SURYA.CO.ID, SIDOARJO - Langkah konkret dalam menjaga kedaulatan pangan nasional terus diperkuat di Jawa Timur (Jatim).
Tidak hanya menjaga keamanan, jajaran Polda Jatim kini terlibat aktif mengelola lebih dari 220 ribu hektare lahan pertanian, guna memastikan stok pangan, khususnya jagung, tetap aman di awal tahun 2026.
Polda Jatim mencatatkan pengelolaan lahan seluas 220.082,87 hektare di berbagai daerah.
Dari luasan tersebut, mayoritas atau sekitar 132.920,34 hektare telah dimaksimalkan untuk penanaman komoditas jagung, termasuk lahan produktif yang tersebar di wilayah Kabupaten Sidoarjo.
Kepala Biro Sumber Daya Manusia (Karo SDM) Polda Jatim, Kombes Pol Ari Wibowo, menjelaskan bahwa lahan yang dikelola merupakan gabungan dari berbagai kategori lahan potensial.
Rinciannya mencakup lahan Lahan Baku Sawah (LBS) seluas 154.124,10 hektare, perhutanan sosial 49.215,40 hektare, lahan produktif 16.207,50 hektare, hingga lahan milik pesantren seluas 535,87 hektare.
“Ini merupakan wujud komitmen Polda Jatim dalam mendukung program ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan,” tegas Kombes Pol Ari Wibowo saat menghadiri panen raya jagung di Desa Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Kamis (8/1/2026).
Kegiatan panen raya di Sidoarjo ini, dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto, serta jajaran Forkopimda lainnya.
Hingga 8 Januari 2026, Polda Jatim tercatat telah melaksanakan panen serentak di 30 titik dengan total luasan mencapai 319,73 hektare.
Khusus di Sidoarjo, panen dilakukan di lahan seluas 5 hektare yang dikelola secara kolaboratif bersama 38 petani lokal.
Estimasi hasil panen dari lahan di Desa Kedensari ini, diprediksi mencapai 6 ton jagung.
Secara lebih luas, kontribusi Polda Jatim terhadap stok pangan nasional sangat signifikan. Hingga hari ini, tercatat sebanyak 7.499,65 ton jagung hasil panen telah didistribusikan ke gudang-gudang Bulog.
Kapolresta Sidoarjo, Kombes Pol Christian Tobing, memberikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara Polri, TNI, pemerintah daerah dan para petani.
Menurutnya, keberhasilan program ini bergantung pada dukungan penuh semua pemangku kepentingan.
"Dukungan penuh terhadap keberlangsungan program ketahanan pangan di wilayah kami, merupakan bentuk sinergi yang nyata dari Polri, TNI, Pemerintah dan masyarakat,” ujar Christian Tobing.
Dalam acara ini, aspek kemanusiaan juga tetap dikedepankan. Polda Jatim menggelar bakti sosial dengan menyalurkan bantuan sembako bagi anak yatim serta pemberian bantuan alat mesin pertanian (alsintan) berupa corn planter, 150 kg benih dan 50 liter pupuk untuk mendukung produktivitas petani lokal.
Di tengah guncangan ekonomi global dan perubahan iklim yang kian ekstrem, ketahanan pangan nasional menjadi fondasi hidup mati sebuah negara untuk tetap produktif secara berkelanjutan.
Ketahanan pangan nasional didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi seluruh rakyat, baik secara fisik maupun ekonomi. Hal ini mencakup ketersediaan pangan yang cukup, aman, beragam, bergizi, merata, serta terjangkau tanpa bertentangan dengan nilai agama dan budaya lokal.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Indonesia berpegang pada empat pilar utama yang saling berkaitan:
Pemerintah terus memacu berbagai program strategis untuk memperkuat pertahanan pangan. Fokus utama saat ini adalah pengembangan infrastruktur seperti bendungan dan irigasi guna menjaga pasokan air.
Diversifikasi pangan lokal juga terus didorong agar ketergantungan pada beras berkurang.
Selain itu, modernisasi pertanian dengan penggunaan pupuk organik dan mekanisasi diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
Salah satu fokus baru adalah pengurangan Food Loss and Waste (FLW). Mengatasi pemborosan pangan dari hulu ke hilir, dipandang sebagai solusi efektif untuk menambah ketersediaan tanpa harus membuka lahan baru secara berlebihan.