Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Sebagian besar dari 74.383 siswa yang terdampak banjir di Kabupaten Aceh Utara hingga Sabtu (3/1/2026), masih mengungsi di 210 titik yang tersebar dalam 12 kecamatan.
Sementara proses belajar mengajar semester ganjil, dijadwalkan akan berlangsung pada 5 Januari 2026.
Mereka bukan hanya kehilangan perlengkapan sekolah, tapi juga rumah bersama seisinya.
Sebagian di antara siswa tersebut kehilangan rumah orangtuanya, karena disapu banjir dan sebagian rusak berat.
Selain siswa, banjir juga berdampak pada tenaga pendidik. Tercatat 9.071 guru ikut terdampak.
Sehingga aktivitas belajar mengajar di sejumlah wilayah belum dapat berjalan normal.
“Secara keseluruhan terdapat 124.549 kepala keluarga (KK) atau 433.064 jiwa yang terdampak banjir di Aceh Utara,” ujar Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil SE MM yang akrab disapa Ayahwa, kepada Serambinews.com, Sabtu (3/1/2026).
Baca juga: Kapolres Aceh Singkil Tinjau Jalan Putus di Kuta Simboling , Serahkan Bantuan ke Korban Banjir
Dari jumlah tersebut, 19.047 KK atau 67.876 jiwa terpaksa mengungsi sampai kini.
Dari total pengungsi tersebut, 48.861 orang merupakan siswa.
“Tentunya mereka membutuhkan perhatian khusus, terutama terkait perlindungan, kebutuhan dasar, dan keberlanjutan pendidikan,” ujar Ayahwa.
Dampak bencana ini juga menimbulkan korban jiwa.
Hingga saat ini, 226 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 6 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian.
Selain itu, 2.127 orang mengalami luka-luka dalam bencana banjir.
Kelompok rentan lainnya yang terdampak banjir meliputi 1.433 ibu hamil, 9.525 balita, 6.895 lansia, serta 513 penyandang disabilitas.
Selain masyarakat umum, bencana ini juga merenggut korban dari kalangan pendidik, yakni 1 kepala sekolah, 1 guru, 2 tenaga kependidikan, serta 3 siswa yang dilaporkan meninggal dunia.
“Karena itulah kita berharap perhatian yang serius dari Pemerintah Pusat. Karena di satu sisi butuh penanganan segera untuk korban banjir seperti kebutuhan dasar, pendidikan dan kesehatan, tapi proses penanganannya lamban,” ujar Ayahwa.
Untuk itu, diperlukan sinergi semua pihak, terutama Pemerintah Pusat, lembaga kemanusiaan, maupun masyarakat, untuk memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan dan bantuan secara adil dan merata.(*)
Baca juga: Sekda Aceh Tinjau Kerusakan Jalan Gayo Lues-Agara, Ikut Salurkan Bantuan Logistik