Radikalisme Kerap Dipandang Negatif, Begini Penjelasan Akademisi Sosiologi Universitas Palangka Raya
January 08, 2026 11:19 AM

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Baru-baru ini dua anak SD di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng) dikabarkan terpapar ekstremisme yang berujung paham radikalisme melalui Game Online Roblox.

Paham radikalisme kerap dipandang negatif dan dikaitkan dengan perbuatan terorisme.

Dari sudut pandangan sosiologi, radikalisme tak mesti dikaitkan dengan perbuatan negatif.

Dosen Sosiologi dari Fisip Universitas Palangka Raya (UPR), Paulus Alfons Yance Dhanarto mengatakan, radikal berasal dari kata latin "radix" yang berarti akar.

"Radikal itu artinya yang sifatnya mengakar. Pandangan-pandangan yang bersifat mengakar," ujar Paulus, Rabu (7/1/2026).

Berdasarkan pengertian tersebut, kata Paulus, radikal bukanlah hal yang buruk namun ditempeli dengan label negatif.

"Jadi definisi katanya bersifat netral dan memang ada sebagai fakta, itu ditempeli label-label negatif. Itu yang kemudian digunakan aktor-aktor penguasa untuk menjalankan kekuasaannya," ucapnya.

Bahkan, lanjut Paulus, jika dipahami lebih jauh, untuk memiliki sebuah prinsip atau paham tertentu, maka perlu memiliki pandangan dan kajian yang mengakar terlebih dahulu.

Baca juga: Praktisi Hukum Kotim Jelaskan Definisi Radikalisme dan Ancaman di Ruang Digital

Baca juga: Densus 88 Deteksi Dua Anak di Kotim Terpapar Radikalisme Lewat Game Online Roblox

Menurut Paulus, jika radikalisme hanya dipandangan sebagai sesuatu yang negatif dampaknya bakal meluas dari sekedar salah kaprah.

Ia menilai, hal itu justru bukan hal yang baik dan berpotensi dijadikan alat untuk menyalahgunakan kekuasaan hingga dimanfaatkan oligarki di Indonesia untuk membungkam demokrasi.

"Oligarki di Indonesia ini menggunakan betul label-label negatif radikal, yang seringkali melampaui makna dan fakta sejarahnya sebenarnya," tegas Paulus.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.