SRIPOKU.COM - Saudah (67) nyaris tewas ketika dianiaya diduga oleh penambang ilegal yang beroperasi di lahan miliknya pada 1 Januari 2026.
Lantaran pingsan, lansia asal Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat ini dikira sudah tewas.
Iapun ditinggal pelaku setelah tubuhnya yang sudah tidak berdaya dibuang ke semak-semak.
Meski hingga Rabu (7/1/2026) masih bisa menghirup udara bebas, Saudah tetap dihantui ketakutan karena kapan saja kejadian nahas yang menimpanya bisa terulang.
Baca juga: Kronologi Pratu Farkhan Tewas Dianiaya Prajurit Senior Pangkat Kopral, Brigjen TNI Donny Sebut Ini
Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Susmelawati Rosya, mengatakan penganiaya Saudah sudah diamankan.
Ia berinsiail IS dan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan korban.
Susmelawati meyebutkan, berdasarkan hasil penyelidikan sementara, kasus itu berkaitan konflik lahan kaum dan bukan persoalan penambangan emas ilegal.
Dari hasil penyelidikan juga, kata Susmelawati, tidak ditemukan alat berat untuk penambangan di lokasi.
Berdasarkan keterangan korban, kejadian bermula saat dia mendatangi lahan miliknya pada siang hari.
Ia menduga lahan tersebut diserobot oleh para penambang ilegal yang beraktivitas di lokasi tersebut.
Saudah mengaku telah meminta para pekerja menghentikan aktivitas penambangan di lahannya.
Permintaan itu sempat diindahkan, namun para penambang kembali beroperasi pada malam hari.
Merasa keberatan, Saudah kembali mendatangi lokasi pada malam hari dengan membawa senter untuk melihat aktivitas tersebut.
Namun, kedatangannya justru berujung pada tindakan kekerasan.
Ia mengaku dilempari batu secara bertubi-tubi hingga terjatuh ke arah pinggir sungai dan kehilangan kesadaran.
“Saya datang dan menyorot pakai senter. Tiba-tiba saya dilempari batu banyak sekali sampai ke pinggir sungai, setelah itu saya tidak sadar lagi,” katanya.
Akibat kejadian tersebut, Saudah mengalami luka cukup parah, terutama di bagian wajah yang tampak sembab serta sejumlah luka di bagian tubuh lainnya.
Anak korban, Iswadi Lubis, menuturkan bahwa ibunya sempat disangka meninggal dunia oleh para pelaku.
Dalam kondisi pingsan, Saudah disebut dipindahkan ke semak-semak.
“Ibu saya dilempari batu sampai pingsan, lalu dipukuli, muka, kepala, punggung semuanya luka. Setelah pingsan digoyang-goyangkan, dikira sudah mati, lalu dibuang ke semak-semak. Itu sudah tidak wajar, bukan perlakuan manusia,” ujar Iswadi.
Beberapa waktu kemudian, Saudah siuman dan berusaha pulang ke rumah dengan sisa tenaga yang ada.
Ia akhirnya ditemukan oleh pihak keluarga dan segera dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan.
Saat ini, Saudah menjalani perawatan intensif di RSUD Tuanku Imam Bonjol, Lubuk Sikaping, dengan kondisi yang masih memprihatinkan.
Atas kejadian tersebut, pihak keluarga berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas kasus penganiayaan yang dialami korban.
“Saya berharap kepada pihak berwenang, termasuk Presiden Prabowo, agar kasus ini diusut tuntas dan pelakunya diproses sesuai hukum tanpa pandang bulu,” kata Iswadi.
Baca juga: Persahabatan Berujung Pidana, Remaja di Palembang Dianiaya Teman Sendiri Gara-gara Urusan Motor
Selain polisi, Vasko Ruseimy selaku Wakil Gubernur Sumatra Barat juga menyoroti kasus ini.
Vasko meminta Kapolres Pasaman untuk melibatkan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) agar Nenek Saudah tidak mengalami intimidasi atau hal-hal yang tidak diinginkan pasca penyerangan.
“Bagi saya ini sudah kelewatan batas gitu. Kalau perlu dilibatkan LPSK. Biar tak terjadi hal-hal tak diinginkan lagi begitu Pak,” katanya.
Wagub Vasko menegaskan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) tidak mentolerir tindakan kekerasan serupa di wilayahnya.
Ia meminta aparat memberikan efek jera maksimal bagi pelaku, sekaligus menjadi peringatan agar kasus serupa tidak terulang.
"Kita beri efek jera dan hukuman berat kepada pelaku berinisial IS (26) tersebut. Terima kasih banyak buat jajarannya Pak Kapolres, luar biasa Polres Pasaman,” katanya.