BANGKAPOS.COM--Duka masih menyelimuti rumah sederhana di kawasan Tanjung Bunga, Kota Pangkalpinang.
Isak tangis keluarga pecah ketika kabar yang selama tiga hari hanya diselimuti harapan akhirnya berubah menjadi kenyataan pahit.
Sugimanto (56), nelayan yang selama puluhan tahun menggantungkan hidupnya pada laut, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa setelah dinyatakan hilang di perairan Pulau Panjang.
Bagi anak-anaknya, kepergian sang ayah terasa begitu mendadak.
Tak ada firasat, tak ada pesan perpisahan.
Semua berlangsung seperti hari-hari biasa, hingga pagi Selasa (30/12/2025) sekitar pukul 09.00 WIB, Sugimanto berpamitan untuk melaut.
Hari itu menjadi pertemuan terakhir keluarga dengan sosok ayah yang dikenal sederhana dan pekerja keras.
Kebetulan, anak-anaknya sedang berlibur dan sengaja datang mengunjungi tempat tinggal sang ayah di kawasan Pantai Pasir Padi.
Tidak ada raut wajah cemas atau tanda-tanda kegelisahan yang ditunjukkan Sugimanto.
“Tidak ada pesan aneh atau firasat apa pun. Bapak seperti biasa saja,” tutur Novi, anak pertama Sugimanto, dengan suara bergetar saat ditemui di rumah duka, Jumat (2/1/2026).
Namun ada satu hal yang terasa berbeda, meski kala itu tak dianggap penting.
Sebelum berangkat melaut bersama dua rekannya, Sugimanto menitipkan beberapa barang pribadi kepada anak-anaknya.
Kunci warung dan telepon genggam yang biasanya selalu ia bawa, hari itu sengaja ditinggalkan.
“Bapak bilang dia tidak pulang satu malam. Mau mancing ikan, katanya. Biasanya bapak bawa handphone sama kunci, tapi kali ini dititipkan ke saya,” kenang Novi.
Sugimanto berangkat melaut menggunakan satu perahu bersama dua nelayan lainnya.
Rencana mereka sederhana, mencari ikan dan kembali keesokan harinya.
Namun laut memiliki cerita lain. Ombak besar menghantam perahu di tengah perjalanan, membuat mereka terombang-ambing di tengah perairan.
Menurut keterangan rekan korban yang selamat, Sugimanto sempat berusaha menyelamatkan diri.
Ia naik ke perahu karet (piber) dan mengikatkan diri pada tali.
Dua rekannya berhasil bertahan dan selamat.
Namun ketika mereka kembali mengecek posisi Sugimanto, sang nelayan itu sudah tidak berada di sekitar lokasi.
“Temannya bilang bapak sempat berusaha menyelamatkan diri. Tapi setelah dicek, bapak sudah tidak ada,” ujar Novi menahan air mata.
Kabar hilangnya Sugimanto segera sampai ke telinga keluarga. Upaya pencarian pun langsung dilakukan.
Pihak keluarga berkoordinasi dengan Basarnas dan tim SAR gabungan.
Selama tiga hari, pencarian dilakukan di tengah ketidakpastian dan doa yang tak putus dipanjatkan.
Setiap kabar dari laut menjadi harapan baru. Setiap deru perahu yang melintas membuat keluarga berharap Sugimanto akan kembali dengan senyum khasnya.
Namun harapan itu perlahan memudar ketika waktu terus berjalan tanpa hasil.
Hingga Jumat pagi (2/1/2026), kabar itu akhirnya datang.
Seorang nelayan yang melintas di sekitar Pulau Semujur secara tak sengaja melihat sesosok tubuh terdampar di pesisir pantai.
Saksi segera melaporkan temuannya ke Posko SAR. Tim SAR Gabungan bergerak cepat menuju lokasi.
Jarak lokasi penemuan sekitar tiga mil laut dari titik awal kejadian, tempat perahu korban dihantam ombak dua hari sebelumnya.
Ketika dievakuasi, identitas jasad itu dipastikan adalah Sugimanto.
“Begitu dapat kabar ditemukan, kami langsung ke lokasi. Rasanya campur aduk, sedih, tapi juga ingin memastikan sendiri,” kata Novi.
Jasad Sugimanto dievakuasi menggunakan kantong jenazah dan dibawa menuju Pantai Pan Semujur sebelum akhirnya diserahkan kepada keluarga di rumah duka kawasan Temberan. Tangis keluarga pecah saat jenazah tiba.
Tak ada penundaan lama. Setelah disemayamkan sejenak, keluarga memutuskan untuk langsung memakamkan Sugimanto usai Salat Jumat.
Tidak ada lagi yang ditunggu. Laut telah mengembalikan jasad sang nelayan, meski dalam kondisi tak bernyawa.
“Langsung dikubur siang itu juga. Kami tidak ingin menunda. Setelah Salat Jumat, bapak dimakamkan,” ucap Novi lirih.
Hingga pemakaman berlangsung, keluarga belum sepenuhnya mengetahui detail kronologi kejadian di laut.
Dua rekan korban yang selamat masih menjalani perawatan dan belum dapat dimintai keterangan secara lengkap.
“Kami masih fokus mengurus bapak dulu. Soal kronologi, nanti setelah semuanya lebih tenang,” ujarnya.
Bagi keluarga, Sugimanto bukan sekadar seorang nelayan.
Ia adalah tulang punggung, sosok ayah yang dikenal bertanggung jawab dan sederhana. Laut telah menjadi bagian dari hidupnya sejak lama, tempat ia mencari nafkah demi menghidupi keluarga.
Kepergiannya menambah daftar panjang risiko yang harus dihadapi para nelayan kecil.
Ombak, cuaca tak menentu, dan keterbatasan alat keselamatan menjadi tantangan sehari-hari yang kerap berujung tragedi.
Kini, rumah di Tanjung Bunga itu terasa lebih sunyi. Kunci warung dan ponsel yang sempat dititipkan Sugimanto menjadi saksi bisu perpisahan tanpa kata.
Bagi keluarga, kenangan terakhir itu akan selalu melekat tentang seorang ayah yang berpamitan pergi melaut, namun tak pernah kembali.
Laut memang telah menjadi sahabat sekaligus penguji bagi Sugimanto. Dan pada akhirnya, di sanalah perjalanan hidupnya berakhir, meninggalkan duka mendalam bagi mereka yang ditinggalkan.
(Bangkapos.com/Adi Saputra)