Rusia Kecam Rencana Pasukan Perdamaian Ukraina-Eropa
kumparanNEWS January 08, 2026 09:38 PM
Rusia melabeli Ukraina dan negara-negara pendukungnya di Eropa sebagai “poros perang”, menyusul kesepakatan mereka untuk menyiapkan pasukan penjaga perdamaian sebagai bagian dari jaminan keamanan bagi Kiev pada Kamis (8/1).
Pernyataan ini menjadi respons pertama Moskow setelah sekutu Ukraina menyepakati paket jaminan keamanan dalam suatu konferensi tingkat tinggi (KTT) di Paris. Bahkan, Amerika Serikat (AS) juga siap ikut andil.
Rusia menilai rencana tersebut bersifat militeristik dan tidak membawa prospek nyata untuk mengakhiri perang yang kini memasuki tahun keempat, sebagaimana dilaporkan AFP.
Para pemimpin Eropa dan utusan AS sebelumnya menyatakan jaminan keamanan itu mencakup mekanisme pemantauan yang dipimpin AS serta pengerahan pasukan multinasional Eropa jika gencatan senjata tercapai.
Suasana saat serangan bom glide di kawasan Apartemen di Zaporizhzhia, Ukraina, Selasa (17/12/2025). Foto: Stringer/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Suasana saat serangan bom glide di kawasan Apartemen di Zaporizhzhia, Ukraina, Selasa (17/12/2025). Foto: Stringer/Reuters
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova menegaskan bahwa setiap pasukan asing yang ditempatkan di Ukraina akan menjadi target militer sah.
“Semua unit dan fasilitas tersebut akan dianggap sebagai target militer yang sah bagi Angkatan Bersenjata Rusia,” ujar Zakharova dalam pernyataan resminya.
Moskow kembali menegaskan penolakannya terhadap keterlibatan negara-negara NATO dalam bentuk pasukan penjaga perdamaian dan memperingatkan risiko serangan Rusia terhadap pasukan tersebut.
Zakharova menyebut deklarasi militer dari apa yang disebutnya sebagai “Koalisi yang Bersedia” bersama pemerintah Kyiv sebagai langkah berbahaya dan merusak.
“Deklarasi militer baru ini membentuk ‘poros perang’ yang nyata,” katanya, seperti dilansir Reuters.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto: Sergei Chuzavkov/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto: Sergei Chuzavkov/AFP
Kesepakatan di Paris disebut membuka peluang Inggris, Prancis, dan sekutu Eropa lainnya mengerahkan pasukan ke Ukraina setelah gencatan senjata. Namun, rincian mandat dan mekanisme keterlibatan pasukan itu belum dijelaskan secara jelas.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Kyiv belum menerima jawaban tegas mengenai langkah pasukan tersebut jika Rusia kembali melancarkan serangan. Ukraina juga mengakui isu krusial seperti status wilayah Donbas dan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia masih belum terselesaikan.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.