TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA — Arus balik libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) melalui Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya diperkirakan mencapai puncaknya pada H+3 atau 4 Januari 2026.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, I Made Darmawan mengatakan, prediksi tersebut berdasarkan data yang dihimpun dari seluruh maskapai yang beroperasi di Palangka Raya.
“Untuk arus balik, puncaknya kami perkirakan terjadi di H+3, yaitu tanggal 4 Januari 2026. Ini sesuai dengan data yang kami peroleh dari teman-teman maskapai,” ujar I Made Darmawan kepada TribunKalteng.com, Jumat (2/1/2026).
Baca juga: Bandara Tjilik Riwut Kalteng Tambah Rute Surabaya Nataru 2025 , Rute Jakarta Menyusul Maret 2026
Berdasarkan prognosa yang ada, jumlah penumpang pada puncak arus balik diperkirakan mencapai 3.578 orang.
Angka tersebut bukan merupakan target, melainkan hasil perhitungan berdasarkan data penjualan tiket maskapai.
“Ini bukan target ya, tapi prognosa. Data ini kami terima dari masing-masing maskapai yang beroperasi di Palangka Raya,” jelasnya.
Ia menyebutkan, seluruh maskapai seperti Batik Air, Lion Air, Citilink, hingga Garuda Indonesia telah melakukan penjualan tiket jauh hari sebelum periode arus balik.
Bahkan, sebagian penumpang sudah membeli tiket sejak satu bulan sebelumnya.
“Dari hasil komunikasi kami dengan penumpang yang meninggalkan Palangka Raya, ada yang sudah membeli tiket satu bulan sebelum keberangkatan. Artinya masyarakat benar-benar sudah mempersiapkan perjalanannya,” katanya.
Menurut I Made Darmawan, kebiasaan membeli tiket lebih awal dilakukan masyarakat untuk menghindari lonjakan harga tiket yang biasanya terjadi saat pembelian mendekati hari keberangkatan.
“Kalau membeli tiket last minute, harganya biasanya melonjak. Jadi masyarakat sekarang sudah lebih siap,” ujarnya.
Selain memprediksi lonjakan penumpang, pihak bandara juga mengimbau masyarakat agar lebih memperhatikan aspek keamanan dan kesehatan selama perjalanan udara pada masa arus balik.
Ia mengingatkan penumpang agar tidak menyimpan barang-barang berharga di dalam koper bagasi yang akan dimasukkan ke bagasi pesawat.
“Barang berharga sebaiknya dibawa di tas kabin. Kami tidak tahu apa yang bisa terjadi setelah koper diserahkan ke pengangkut. Di beberapa bandara lain sudah ada kejadian barang hilang, dan itu sulit ditelusuri,” tegasnya.
Selain itu, penumpang juga diminta menjaga kondisi kesehatan dan stamina, terutama bagi yang harus melakukan perjalanan dengan waktu tempuh panjang dan transit di bandara lain.
“Kalau misalnya ke Lombok harus transit di Surabaya atau Jakarta, itu membutuhkan waktu cukup lama. Jadi kesehatan dan stamina harus benar-benar dijaga agar sampai tujuan tetap sehat dan bisa berkumpul dengan keluarga,” pungkasnya.