Dugaan sementara, para korban tewas karena keracunan dengan kondisi mulut mengeluarkan busa.
Adapun identitas korban Siti Solihah (50), Afiah Al Adilah Jamaludin (27), dan Adnan Al Jabrar Jamaludin (13).
Insiden terjadi di kawasan Banjir Kanal Timur (BKT), Duren Sawit, Jakarta Timur.
Akibatnya, hidung korban terluka hingga mengeluarkan darah.
Ibu dan dua anaknya ditemukan meninggal dunia di rumah kontrakan Jalan Warakas 8, RT 06 RW 10 Kelurahan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (2/1/2026) pagi.
Korban masing-masing atas nama Siti Solihah (50), Afiah Al Adilah Jamaludin (27), dan Adnan Al Jabrar Jamaludin (13).
Sementara satu lainnya dalam kondisi kritis atas nama Abdullah Syauqi Jamaludin (22) dan kini dirawat di RSUD Koja, Jakarta Utara.
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Utara Ipda Maryati Jonggi mengatakan hingga saat ini kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait penyebab tiga orang tersebut tewas.
"Sudah dilakukan olah TKP dan sedang dilakukan penyelidikan oleh Satreskrim Polres Metro Jakarta Utara dan Polsek Tanjung Priok," kata Ipda Maryati, Jumat siang.
Terpisah, Kanit Resmob Satreskrim Polres Metro Jakarta Utara Iptu Seno Adji Pradana mengatakan tiga orang yang meninggal merupakan ibu dan dua anaknya.
"Korbannya terdiri dari ibu dan dua orang anaknya (satu laki-laki dan satu perempuan)," ujar Seno di lokasi kejadian.
Peristiwa tersebut pertama kali diketahui anak korban yang baru pulang kerja pada Jumat pagi.
Saat itu, anak korban mendapati ibunya dalam kondisi tak sadarkan diri di dalam rumah.
Dilansir dari Tribunjakarta.com, Iptu Seno Adji Pradana menjelaskan, ketiga korban ditemukan berada di posisi berbeda.
Baca selengkapnya.
Insiden tabrakan beruntun melibatkan lima kendaraan terjadi di kawasan BSD City Jalan Letnan Sutopo, Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (1/1/2026) dini hari.
Rekaman video yang beredar memperlihatkan sejumlah mobil mengalami kerusakan, mulai dari bodi penyok hingga kap depan yang ringsek.
Sopir dan penumpang tampak turun dari kendaraan serta terlibat cekcok di lokasi kejadian.
Kasat Lantas Polres Tangerang Selatan, Danny Trisespianto Arief Sutarman, membenarkan adanya kecelakaan tersebut.
“Jadi betul kejadian sekitar pukul 01.40 WIB dini hari,” katanya kepada wartawan, Jumat (2/1/2026).
Kecelakaan bermula ketika sebuah Nissan Grand Livina yang dikemudikan AM (24) menabrak kendaraan di depannya.
Keterangan AM kepada polisi bahwa dirinya tidak dalam kondisi fokus saat mengemudi.
“Kronologinya memang dari pengemudi Grand Livina itu sedang mengendarai mobil dan mengakui bahwa dirinya kurang konsentrasi,” ujarnya.
AKP Dannu menuturkan kurangnya konsentrasi karena bersangkutan sedang bertengkar dengan kekasihnya di dalam mobil sebelum kecelakaan.
“Kurang konsentrasinya karena mungkin ada pertikaian kecil di dalam mobil antara dia dan pasangannya. Kemudian dia tidak melihat ke depan, tidak konsentrasi, akhirnya terjadi kecelakaan beruntun,” jelas Danny.
Benturan beruntun itu melibatkan lima kendaraan.
Baca selengkapnya.
Ramond Dony Adam atau DJ Donny (41), konten kreator sekaligus aktivis sosial, dua kali diteror di rumahnya di Jakarta Timur. Rekaman CCTV memperlihatkan pelaku selalu berjumlah dua orang.
Bagaimana teror itu bisa terjadi?
Berikut fakta-fakta dari liputan langsung Tribunnews.com di lokasi kejadian.
Wartawan Tribunnews.com, Abdi Ryanda Shakti, mendatangi rumah DJ Donny di Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (1/1/2026).
Rumah bergaya minimalis bernomor 543 itu tampak tenang, dengan gerbang kayu dan dua kamera CCTV mengawasi jalan sepi di depannya.
DJ Donny mengatakan aksi teror pertama terjadi pada 29 Desember 2025.
Saat itu rumah dalam keadaan kosong. Sekitar pukul 21.00 WIB, sang istri baru pulang kerja dan melihat sebuah paket mencurigakan di teras.
Ia kemudian menelepon DJ Donny.
“Pas telepon itu, istri tanya saya, ‘Ini paket siapa ya kok enggak ada pengirimnya?’ Lalu ia bertanya lagi, ‘Kamu pesan paket apa enggak?’ Saya jawab, ‘Enggak ada’”, ungkap DJ Donny menceritakan momen teror tersebut.
“Ya udah pulang cepetan, ini kayaknya ada paket mencurigakan,” lanjutnya.
Ia pun segera pulang. Betapa kagetnya ketika paket itu berisi bangkai ayam berwarna hitam dengan gorokan di leher, disertai kertas bertinta merah bernada ancaman.
Isi pesan paling kuat berbunyi: “Kau akan jadi seperti ayam ini jika mulut dan medsosmu kelakuannya seperti binatang, jangan main-main.”
Baca selengkapnya.
Seorang penumpang perempuan mengaku mengalami pelecehan seksual saat tertidur selama perjalanan di bus Transjakarta rute Balai Kota-Pantai Maju dari Halte Monas, Balaikota, Jakarta Pusat.
Perempuan tersebut saat itu duduk bersebelahan dengan seorang penumpang pria bertopi yang tidak dikenalnya.
Melalui akun Instagram pribadinya, @anstsyzhr_, korban mengaku terkejut dan terbangun setelah merasakan bagian pahanya disentuh dan dielus oleh pria yang duduk di sebelahnya itu.
"Selama perjalanan saya tidur, dan tepat masuk PIK posisi saya masih tidur, dan dia megang dan mengelus-elus bagian paha, saya reflek bangun dan ngefreeze seketika," cerita pelaku dalam rekaman yang diunggah akun @anstsyzhr_
Kala itu, korban menyebut tidak bisa langsung bereaksi, sementara tangan terduga pelaku segera ditarik seolah panik.
Terduga pelaku disebut sempat mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada korban.
Namun, setelah kejadian tersebut diketahui oleh penumpang lain dan petugas Transjakarta, terduga pelaku justru membantah tuduhan itu dan berdalih bahwa dirinya sedang tertidur.
Video yang diunggah di media sosial itu kemudian viral dan memicu respons publik terhadap isu keamanan penumpang perempuan di transportasi umum.
Kejadian ini juga mengundang perhatian Analis Kebijakan Transportasi, Azas Tigor Nainggolan.
Tigor mengatakan tindakan kekerasan seksual seperti pelecehan seksual dalam layanan transportasi umum ini harus mendapat perhatian serius dari para operator atau pengelola layanan transportasi umum.
"Perlu penanganan tuntas dan dikenakan sanksi hukum tegas terhadap pelaku. Pengelola Transjakarta harus membawa kasus ini ke ranah hukum dan melaporkan pelaku kepada polisi.," tegas Tigor dalam keterangan yang diterima Tribunnews, Jumat (2/1/2026).
Baca selengkapnya.
Viral di media sosial, seorang pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Banjir Kanal Timur (BKT), Duren Sawit, Jakarta Timur, dianiaya oleh sekelompok preman.
Dalam video yang beredar di media sosial, korban terlihat terluka di bagian hidungnya hingga mengeluarkan darah.
Korban juga diintimidasi oleh sekelompok pria yang diduga kuat sebagai preman.
Setelah ditelusuri, aksi penganiayaan dan intimidasi tersebut terjadi pada Kamis (25/12/2025) pagi, saat korban dan rekannya hendak membuka lapak dagangan.
Kakak kandung korban, Suryanto mengatakan, adiknya juga terluka di bagian tangan setelah menangkis pisau yang hendak ditusukkan oleh pelaku.
Ia pun telah melaporkan kejadian yang menimpa adiknya ke polisi.
"Saya ada bukti, foto dan video kalau saya sudah buat laporan kepolisian," tegasnya, Kamis (1/1/2025).
Mengutip Wartakotalive.com, Suryanto mengatakan bahwa ia telah melaporkan kejadian tersebut di Polsek Duren Sawit pada Sabtu (27/12/2025) lalu.
Namun, ia merasa kecewa lantaran Kapolres Metro Jakarta TImur, Kombes Pol Alfian Nurrizal menyatakan bahwa ia belum membuat laporan.
Untuk itu, ia akhirnya mengunggah video aksi penganiayaan ke media sosial hingga akhirnya viral.
"Dari habis laporan itu, saya enggak tahu kabar tindak lanjutnya, saya tanya ke Pak Nurdin katanya sudah di penyidik berkasnya,"
"Jadi saya malas kan nanya lagi makanya saya viralin dan baru tahu kalau pelakunya sudah ditangkap," tegasnya.
Terpisah, Kombes Alfian mengaku tak ada kendala dalam proses penangkapan pelaku.
"Tidak ada kendala, karena kami baru dapat laporan dan tentunya kami dapat laporan dua hari yang lalu dan ini sudah kami amankan," ungkapnya.
Baca selengkapnya.
(Tribunnews.com)