3 Fakta Longsor Cikakak Banyumas, Avanza Terperosok hingga Jalan Putus
January 03, 2026 04:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Jumat malam (2/1/2026) menjadi momen yang tak akan dilupakan oleh Raslim, warga Desa Cikakak, Kecamatan Wangon.

Niat hati ingin melintas dengan tenang, namun kondisi alam berkata lain.

Malam itu, sekitar pukul 20.30 WIB, suasana di Grumbul Gandarusa, Desa Cikakak, mendadak mencekam.

Baca juga: Longsor Putus Akses Jalan Desa Cikakak Banyumas, Sebuah Mobil Terperosok

Tanah yang dipijak kendaraan roda empat di jalur Sabawengi tiba-tiba amblas.

Mobil Terperosok

Bencana tanah longsor ini tak hanya membawa material tanah turun ke bawah, tapi juga menyeret satu unit Toyota Avanza bernomor polisi R 1445 HP yang dikemudikan Raslim.

Mobil itu terperosok, tak berdaya di tengah gundukan tanah labil.

Kabar baiknya, pantauan di lapangan memastikan insiden menegangkan ini tidak merenggut nyawa.

Raslim berhasil selamat dari maut meski harus menahan sakit akibat benturan.

Kepala Desa Cikakak, Akim, mengonfirmasi kondisi warganya tersebut saat dihubungi pada Sabtu (3/1/2026).

"Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Pengemudi selamat, hanya mengalami memar," ujar Akim.

Sekolah Terganggu

Dampak longsor ini ternyata tak berhenti pada mobil yang terperosok saja.

Jalur Sabawengi yang putus total adalah urat nadi bagi sekitar 1.200 warga setempat.

Ini adalah jalan utama yang menghubungkan Grumbul Gandarusa dengan Grumbul Planjan.

Yang paling membuat pusing, jalan ini adalah akses vital bagi anak-anak sekolah.

Mulai dari balita yang mau ke PAUD, bocah SD, hingga remaja yang bersekolah di SMP Negeri 3 Wangon, semuanya biasa lewat sini.

Kini, jalan itu lenyap, tak bisa dilewati motor apalagi mobil.

"Jalan ini juga menjadi akses ke sekolah, mulai dari PAUD, SD, sampai SMPN 3 Wangon. Saat ini tidak bisa dilewati sama sekali," jelas Akim menggambarkan kondisi di lokasi.

Jalur Alternatif

Lantas, bagaimana warga beraktivitas?

Mau tidak mau, warga harus sedikit 'berkorban' tenaga dan bensin.

Opsi satu-satunya saat ini adalah memutar arah lewat jalur tikus atau jalan alternatif.

Rutenya cukup panjang.

Warga harus melipir lewat Grumbul Beji, masuk ke Desa Curahancetak di Kecamatan Lumbir, baru tembus lagi ke Desa Cirahab.

"Kalau lewat jalur alternatif, warga harus memutar dan jaraknya bertambah kurang lebih tiga kilometer," tambah Akim.

Pemerintah desa berharap penanganan bisa dikebut supaya anak-anak sekolah dan warga tak perlu lagi memutar jauh hanya untuk aktivitas sehari-hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.