Maskot Si Pongi dan Senyum Anak-anak di Tengah Kampanye Cegah Karhutla di Banjarmasin
Ratino Taufik November 30, 2025 05:33 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Minggu pagi Kota Banjarmasin terasa berbeda, tengah riuhnya akhir pekan, sebuah sudut dipenuhi tawa anak-anak yang berfoto bersama orangutan berbulu cokelat bernama Si Pongi, Minggu pagi (30/11/2025).

Bukan orangutan sungguhan, melainkan maskot Kementerian Kehutanan RI yang hadir untuk mengingatkan masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan.

Di atas meja booth, terpajang dokumen serius, yaitu Inpres RI No. 3 Tahun 2020 tentang penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, serta Fatwa MUI No. 30 Tahun 2016 yang menegaskan hukum membakar hutan.

Suasana tidak kaku. Balon warna-warni bertuliskan ajakan “Jaga Hutan” dibagikan kepada anak-anak, buku bacaan untuk anak tentang hutan tersedia, dan Si Pongi menjadi magnet yang membuat pesan berat terasa ringan.

“Untuk hutan ya mungkin harus diadakan rehabilitasi. Kita tahu di Kalimantan Selatan hutan lumayan rusak. Jadi perlu penanaman kembali supaya lebih asri,” ujar Lisa Andrianti, warga Kintap yang datang bersama keluarga, tersenyum sambil menggenggam balon untuk anaknya.

Kampanye yang telah berlangsung sejak Jumat (28/11/2025) ini bukan sekadar acara, pengunjung melihatnya sebagai harapan agar anak-anak tumbuh dengan kesadaran menjaga alam.

“Bagus sekali, supaya ada sosialisasi ke masyarakat untuk lebih bisa menjaga hutan Kalimantan,” tambah Lisa.

Kegiatan ini dirancang agar masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga merasakan kedekatan dengan isu lingkungan.

“Kami ajak dengan cara persuasi, membagikan merchandise dengan pesan kampanye, dan menghadirkan maskot Sipongi agar lebih mengena ke generasi muda,” jelas Egar Mejupan, S.Hut., M.IL., Ketua Tim Kerja Publikasi Kampanye Pencegahan Kebakaran Hutan, Ditrektorat Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut RI.

Tak hanya edukasi, pengunjung juga diajak memberi kritik dan saran. Hingga hari ketiga, tercatat 378 pengunjung memberikan feedback. 95 persen di antaranya menolak keras praktik membakar hutan dan berharap Kalimantan Selatan tetap bebas asap, sedang sisanya tidak memberikan jawaban namun tetap memberikan komentar, kiritik dan saran untuk Kemenhut RI.

Kebakaran hutan bukan sekadar kabar yang teraiar di televisi, Radio, maupun Media Cetak. dampaknya nyata untuk lingkungan, kesehatan, ekonomi, juga hubungan luar negeri.

"Lingkungan: hilangnya keanekaragaman hayati, rusaknya habitat satwa, Kesehatan: asap mengganggu pernapasan, terutama anak-anak dan lansia, Ekonomi: kerugian besar akibat lahan produktif yang musnah, Politik: kabut asap lintas batas bisa merusak hubungan antarnegara," terang Egar Mejupan, S.Hut., M.IL., Ketua Tim Kerja Publikasi Kampanye Pencegahan Kebakaran Hutan.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut RI, Thomas Nifinluri, mengingatkan bahwa Indonesia sudah berkali-kali menghadapi bencana karhutla besar, terutama saat El-Nino 2015, 2019, dan 2023. Namun kini, paradigma berubah, pencegahan menjadi prioritas.

Data menunjukkan hasilnya. Hingga Oktober 2025, luas areal terbakar di Indonesia turun drastis menjadi 343 ribu hektare, jauh lebih kecil dibanding 1,1 juta hektare pada 2019.

"Di Kalimantan Selatan, penurunan lebih terasa, dari 137.848 hektare pada 2019 menjadi hanya 11.293 hektare di 2025. Bahkan, pada November 2025, tidak ada hotspot terpantau," ujar Thomas Nifinluri, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut RI.

Di tengah angka-angka itu, yang paling berkesan justru senyum anak-anak yang pulang membawa balon dan kipas bertuliskan “Jaga Hutan”. Mereka mungkin belum memahami sepenuhnya isi Inpres atau Fatwa MUI, tetapi lewat Si Pongi, pesan sederhana itu mudah ditangkap, bahwa hutan adalah rumah bersama, dan menjaganya adalah tugas semua generasi. (Banjarmasinpost.co.id/Saifurrahman)

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.