BPBD Purbalingga Catat 97 Kejadian Bencana Sepanjang 2025, Kerugian Capai Rp 4,74 Miliar
January 02, 2026 08:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA – Sepanjang tahun 2025, wilayah Kabupaten Purbalingga seolah tak pernah tidur nyenyak dari ancaman bencana alam.

Berdasarkan "rapor" akhir tahun yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, tercatat hampir seratus kali alam "mengamuk" di berbagai penjuru Kota Perwira.

Data menunjukkan angka yang cukup bikin merinding. Total ada 97 kejadian bencana selama kurun waktu satu tahun.

Baca juga: Empati dengan Korban Bencana, Pemkab Pati Larang Euforia Perayaan Tahun Baru 2026

Dampaknya pun tak main-main, kerugian materiil yang harus ditanggung warga dan pemerintah mencapai angka fantastis, yakni Rp 4,74 miliar.

Ribuan warga harus merasakan dampaknya, dan ratusan lainnya terpaksa angkat kaki mengungsi demi menyelamatkan nyawa.

Longsor Paling "Jahat"

Dari sekian banyak jenis bencana, tanah longsor menjadi "raja" yang paling sering meneror warga. BPBD mencatat kejadian ini berulang sebanyak 50 kali, atau mendominasi lebih dari separuh total bencana di tahun 2025.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Purbalingga, Yulianti, mengungkapkan bahwa longsor juga menjadi penyumbang kerugian terbesar karena langsung menghantam tempat tinggal warga.

"Frekuensi longsor paling tinggi dan dampak kerusakan materinya paling besar, mencapai lebih dari Rp3,3 miliar. Faktor utamanya ialah hujan lebat yang berlangsung cukup lama, ditambah kondisi tanah yang memang labil," ujarnya saat ditemui Tribunbanyumas.com, Jumat (2/1/2026).

Akibat tanah yang tak mampu menahan air ini, 38 rumah dilaporkan hancur atau rusak berat hingga tak layak huni, memaksa 133 warga mengungsi ke tempat aman.

Cuaca Ekstrem Mematikan

Jika longsor paling merugikan harta, maka cuaca ekstrem adalah yang paling mematikan. Dari 37 kejadian angin kencang dan cuaca buruk, tercatat satu nyawa melayang dan empat orang lainnya luka-luka.

"Korban jiwa tercatat pada kejadian cuaca ekstrem," jelas Yulianti.

Bencana jenis ini juga memiliki daya rusak yang luas, berdampak pada 650 jiwa dan merusak 137 unit rumah, meski mayoritas kerusakannya berkategori ringan.

Selain itu, banjir juga sempat menyapa Purbalingga sebanyak sembilan kali, merendam 71 rumah dengan kerugian ratusan juta rupiah. Beruntung, bencana gempa bumi dan kekeringan tercatat nihil alias nol kejadian di tahun 2025.

Siapkan EWS

Menatap tahun 2026 dengan segala potensi bencananya, BPBD Purbalingga tak mau tinggal diam. Yulianti menegaskan pihaknya telah memasang Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini di titik-titik rawan.

Jalur evakuasi dan titik kumpul juga telah dipetakan ulang.

"Memang ada kendala pada efisiensi anggaran. Namun seluruh program mitigasi di tahun 2025 sudah berjalan. Meski demikian, kedepan tantangannya adalah bagaimana agar masyarakat bisa bersama-sama menerapkan upaya mitigasi tersebut," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.