Dari sebuah kabupaten di Kalimantan Selatan (Kalsel), Balangan, keberadaan dr Ferry MM Rs tak hanya dikenal sebagai pencinta buku tapi juga menjadi salah satu representasi dedikasi tanpa batas bagi atlet disabilitas Indonesia.
Dengan pengalaman yang luas dan kecintaannya pada ilmu pengetahuan, dr Ferry menjadi bukti bahwa pengabdian bisa berakar di daerah namun menjangkau dunia dengan Balangan sebagai titik awalnya.
Sejak remaja, Ferry sudah dekat dengan dunia olahraga. Ia rajin membaca tabloid seperti Bola dan Tribun Olahraga, serta mengikuti siaran olahraga radio. Itulah yang mendasarinya kemudian terjun mendampingi atlet.
Pria kelahiran Lampung, 19 Agustus 1971 ini minat bacanya tumbuh sejak SD di Tanjungkarang, Bandar Lampung.
Masa kecil dr Ferry diwarnai komik legendaris seperti Si Buta dari Gua Hantu, Jaka Sembung, Tarzan, Batman & Robin versi cerita bergambar.
Masa SMP dan SMA diwarnai bacaan Lima Sekawan (Enid Blyton), Trio Detektif (Alfred Hitchcock), serta karya sastra Indonesia seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (Buya Hamka), Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), dan Lupus (Hilman Hariwijaya).
Ferry juga menggemari cerita silat klasik karya Kho Ping Hoo dan autobiografi tokoh-tokoh terkenal.
“Dulu media terbatas, siaran olahraga hanya lewat radio atau TVRI. Buku adalah jendela utama pengetahuan,” kenangnya.
Sekarang aktifitas membaca bisa ia lakukan kapan pun saat ada kesempatan, baik si sela berkiprah di ajang-ajang internasional bersama NPC Indonesia, juga saat membina di Kabupaten Balangan.
Dengan banyak membaca, ia melengkapi ilmu kedokterannya dengan berbagai pengetahuan membina dan memantau kesehatan atlet-atlet disabilitas yang dipersiapkan menghadapi ajang regional maupun nasional, termasuk Peparprov.
Selain dikenal sebagai dokter tim andalan Komite Paralimpiade Nasional Indonesia (NPCI), juga pengabdi setia di Kabupaten Balangan yang selalu siap siaga mendampingi para atlet, baik di arena lokal maupun ajang internasional.
Sebagai tenaga medis sekaligus pengurus cabang olahraga, Wakil Ketua NPC Balangan ini sudah menjadi saksi perjalanan para atlet disabilitas daerah hingga berkompetisi di level nasional.
Dokter lulusan FK UKI Jakarta ini tidak hanya memantau kesehatan fisik, tetapi juga memberi motivasi agar mereka percaya diri dan mampu bersaing.
“Saya ingin lewat NPC ini bisa mengangkat derajat dan finansial teman-teman disabilitas, khususnya di Balangan,” ujar ayah dari Rachel Stefanie dan Suzana Eflyn tersebut.
Rekam jejaknya di dunia olahraga internasional pun mengagumkan: ASEAN Paragames Myanmar 2013, ASEAN Paragames Singapura 2015, Kejuaraan Dunia Boccia di Dubai (UEA) 2016, ASEAN Paragames Kuala Lumpur 2017, Kejuaraan Dunia Paracycling di Maniago (Italia) 2018, hingga World Parashooting di Lima (Peru) 2021.
“Kalau dihitung-hitung, mungkin sudah 20 kali saya mendampingi atlet ke luar negeri. Sudah tidak ingat pastinya,” sebut suami dari dr Rachel Stefanie ini sambil tersenyum.
Ferry juga dikenal akrab dengan para atlet dan keluarganya. Ia sering menjadi tempat curhat, bahkan di luar urusan kesehatan.
“Kami bukan hanya tim medis dan atlet, tapi sudah seperti keluarga,” kata Ferry.
Koleksi buku dr Ferry sempat memenuhi hampir satu lemari besar, sebelum ia sumbangkan ke panti asuhan menjelang kuliah pada awal 1990-an.
Meski demikian, ia tak kehabisan stok buku, di sela tugasnya mendampingi atlet, ia tetap membawa kebiasaan membaca itu ke panggung internasional.
Setiap kali bertugas ke luar negeri, PNS Dinkes Balangan ini selalu menyempatkan diri mengunjungi museum atau perpustakaan berburu membaca buku sejarah setempat.
“Kalau ada waktu, saya pasti mampir. Melihat langsung sejarah dan budaya itu memberi sensasi tersendiri,” ucapnya.
Kini, dari Balangan hingga ke panggung dunia, Ferry tetap membawa dua hal yang ia cintai pengabdian pada atlet dan rasa haus akan ilmu. (Salmah saurin)