TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Chelsea resmi memecat pelatih Enzo Maresca tepat pada hari pertama tahun baru, Kamis (1/1/2026).
Keputusan ini diambil manajemen menyusul rangkaian hasil buruk yang membuat posisi pelatih asal Italia tersebut tidak lagi aman di Stamford Bridge.
"Chelsea Football Club dan pelatih kepala Enzo Maresca telah berpisah,” demikian pernyataan Chelsea.
Meski baru menjabat selama satu setengah musim, Maresca dianggap gagal menjaga konsistensi tim.
Perubahan kursi kepelatihan dinilai sebagai solusi terbaik demi menjaga peluang The Blues bersaing di empat kompetisi besar, termasuk perburuan tiket Liga Champions.
“Enzo dan klub percaya bahwa perubahan ini memberi tim peluang terbaik untuk mengembalikan performa mereka di musim ini,” lanjut pernyataan Chelsea.
Baca juga: Sikat Persela 2-0, Persipura Jayapura Persembahkan Kado Natal dari Stadion Lukas Enembe
Manajemen Chelsea tidak menyebut siapa yang akan memegang kendali ruang ganti saat Cole Palmer dan kawan-kawan menjalani laga Liga Inggris menghadapi Manchester City, 5 Januari 2025.
Pemicu utama keretakan hubungan ini memuncak saat Chelsea ditahan imbang 2-2 oleh Bournemouth, Rabu (31/12/2025).
Keputusan Maresca menarik keluar Cole Palmer, yang mencetak gol penyeimbang lewat penalti pada menit ke-63 memicu kemarahan publik Stamford Bridge.
Pergantian yang dianggap janggal tersebut membuat lini serang Chelsea kehilangan taji di sisa laga, hingga akhirnya sorakan cemoohan dari pendukung sendiri menggema saat peluit panjang dibunyikan.
Akan tetapi, keputusan janggal mantan asisten Pep Guardiola tersebut membuat Chelsea gagal memaksimalkan peluang.
Palmer berandil besar dalam serangan Chelsea dengan mencetak gol penyama kedudukan melalui titik penalti setelah kebobolan lewat gol David Brooks.
Tuan rumah berbalik unggul melalui gol yang dicetak Enzo Fernandez, tetapi Justin Kluivert berhasil menyamakan kedudukan.
Ditarik keluarnya Palmer membuat serangan Chelsea pada babak kedua melempem.
Akibatnya, mereka gagal mencetak gol kemenangan sehingga laga berakhir imbang, 2-2.
Pendukung tuan rumah dengan jelas menyampaikan rasa frustrasi mereka terhadap keputusan Maresca untuk mengganti Palmer. Mereka mencemooh keputusan yang berakibat fatal tersebut.
Nasib Maresca bahkan bisa lebih buruk seandainya Enes Unal tidak membuang peluang emas untuk membawa Bournemouth unggul. Hasil tersebut membuat posisinya kian terdesak.
Jika hasil tidak membaik pada Januari, kemungkinan besar ia tidak akan bertahan di Stamford Bridge. Pemilik Chelsea termasuk ”brutal” soal urusan ganti-mengganti pelatih.
Mauricio Pochettino adalah salah satu pelatih yang mengalaminya. Ia dianggap sukses mengangkat performa Chelsea.
Namun, manajemen klub tetap memecatnya untuk digantikan dengan Maresca.
Hasil buruk pada beberapa pertandingan terakhir membuat Chelsea terpuruk ke posisi kelima, tertinggal 15 poin dari Arsenal di puncak klasemen.
Palmer dan kawan-kawan hanya mampu memetik satu kemenangan dari tujuh laga terakhir.
Posisi mereka lebih dekat ke peringkat ke-15 (7 poin) dibandingkan ke posisi ketiga (9 poin).
Padahal, hanya sebulan lalu, Chelsea berada dalam posisi kuat untuk menjadi salah satu penantang gelar Liga Inggris bersama Arsenal dan Manchester City.
Pada November, ”Si Biru” berada di posisi ketiga klasemen dan menghancurkan Barcelona pada laga Liga Champions di Stamford Bridge.
Akan tetapi, gelembung kesuksesan tersebut meletus pada Desember, dengan hanya mencatatkan satu kemenangan di Liga Primer.
Akan tetapi, bukan hanya soal hasil buruk yang membuat nasib Maresca kian terdesak.
Namun, terjadinya keretakan antara Maresca dan figur jajaran manajemen klub pun terungkap.
Seusai laga yang menjadi satu-satunya kemenangan Chelsea bulan lalu itu, ia berkomentar bahwa ”banyak orang” di klub yang menyebabkannya mengalami ”48 jam terburuk” sepanjang menangani Chelsea.
Komentar itu membuat posisinya yang sebelumnya cukup kuat di hadapan manajemen setelah torehan tiga poin menjadi berbalik, terutama oleh pihak-pihak yang menjadi sasaran komentarnya.
Pihak manajemen Chelsea belum mengeluarkan pernyataan mengenai nasib Maresca.
Bisa saja ia akan tetap dipertahankan hingga akhir musim sebelum diputuskan untuk mempertahankannya atau tidak.
Maresca akan menghadapi masa sulit untuk mengamankan posisinya karena jadwal Chelsea yang kurang bersahabat.
Mereka harus bertandang ke Manchester City tanpa diperkuat gelandang Moises Caicedo yang terkena sanksi, untuk memulai bulan sulit yang mencakup pertandingan melawan Arsenal dan Napoli.
Baca juga: Eks Penyerang Chelsea Beri Pesan Menohok kepada Timnas Jerman di Piala Dunia 2022
Manajemen Chelsea sebenarnya memandang Maresca sebagai sosok yang bisa mengembalikan kejayaan klub yang tengah terpuruk dalam beberapa tahun terakhir itu. Musim pertamanya terasa menjanjikan.
Maresca membawa kembali Chelsea ke zona Liga Champions pada akhir musim lalu sekaligus trofi Piala Liga Konferensi.
Prestasi besar sepertinya tinggal menunggu waktu ketika ia berhasil membawa Chelsea menjadi juara Piala Dunia Antarklub format baru.
Secara mengejutkan, Chelsea mengalahkan juara Liga Champions, PSG, pada babak final.
Didukung dengan pembelian pemain muda berbakat dari berbagai penjuru dunia, mantan pelatih Leicester City ini pun memiliki skuad muda yang potensial.
Hanya, setelah awal yang menjanjikan, Maresca justru mengalami krisis.
Dalam sejarahnya, Chelsea memang selalu tampil buruk pada Desember. Pada tujuh musim terakhir, dari 120 poin yang tersedia pada Desember, mereka hanya mampu mengumpulkan 62 poin.
Musim lalu, mereka juga tampil buruk pada Desember, dengan dua kemenangan saja dari pertengahan Desember hingga pekan terakhir Februari.
Catatan Redaksi: Tulisan ini diperbarui dengan keputusan terakhir Chelsea yang mengakhiri kontrak pelatih Enzo Maresca. (*)