BANGKAPOS.COM -- Muhammad Axle Herman Miller (9), anak Maman Suherman tewas dibunuh oleh AH (30), pencuri yang masuk ke rumahnya.
Peristiwa pencurian dan pembunuhan ini terjadi pada Selasa (16/12/2025) silam.
Lama bungkam, Maman Suherman akhirnya buka suara dan menceritakan detik-detik anaknya tewas dibunuh.
Maman Suherman ternyata sempat mengira bahwa putranya yang baru berusia 9 tahun itu terjatuh dari tangga.
Tubuh sang putra yang berlumuran darah disangka Maman akibat jatuh dari tangga, bukan karena ditusuk oleh pelaku AH.
Maman Suherman menceritakan, saat itu dirinya sedang bekerja dan ditelepon oleh putranya, Dafara.
Baca juga: Sosok Tengku Muhammad Fakhry Petra, Pangeran Kelantan Pernah Lakukan KDRT terhadap Manohara
Menurut Maman, saat itu kondisi Axle sudah berlumuran darah usai ditusuk oleh pelaku.
"Saya lagi di kantor, mendapat video call keluarga bahwa anak saya yang bernama Dafara memberikan video call melihatkan ke korban, dan saya melihat sendiri, bersimbah darah," kata Maman dikutip dari Youtube Kompas TV, Selasa (6/1/2025).
Awalnya Maman mengira kalau putranya itu berlumuran darah karena terjatuh.
"Cuma punya asumsi, saya pikir anak saya itu jatuh dari tangga. Sehingga saya bergegas, berteriak di kantor bahwa anak saya itu jatuh dari tangga," ucap dia,
Bahkan saat tiba di rumah, ia masih berpikiran anaknya jatuh dari tangga.
"Ketika saya sampai di rumah, saya juga masih berasumsi dia itu jatuh dari tangga. Melihat ke tangga nggak ada, maka saya tanya, Axle di mana? Ada di atas," jelas Maman.
Namun saat melihat kondisi sang anak secara langsung, Maman melihat sang putra berlumuran darah karena ditusuk.
"Saya langsung bergegas ke atas, di situlah baru terlihat anak saya sudah bersimbah darah," ucap dia.
Bahkan Maman sempat memberikan napas buatan untuk putranya itu.
"Saya balikkan kepalanya sedikit, saya berusaha untuk memberi napas buatan," ucapnya.
Namun sayang, nyawa Axle tidak tertolong.
Pelaku inisial HA berhasil ditangkap pada Jumat (2/1/2026) ketika sedang mencuri di rumah mantan anggota DPRD Cilegon, Roisyudin Sayuri di Kelurahan Ciwedus, Cilegon, Banten.
Polda Banten mengklaim, motif di balik pembunuhan ini karena ekonomi.
HA terlilit utang hingga ratusan juta rupiah usai kalah main kripto.
Kripto adalah aset digital atau mata uang virtual yang menggunakan kriptografi (sandi rahasia) untuk mengamankan transaksi.
Dirreskrimum Polda Banten, Kombes Pol Dian Setyawan, membeberkan motif utama kasus dipicu masalah ekonomi.
HA diketahui terlilit utang puluhan juta usai meminjam uang di bank dan koperasi tempatnya bekerja.
Semua bermula saat HA memakai uang tabungan Rp400 juta untuk bermain kripto.
"Dari Rp400 juta ini dimainkan sehingga berkembang sampai dengan mendatangkan keuntungan senilai kurang lebih Rp4 miliar."
"Yang bersangkutan belum puas kemudian dimainkan lagi sehingga yang bersangkutan kalah."
"Adapun akun yang digunakan yaitu melalui aplikasi pintu.id," urai Setyawan, dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV, Selasa (6/1/2026).
Usai kalah, HA malah terlilit utang di mana-mana.
Ia tercatat meminta uang dari bank sebanyak Rp700 juta dan koperasi sebesar Rp70 juta.
HA juga nekat meminjam uang dari aplikasi pinjaman online (pinjol) sebanyak Rp50 juta.
"Tujuannya apa? Untuk main kripto lagi tapi hasil yang diperoleh yang bersangkutan kalah kembali," beber Setyawan.
Alasan lain HA nekat mencuri juga didorong dari kebutuhannya untuk berobat.
Berdasarkan rekam medis, HA menderita penyakit kanker nasofaring, bagian tenggorokan di belakang hidung dan langit-langit mulut stadium 3.
Setiap minggu HA rutin melakukan kemoterapi di sebuah rumah sakit yang membutuhkan biaya.
"Karena himpitan ekonomi inilah mendorong yang bersangkutan untuk melakukan tindak pidana ini," lanjut Setyawan.
Baca juga: Nasib Kopda Fitrah Terduga Pelaku Penganiayaan Pratu Farkhan, TNI AD Tegaskan Tak Ada Toleransi
Motif pembunuhan anak politisi PKS Kota Cilegon Maman Suherman, MAHM (9) dianggap janggal.
Rangkaian peristiwa serta masalah yang dialami pelaku dinilai bukan sebagai alasan membunuh korban.
HA (31) merupakan warga Palembang yang tinggal di kontrakan kawasan Cilegon.
Dia bekerja sebagai operator di perusahaan ternama di Cilegon.
Berdasarkan penyelidikan polisi HA dan istri menginvestasikan uang tabungan Rp 400 juta di kripto lalu untung Rp 4 miliar.
Kemudian keuntungan dipertaruhkan lagi, tapi malah jadi rugi.
HA meminjam uang ke bank Rp 700 juta, koperasi kantor Rp 70 juta dan pinjol Rp 50 juta.
Ditambah lagi ia juga menderita sakit kanker stadium tiga dan harus rutin kontrol serta kemoterapi setiap minggu.
Atas dasar itulah HA menjadi kriminal mencuri di rumah mewah polisi PKS Maman Suherman di Komplek Bukit Baja Sejahtera (BBS) III, Blok C5 Nomor 8, Ciwaduk, Kota Cilegon pada 16 Desember 2025.
Kriminolog Reza Indragiri berpandangan bahwa motif ekonomi tersebut tidak sesuai jika dijadikan alasan membunuh anak Maman.
Reza menerangkan ada dua motif yang mendasari seseorang melakukan kejahatan.
Pertama instrumental terkait ekonomi. Lalu kedua adalah emosional.
"Kalau polisi mengatakan pencurian motif instrumental masuk akal. Tapi kalau dikatakan pembunuhan itu dilakukan motif ekonomi menurut saya tidak masuk akal," katanya.
Polisi menceritakan bahwa HA membunuh MAHM karena kepergok ketika sedang mencuri.
Korban yang melakukan perlawanan dengan menendang kemaluan, lutut, dan sikut membuat pelaku menjadi emosi lalu langsung menusuk korban berulang kali.
"Karena skenario yang diceritakan dari kepoloisian bocah 9 tahun melakukan perlawanan terhadap pelaku, pelaku panik kaget sehingga melakukan kekerasan sedemikian keji."
"Dengan kronologi semacam itu ya sudah kita tidak bicara pelaku dengan motif ekonomi tapi boleh jadi motif pembunuhannya motif emosional bagaimana si pelaku meluapkan marahnya terhadap korban dengan cara kejam," kata Reza.
Oleh karena itu narasi yang diceritakan kepolisian mestinya lebih dipertajam.
Kejanggalan lain menurut Reza, ketika polisi mengatakan bahwa HA menjadi pencuri karena terdesak kebutuhan ekonomi.
Namun saat masuk ke rumah Maman, pelaku tidak membawa barang apapun, dia justru malah membunuh anak usia 9 tahun.
"Palau pelaku pencurian disebut orang sama dengan pelaku pembunuhan, dan spesialis rumah kosong, kenapa memasuki rumah pertama dia melakukan pembunuhan tapi tidak melakukan pencurian, saya sendiri agak ksulitan memahaminya," katanya.
Sementara politisi PKS, Maman Suherman mengatakan bahwa ia tidak memiliki musuh.
"Saya tidak bisa mengasumsikan dan berandai-andai, karena syaa sendiri tidak merasa punya musuh," katanya.
Maman meyakini bahwa dia tidak pernah berselisih dengan siapapun.
"Saya tidak punya perselisihan karena kehidupan saya itu dari rumah, ke masjid, ke kantor. Setiap hari begitu saja," katanya.
Baca juga: Sosok Holis Muhlisin, Penjual Telur Diintimidasi Keluarga Kades usai Viralkan Jalan Rusak
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Banten Kombes Pol Dian Setiawan mengatakan bahwa pelaku HA tertangkap ketika sedang mencuri di rumah mantan anggota DPRD Kota Cilegon.
Dalam penangkapan ditemukan pisau yang dibawa pelaku.
Dari hasil pengujian, menurut Dian, darah yang terdapat di pisau tersebut cocok dengan DNA anak Maman Suherman.
"Pisau yang ditemukan pada pelaku ini masih tertinggal bercak darah yang mana dalam darah tersebut ada DNA yang identik dengan milik korban saudara A, 9 tahun," katanya.
(Bangkapos.com/TribunnewsBogor.com/Tribunnews.com)