Harga Ikan di Pasar Towoe Sangihe Naik Tinggi Akibat Cuaca Buruk, Berikut Rincinya
January 07, 2026 12:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID. SANGIHE– Harga ikan laut di Pasar Towoe, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, mengalami kenaikan signifikan pada Rabu (7/1/2025). 

Kenaikan harga ini dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama ibu rumah tangga yang setiap hari berbelanja kebutuhan dapur.

Berdasarkan pantauan di lokasi, harga ikan malalugis dijual Rp10.000 per ekor.

Baca juga: Cuaca Buruk Picu Kenaikan Harga Ikan di Pasar Towo’e Sangihe Sulut, Segini Harganya

Sementara ikan bete ukuran kecil dibanderol Rp50.000 untuk 5 ekor. 

Harga tersebut dinilai cukup tinggi dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Selain itu, ikan bubara dijual dengan harga Rp200.000 untuk 4 ekor.

Ikan sahamia bahkan mencapai Rp250.000 untuk 3 ekor, sedangkan ikan deho dijual Rp20.000 per ekor.

Salah satu pedagang ikan di Pasar Towo’e, Oktavin Manapode, mengatakan kenaikan harga ikan dipengaruhi oleh faktor cuaca yang kurang bersahabat sehingga hasil tangkapan nelayan menurun.

“Beberapa hari ini ombak besar, jadi nelayan kurang melaut. Ikan yang masuk ke pasar juga terbatas, itu yang bikin harga naik,” ujar Oktavin.

Ia menambahkan, kondisi tersebut sudah terjadi sejak awal pekan dan dikhawatirkan akan terus berlanjut jika cuaca belum membaik.

“Kalau cuaca sudah normal, biasanya harga bisa turun lagi,” tambahnya.

Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat memperhatikan kondisi ini, mengingat ikan merupakan salah satu sumber protein utama masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Info cuaca

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbauan kewaspadaan cuaca ekstrem di wilayah Sulawesi Utara, termasuk Kabupaten Kepulauan Sangihe. 

Imbauan tersebut disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Naha, Rafael Alesandro Marbun, S.Tr, saat diwawancarai Tribunmanado.co.id, Rabu (7/1/2025).

Rafael menjelaskan, BMKG melalui Stasiun Meteorologi Kelas II Sam Ratulangi Manado telah merilis peringatan dini cuaca ekstrem yang berlaku pada tanggal 5 hingga 7 Januari 2026. 

Peringatan ini dikeluarkan berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer yang menunjukkan adanya sejumlah fenomena cuaca signifikan di wilayah Sulawesi Utara.

Menurutnya, salah satu faktor utama adalah terdeteksinya pusat tekanan rendah di bagian utara Australia. 

Kondisi tersebut memicu terjadinya pertemuan massa udara atau konvergensi, serta belokan angin yang berdampak pada peningkatan curah hujan di Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Selain itu, BMKG juga memantau fenomena La Nina yang berada dalam kondisi lemah, suhu muka laut yang lebih hangat dari biasanya, kelembapan udara yang tinggi di setiap lapisan atmosfer, serta indeks labilitas atmosfer yang tergolong tinggi. 

Kombinasi dari berbagai faktor tersebut membentuk kondisi atmosfer yang mendukung terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

“Potensi cuaca ekstrem ini dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang di wilayah Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe,” jelas Rafael.

BMKG Naha mengimbau masyarakat serta Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Koordinasi dengan instansi terkait juga dinilai penting sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi.

Rafael menambahkan, wilayah Kepulauan Sangihe memiliki topografi yang curam, bergunung, dan banyak tebing, sehingga rawan terhadap bencana seperti genangan air, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang. 

Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk selalu memantau informasi cuaca terkini dari BMKG dan segera mengambil langkah pencegahan apabila kondisi cuaca memburuk. (EDU)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.