Ekosistem Kampus Hingga Kota Impian
December 20, 2025 08:22 PM

Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir

Founder Anak Makassar Voice

TRIBUN-TIMUR.COM - Dunia berjalan begitu cepat dan sangat kompleks. Ketika hanya berdiam dan berleha-leha di rumah, tidak bekerja maka akan terasa sangat jenuh dan membosankan.

Tapi, dari sinilah refleksi dan perenungan yang dalam dimulai, kita akan melihat dunia dengan makin jernih. 

Coba bayangkan dalam sehari kita tidak berpikir untuk bekerja atau menghasilkan uang sementara kebutuhan pokok dan harga-harga makin mahal.

Ujungnya akan membuat kita mengalami kesulitan hidup. Bahwa benar dalam situasi ini kita akan berpikir bahwa uang adalah penentu utama suatu kebahagiaan.

Lalu timbul pertanyaan lain, apakah tidak ada cara lain untuk memperoleh kehidupan yang tenang, membahagiakan di tengah cengkeraman materialisme?

Jawabannya tentu ada, olehnya itu kita mesti pandai-pandai beradaptasi agar hidup terus berjalan dengan cara yang baik dan benar.

Pada ranah publik timbul pembagian kerja ada sektor perusahaan, informal hingga skala rumahan.

Makin membuat situasi terasa kompleks, karena nyatanya yang dianggap bisa berpenghasilan standar ketika memiliki pekerjaan di sebuah perusahaan. Bukankah ini bentuk pengekangan hidup?

Alih-alih sejahtera, orang-orang hari ini sulit mendapat sebuah pekerjaan yang layak, karena lapangan pekerjaan juga tidak tersedia, industri rumahan dan manufaktur tidak berjalan baik. Ekosistem ini belum terbangun.

Olehnya itu diperlukan keterampilan khusus, kemampuan mendayagunakan teknologi dan seterusnya menuntut semua orang untuk lebih bekerja keras lagi membentuk diri agar bisa terserap di dunia kerja.

Kehadiran AI dan Robotik adalah fenomena hari ini selain sebagai penanda kemajuan juga sebagai tantangan baru agar orang-orang memiliki kemampuan inovasi, kreativitas dan pemikiran kritis untuk bisa ikut mengambil bagian dalam hidup hari ini.

Dengan pembagian kerja ini maka hal-hal yang patut diukur dengan uang adalah sebuah fakta yang tidak bisa ditolak lagi.

Hanya yang memiliki kerjaan resmi yang dapat hidup layak dan bahagia.

Di luar dari itu semua selebihnya tidak berharga. Lihat misalnya seorang Ibu rumah tangga yang menghabiskan waktunya di rumah membesarkan seorang anak bayi.

Mirisnya, hal ini tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan, padahal dalam ukuran kapitalisme waktu adalah uang yang harus dibayarkan. Lalu kenapa menjaga bayi tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan?

Olehnya itu, negara mesti hadir memberi subsidi sebagai hal penting dalam perlindungan manusia, penjaminan dan dalam upaya mewujudkan generasi yang baik di masa mendatang.

Dalam hal ini negara tidak boleh apatis dan harus menganggap bahwa semua sektor kehidupan patut diberi rasa aman dan dihargai.

Ilmu Pengetahuan di era Materialisme 

Faktanya ilmu pengetahuan di era materialisme makin tergerus dan mengalami penurunan. Para pemikir, budayawan, seniman dan seterusnya memiliki tantangan dan hambatan besar.

Kita mesti bertahan dan terus berbuat, yakin dan terus berkontribusi. Meski kadang-kadang pemikiran dan karya tidak mendapat penghargaan yang layak dan penghormatan setinggi-tingginya di tengah masyarakat.

Tapi, kita mesti sadar bahwa kita sedang memberi kontribusi yang baik dan ikut membangun keagungan, kejayaan dan kebesaran pada republik ini di masa yang akan datang.

Dilemanya hari-hari ini adalah ketika ilmu pengetahuan dibenturkan dengan uang, maka sudah tentu uanglah yang menjadi pemenangnya.

Kita lihat contoh sederhana praktek prostitusi justru banyak terjadi dilingkungan pendidikan, lebih khusus lagi lingkungan kampus.

Dengan gaya hidup yang makin mahal, standar yang makin tinggi, para perempuan kadang-kadang rela dan berpikir instan untuk memperjual belikan tubuhnya demi memenuhi kebutuhan dan keinginannya yang tidak terbatas, sungguh ironis.

Selain miris fenomena ini sekaligus menjadi penanda bahwa pendidikan tidak menjamin seseorang memiliki karakter yang kuat apabila diperhadapkan dengan uang.

Oleh sebab itu di tengah arus dan godaan materialisme ini kita tentu makin terpenjara. Hal paling sederhananya setiap orang lebih mementingkan gaya hidup ketimbang isi kepala.

Alih-alih berpikir, keinginan untuk membaca buku dikalahkan dengan keinginan untuk melabeli diri dengan fashion standar, pemenuhan skincare yang standar hingga berlomba-lomba mengesankan diri di media sosial sebagai kalangan menengah atas dengan gaya hidup mentereng.

Padahal sumber pendapatannya semata-mata hanya dengan menjual diri dan harga dirinya. Maka, di mana makna dan kehormatan manusia sekarang di hadapan materialisme?

Bahwa standar kebahagiaan hanya diukur dengan banyaknya uang.

Dalam situasi ini tentu yang hanya memiliki prinsip dan karakter kuatlah yang mampu melampauinya. Dan semua ini bisa diwujudkan melalui pendidikan karakter kita di lingkungan kampus.

Kampus Menjadi Rumah Aman

Seharusnya di tengah situasi yang makin kronis ini kampus menjadi rumah aman dan nyaman untuk kembali, sejenak menyandarkan diri tanpa intervensi, yakni kembali ke rumah sendiri dan menemukan diri.

Tapi, yang terjadi malah sebaliknya kampus juga menjelma menjadi ruang kapitalis yang makin rakus. Hal itu terbukti dengan makin mahalnya biaya pendidikan.

Sehingga, yang bisa mengakses hanyalah kalangan menengah ke atas sedangkan menengah ke bawah dia harus menghadapi banyak tantangan hanya untuk melanjutkan sebuah pendidikan.

Alih-alih berlanjut, kebanyakan berhenti di tengah jalan sebab ketaksanggupan membayar biaya pendidikan dan pada akhirnya lahirlah pengangguran baru.

Kampus mesti menyadari bahwa suasana ini tidak boleh dibiarkan. Selain sebagai ruang transfer ilmu kampus mesti menjadi ruang penguatan karakter, mengokohkan pikiran dan prinsip-prinsip yang ideal.

Guna agar mampu melampaui masa-masa sulit ini. Karena, jika tidak kita semua akan terlahir menjadi budak-budak kapitalisme yang menuhankan uang ketimbang nilai-nilai luhur.

Akhirnya, kita akan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, harga diri dan keunggulan di atas segala-galanya.

Sehingga, semua kalangan mulai dosen hingga mahasiswa, pegawai dan seterusnya mesti membangun impian baru bahwa kampus mesti melahirkan mahasiswa-mahasiswa yang memiliki karakter kuat berbasis nilai-nilai lokal.

Selain menjawab tantangan zaman ini juga akan menjadi bentuk pengukuhan identitas kita. Olehnya itu penting kembali membangun kelompok-kelompok bacaan buku, intensitas, kolaborasi yang berujung pada masyarakat ilmu yang memiliki karakter kuat.

Peran Kota Dalam Membangun Masyarakat Ilmu

Kota juga memang sudah menjelma menjadi kota yang kapitalistik, penuh pertarungan dan saling sikut. Olehnya itu, tercipta ketimpangan, kemiskinan yang tak sudah-sudah.

Sebab, pemerintah sendiri senang mengeluarkan kebijakan dan program yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi hal mana sangat jauh dari program kesejahteraan dan penyelesaian masalah-masalah dasar.

Meski sangat kapitalistik, kota mesti memiliki space. Ruang kosong, ruang setara di mana di dalamnya berfokus pada peningkatan dan pengembangan nilai-nilai luhur.

Kota mesti menyadari ini di tengah arus dan kungkungan kapitalisme. Kota mesti kembali pada akar budaya, pengukuhan nilai-nilai agung yang harapnya bakal menjadi sebuah benteng yang kokoh.

Karena, kalau tidak maka patut dikatakan bahwa pemerintah kota tak mampu menjaga harga diri dan rasa aman  masyarakatnya. Di mana tubuh sekalipun bisa dinilai dengan uang.

Olehnya itu, kota mesti hadir memberi ruang aman. Berupa ruang ekspresi, ruang bebas berkarya dan mencipta, ruang kesenian, panggung ekspresi, taman kota yang representatif dan seterusnya agar masyarakat kota dan masyarakat kampus memiliki alternatif untuk mengisi waktu luangnya dan sekaligus ruang bagi para mahasiswa, kaum muda, kaum pemikir, seniman dan budayawan untuk mencipta dan berkarya. 

Tentu, ini juga akan menjadi tolak ukur kemajuan suatu kota. Dan ketika ekosistem ini mampu terwujud.

Maka, kesadaran bahwa uang rupanya bukan penentu kebahagiaan utama. Ketika kampus dapat menjalankan fungsinya sebagai media pendidikan dan pembentukan karakter dan kota hadir memberi ruang aman, nyaman, adil dan setara.

Sehingga, akan lahir kesadaran bahwa masyarakat dapat hidup bahagia dengan nilai-nilai luhur yang akan mencipta kebermaknaan hidup yang lebih dalam dan abadi.

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.