Jakarta (ANTARA) - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mempersilakan para aktivis dan pemengaruh atau influencer yang diduga mengalami intimidasi serta teror setelah menyampaikan kritik untuk mengajukan permohonan perlindungan.
Wakil Ketua LPSK Sri Suparyati mengatakan lembaganya sudah mencoba berkomunikasi dengan lembaga swadaya masyarakat, namun belum mendapat data pasti terkait aktivis maupun pemengaruh yang diteror.
"Kami mengundang para aktivis tersebut, jika memang dibutuhkan adanya tindakan cepat dalam konteks perlindungan, silakan untuk berkoordinasi dengan LPSK karena kami sekarang juga masih menunggu hal-hal tersebut, siapa-siapa saja kami juga belum tahu," kata Suparyati di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan sejauh ini langkah proaktif yang telah dilakukan LPSK adalah berkomunikasi dengan jejaring untuk mengetahui kondisi awal.
LPSK pun siap memproses dengan segera jika para aktivis maupun pemengaruh dimaksud mengajukan permohonan.
"Kami sebenarnya punya perlindungan darurat, itu memang jaraknya tujuh hari posisinya. Ketika kami mendapatkan informasi bahwa ada kebutuhan, itu biasanya kami bergerak cepat dan kami melakukan identifikasi lebih lanjut kepada si orang tersebut," ujarnya.
Setelah itu, LPSK akan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan pemohon yang bersifat segera. "Itu bisa kami koordinasikan, kalau dalam konteks misalnya dibutuhkan tempat tertentu, itu bisa kami lakukan evakuasi," tutur Suparyati.
Sebelumnya, sejumlah kreator konten atau pemengaruh (influencer) mengaku mendapat ancaman dan teror di kediaman pribadi mereka, seperti yang dialami Ramon Dony Adam alias DJ Donny, Sherly Annavita, dan Chiki Fawzi.
DJ Donny telah melaporkan teror yang terjadi di rumahnya oleh orang tidak dikenal. Dia menyebut teror itu sudah terjadi dua kali, yakni pada Senin (29/12) dan Rabu (31/12) dini hari.
"Jadi, kemarin saya dapat teror, dikirim bangkai ayam ke rumah saya. Lalu, semalam jam 3.00 WIB, di CCTV (kamera pengawas) terekam orang melempar molotov ke rumah saya," kata Donny saat ditemui di Polda Metro Jaya, Rabu (31/12).
Sherly Annavita juga mendapati mobilnya dicoret-coret oleh orang tidak dikenal, sementara Chiki Fawzi mendapat ancaman digital.
Para pemengaruh tersebut mengaku mendapat teror setelah menyampaikan kritik terhadap penanganan bencana di Sumatera oleh pemerintah.
Selain itu, Greenpeace Indonesia menyampaikan bahwa salah satu aktivisnya, Iqbal Damanik, turut mendapat ancaman teror di rumahnya. Teror itu berupa pengiriman bangkai ayam dan pesan ancaman.
"Jagalah ucapanmu apabila Anda ingin menjaga keluargamu. Mulutmu harimaumu," demikian pesan tersebut, dikutip dari pernyataan Greenpeace Indonesia melalui akun Instagram resminya.







