TRIBUNMANADO.CO.ID - Proses pelepasan jenazah Anthonieta Evia Maria Mangolo, mahasiswa Universitas Negeri Manado (Unima) yang meninggal tak wajar, berlangsung penuh tangis, Jumat (2/1/2026).
Jenazah dilepas dari rumah persemayaman di Perumahan CBA Gold, Mapanget, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut).
Tangis sudah dimulai saat lagu pembuka dalam ibadah dikumandangkan.
"Di rumah yang tempat yang senang, di mana tiada lagi perang, sabar Tuhan Allah sertamu," ratusan orang menyanyikannya dengan penuh haru, banyak pelayat yang meneteskan air mata.
Puncaknya adalah saat peti jenazah hendak ditutup dan pelayat dipersilahkan melihat jenazah korban untuk terakhir kalinya.
Air mata tumpah.
Tangis terdengar sahut-menyahut.
Ibadah diawali dengan puji-pujian.
Disusul khotbah.
Dalam khotbahnya, pendeta menghibur keluarga yang ditinggalkan.
Ia mengatakan apa yang terjadi adalah rencana Tuhan dan semua rencana Tuhan adalah baik adanya.
Jenazah Evia kemudian dibawa ke Pelabuhan Manado untuk selanjutnya dibawa ke Nusa Utara.
Kisah Ayah Evia Maria Mangolo Kerja Keras Demi Anak: Api Sudah Padam
Cahaya sudah lenyap dari wajah Antonius Mangolo, semenjak sang anak Anthonieta Evia Maria Mangolo, meninggal dalam keadaan tak wajar di tempat kosnya di Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut).
Pria ini dikenal punya semangat kerja yang sangat tinggi.
Ia berprofesi sebagai buruh bagasi.
Tanpa lelah ia berjerih, demi asa bahwa suatu hari putri mereka dapat hidup layak dan mengangkat kehidupan mereka.
"Tapi saat ini api itu sudah padam, inilah perasaan kami," katanya sambil meneteskan air mata kepada Tribun Manado, Jumat (2/1/2026) di rumah persemayaman di Perumahan CBA Gold Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Sulut.
Antonius coba tegar.
Ia seperti hendak membesarkan hati sang istri yang terlihat terpukul.
Namun, saat itu, ia tak sanggup menahan tangisnya.
Pertahanannya jebol.
Antonius mengaku hanya orang kecil.
Tapi ia paham betul arti pendidikan.
Dirinya ingin sang anak menikmati pendidikan.
"Saya bekerja keras agar anak saya dapat jadi orang terdidik," katanya.
Ia berharap, dengan pendidikan tinggi, Evia bisa mengubah hidup mereka.
Namun ironisnya, dunia pendidikan juga yang telah merenggut anaknya.
"Ini terjadi di dunia pendidikan," katanya.
Ia meminta pihak kepolisian agar dapat mengusut tuntas kematian sang anak.
Dirinya mempercayakan penanganan kasus kematian anaknya pada aparat kepolisian.
"Saya minta pada pak Kapolda," katanya.
Ibu dan Guru SMP Kenang Evia Maria Mangolo
Dua wanita ini berpelukan dengan penuh kesedihan di samping peti jenazah keluarga Antoineta Evia Maria Mangolo, Jumat (2/1/2026) di Perum CBA Gold Mapanget, Minut, Jumat (2/1/2026).
Evia adalah mahasiswa Universitas Negeri Manado (Unima) yang meninggal tak wajar di tempat kos di Tomohon, Sulut.
Seorang wanita adalah Sofia Lontolawa, ibunda dari Evia Maria Mangolo.
Seorang lagi adalah guru SMP Evia.
Dari pelukan yang penuh duka itu, ia melangkah ke tragedi; sang murid yang terbaring kaku di peti jenazah.
Menangis lantas mengenang masa-masa indah bersama sang murid teladan, menangis lagi, mengingat lagi.
Sofia mengatakan, Evia memang disayangi para gurunya.
"Dia dengar-dengaran (penurut), baik, penurut dan pintar, setiap saya ketemu gurunya, semua menanyakan kabarnya," kata dia.
Di mata sang ibu, Evia bukan hanya bintang kelas, tapi bintang di rumah.
Ia ingat, Evia selalu bangun pagi.
"Ia ingin cepat-cepat ke sekolah, dia juga sangat rajin belajar," kata dia.
Dia mengakui Evia sosok pendiam.
Tapi di balik itu punya kemauan besar untuk maju.
"Evia sangat ingin maju dan berhasil untuk nantinya menjadi tumpuan hidup kami," katanya.
Sebut dia, sikap hidup Evia menular ke adiknya.
Sang adik belajar keras untuk sukses dan berharap dapat membahagiakan orang tuanya.
"Adiknya belajar giat, ingin dapat nilai tinggi," katanya.
Tak hanya rajin belajar belajar.
Evia juga sosok religius.
Sang anak kerap mengingatkan mamanya untuk beribadah atau Rosario.
"Ia kerap telepon saya, ingatkan jadwal ibadah," kata dia.
Ia menuturkan, Evia dan pacarnya sudah memutuskan untuk tunangan setelah wisuda.
Kuasa hukum keluarga, Cyprus Tatali mengungkapkan, Evia anak berprestasi.
"Nilainya 4 koma, seluruhnya A, hanya satu yang B," katanya.
(TribunManado.co.id/Art)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK