Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W. Eda | Aceh Tengah
TribunGayo. Com, TAKENGON - Hari itu adalah hari kesembilan setelah bencana Hidrometrologi menghantam Tanah Gayo, 26 November 2025. Kampung Linge masih gelap. Ginset ada, tapi tak bernyawa.
BBM tak tersisa. Jalan-jalan putus, jembatan patah, dan hujan masih sering turun seolah tak ingin memberi jeda.
Di tengah situasi itu, Mahdi—pemuda Kampung Linge, seniman Didong yang tergabung dalam Grup Didong Linge Aseli—membuat keputusan yang bagi banyak orang terdengar nyaris mustahil.
“Saya tergugah. Saat itu harga BBM sampai delapan puluh ribu rupiah per liter,” kata Mahdi, pelan, seolah masih menyimpan lelah di suaranya. Ia diwawancarai TribunGayo.com, di Kute Robel, Isaq, Senin 6 Januari 2026.
Ia tak menunggu bantuan datang. Ia memilih berangkat.
Mahdi tidak sendiri. Ia ditemani abangnya, Senangdi, dari Kampung Reje Payung, Kecamatan Linge.
Baca juga: "Teger" Suara dari Perut Gunung, Alarm Alam Sebelum Longsor dan Banjir Lumpur
Dua bersaudara itu tahu benar: perjalanan menuju Kemp, Kecamatan Permata, Bener Meriah, bukan perjalanan biasa.
Itu adalah perjalanan menantang alam yang baru saja murka.
Ketika itu Kemp menjadi sentral transit BBM dan logistik dari pesisir Aceh Utara.
Dari Kampung Linge, mereka menuntun sepeda motor hingga ke tepian Kala Ili.
Motor itu tak bisa menyeberang sendiri—harus diangkut dengan getek, melawan arus sungai yang masih deras dan keruh.
Dari sana mereka lanjut ke Waq, Isaq, lalu Simpang Gading, menembus Atu Lintang dan Pegasing.
Jalan berlumpur, jembatan patah, beberapa ruas nyaris hilang ditelan longsor.
“Tapi kami tidak menyerah,” ujar Mahdi singkat.
Keputusan untuk terus melaju bukan soal berani, tapi soal tanggung jawab.
Kampung Linge membutuhkan listrik. Anak-anak butuh terang saat malam. Warga butuh daya untuk sekadar bertahan.
Akhirnya, setelah perjalanan panjang dan melelahkan, Mahdi tiba di Kemp.
Di sana, harga BBM kembali normal: delapan belas ribu rupiah per liter.
Ia membeli tiga jirigen, masing-masing berisi 35 liter. Total 105 liter BBM—beban berat yang harus dibawa pulang menempuh jalur yang sama, dengan medan yang tak kalah berbahaya.
Mahdi tidak menjual BBM itu dengan harga tinggi. Ia menjualnya Rp 35 ribu per liter—cukup untuk menutup biaya dan risiko, tanpa memeras penderitaan sesama.
Dengan BBM itulah ginset kembali dihidupkan.
Dan ketika mesin itu menyala, cahaya pun kembali hadir di Kampung Linge.
Bukan hanya cahaya lampu, tetapi juga cahaya harapan—bahwa di tengah bencana, masih ada keberanian, kejujuran, dan gotong royong yang menyala.
Mahdi adalah seniman didong. Ia terbiasa menyuarakan duka dan harapan lewat syair.
Kali ini, ia menuliskannya dengan langkah kaki, deru mesin, dan 105 liter cahaya untuk kampungnya sendiri. (*)