Batik Air Buka Suara Soal Pramugari Gadungan, Ternyata Ini Fakta di Balik Penyamaran Nisya
January 09, 2026 04:03 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Batik Air akhirnya angkat bicara soal Khairun Nisya wanita yang diamankan usai menjadi pramugari gadungan.

Viral video seorang perempuan yang tampil menyerupai pramugari di dalam pesawat rute Palembang–Jakarta.

Maskapai menegaskan, sosok dalam video tersebut bukan awak kabin Batik Air dan tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan perusahaan.

Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, memastikan perempuan itu tidak tercatat dalam sistem kepegawaian maskapai.

“Yang bersangkutan tidak terdaftar sebagai karyawan Batik Air dan tidak memiliki kewenangan apa pun untuk bertindak atas nama perusahaan,” ujar Danang dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (9/1/2026).

Baca juga: Jejak Karier Yaqut Cholil Qoumas Mantan Menag RI Tersangka Korupsi Kuota Haji, Kerugian Negara Rp1 T

Pernyataan tersebut disampaikan untuk meluruskan spekulasi publik yang berkembang setelah video itu menyebar luas di media sosial.

Selain menegaskan soal identitas, Batik Air juga menyoroti atribut yang dikenakan oleh perempuan tersebut.

Menurut Danang, seragam, aksesori, maupun perlengkapan yang dipakai bukan milik resmi maskapai.

Ia menegaskan bahwa Batik Air tidak pernah mengeluarkan, membagikan, ataupun mendistribusikan atribut tersebut dalam bentuk apa pun.

“Seluruh perlengkapan yang digunakan tidak berasal dari inventaris resmi Batik Air,” katanya.

Viral di Media Sosial, Publik Terkejut

Sebelumnya, publik dihebohkan oleh video singkat yang menampilkan seorang perempuan dengan penampilan mirip pramugari Batik Air berada di dalam pesawat pada penerbangan Selasa (6/1/2026).

Video itu dengan cepat menyebar lintas platform dan memicu berbagai pertanyaan, terutama terkait aspek keamanan penerbangan dan bagaimana penyamaran tersebut bisa terjadi di dalam pesawat komersial.

Hasil penelusuran internal Batik Air mengungkap bahwa perempuan berinisial KN tercatat sebagai penumpang sah. Ia memiliki boarding pass resmi dan mengikuti prosedur keberangkatan seperti penumpang lainnya.

Meski demikian, penampilannya yang menyerupai awak kabin memicu kecurigaan kru selama penerbangan.

“Kru kami mendeteksi adanya kejanggalan saat fase inflight service dan melakukan pengamatan serta konfirmasi sesuai SOP,” jelas Danang.

Dilaporkan ke Avsec Usai Mendarat

Setelah pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta, awak kabin segera melaporkan kejadian tersebut kepada petugas Aviation Security (Avsec) untuk penanganan lanjutan sesuai prosedur yang berlaku.

Langkah ini sekaligus mengakhiri penyamaran yang sempat memicu kehebohan publik.

Maskapai Tegas Soal Penyalahgunaan Identitas
Batik Air menegaskan sikap tegas terhadap segala bentuk penyalahgunaan atribut dan identitas awak kabin. Menurut Danang, tindakan semacam ini berpotensi merugikan masyarakat dan mencederai kepercayaan publik terhadap maskapai.

“Seragam dan identitas awak kabin hanya digunakan oleh personel resmi yang telah melalui proses rekrutmen, pelatihan, dan penugasan sesuai standar perusahaan,” tegasnya.

Imbauan untuk Masyarakat

Di akhir pernyataannya, Batik Air mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap pihak-pihak yang mengatasnamakan maskapai, baik sebagai awak kabin, karyawan, maupun perwakilan resmi.

Masyarakat diminta berhati-hati terhadap penawaran tiket, promosi, kerja sama, hingga permintaan uang atau data pribadi yang tidak berasal dari kanal resmi Batik Air.

Fakta di Balik Penyamaran

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta Kompol Yandri Mono mengungkap motif di balik aksi tersebut.

Perempuan berusia 23 tahun itu diduga mengenakan seragam pramugari untuk meyakinkan orang tuanya bahwa ia telah bekerja di Batik Air.

Padahal, ia diketahui gagal lolos seleksi pramugari.

“Dia melamar kerja sebagai pramugari, tapi tidak lulus,” kata Kompol Yandri, Kamis (8/1/2026).

KN mengaku membeli seragam, name tag, dan koper Batik Air melalui toko daring. Atribut tersebut sudah ia kenakan sejak berangkat dari rumah menuju bandara di Palembang.

Ia sempat berniat berganti pakaian setibanya di bandara, namun rencana itu batal karena waktu keberangkatan yang mepet.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa seragam bukan sekadar pakaian, melainkan simbol profesionalisme, tanggung jawab, dan kepercayaan.

Ketika simbol tersebut disalahgunakan, dampaknya bisa meluas hingga mencederai kepercayaan publik terhadap sistem penerbangan itu sendiri.

(Tribunnews/Tribun Trends/Kompas.com/Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.