TRIBUNJATIM.COM - Zainuddin (39) akhirnya bertemu dengan orang tuanya setelah pencarian selama 32 tahun.
Hal itu akibat Zainuddin yang kabur dari rumah saat dirinya masih sangat kecil.
Bahkan saat kabur, Zainuddin masih belum lancar baca dan menulis hingga membuat pencariannya menjadi terbatas.
Zainuddin tak tahu pasti sebenarnya dari mana ia berasal.
Baca juga: Hilang Terbawa Kereta, Zainuddin Bertemu Ibunya Lagi usai 32 Tahun Berpisah, Dulu Kabur dari Bapak
Ia bahkan sempat mengira sebagai orang Semarang.
Hingga kemudian setelah berbagai upaya dilakukan, akhirnya Zainuddin berhasil menemukan keluarga dan orangtuanya.
Tak pernah terbayang oleh Zainuddin (39), langkah nekatnya meloncat ke atas kereta api saat magrib di usia tujuh tahun justru membawanya pada perjalanan hidup panjang, getir, dan penuh tanda tanya selama lebih dari tiga dekade.
Saat itu, bocah kelas 1 SD asal Desa Bulaksari, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap ini kabur dari rumah karena kerap dimarahi orangtuanya akibat kenakalan masa kecil.
“Saya pergi dari rumah sekitar umur tujuh tahun. Waktu itu bandel, sering dimarahi. Sering kabur tapi ketemu lagi. Sampai akhirnya pas magrib saya ke rel kereta, lihat kereta berhenti, langsung naik saja tanpa bawa apa-apa,” tutur Zainuddin saat dihubungi, Rabu (7/1/2026).
Tanpa tujuan jelas, Zainuddin sempat turun di sebuah stasiun yang tak ia kenali.
Niat pulang sempat terlintas, namun malam yang gelap dan rasa takut membuatnya kembali naik kereta hingga akhirnya tiba di Stasiun Jakarta Kota keesokan paginya.
Di ibu kota, hidupnya berubah drastis.
Selama hampir sepekan, ia terlantar, tidur seadanya, dan mengandalkan belas kasih orang-orang di jalan.
“Saya sempat minta-minta di lampu merah buat makan. Pernah benar-benar hampir mati kelaparan. Alhamdulillah ada orang kasih ikan besar walau sudah agak basi, tapi saya terima, itu sangat menolong,” kenangnya.
Tak lama kemudian, Zainuddin bertemu relawan yayasan sosial yang menawarinya tinggal di asrama sekaligus bersekolah.
Ia menghabiskan sekitar empat tahun di sana sejak 1993.
Namun pada 1997, karena pergantian kepemilikan yayasan dan kondisi yang tak kondusif, ia kembali berpindah-pindah mengikuti pengasuhnya hingga akhirnya menetap di Jakarta dan menyelesaikan pendidikan sampai lulus SMA.
Keterbatasan baca tulis di masa kecil membuatnya tak pernah tahu asal-usul dirinya secara pasti.
“Kalau ditanya orang asal dari mana, sekolah di mana, saya jawab nggak tahu. Bahkan saya sempat ngaku orang Semarang karena dulu ada yang bilang begitu ke saya,” ujarnya.
Upaya pencarian keluarga terus dilakukan.
Ia pernah menelusuri Semarang, memasang informasi orang hilang di koran, majalah, hingga radio RRI.
Namun semuanya berujung nihil.
Tahun 2018-2019, Zainuddin mencoba menggambar denah lingkungan rumah masa kecilnya berdasarkan ingatan.
Hingga pada 19 Desember 2025, dorongan kuat muncul dalam hatinya.
Sepulang kerja malam, ia menuliskan secara rinci kronologi kehilangan dirinya hingga subuh dan mengunggahnya ke media sosial.
“Itu ikhtiar terakhir saya. Kalau ketemu ya saya terima apa adanya,” ucapnya.
Unggahan itu viral.
Netizen ramai membantu mencocokkan gambar denah yang ia buat.
Banyak yang mengarahkannya ke wilayah Maos, Cilacap.
Hingga pada hari ketiga, bertepatan dengan Hari Ibu, seorang netizen menemukan kecocokan paling mendekati di wilayah Majenang.
“Ada satu komentar yang titiknya sama persis dengan gambar saya, cuma beda sedikit di pertemuan sungai. Dari situ saya mulai yakin,” katanya.
Melalui bantuan warganet, Zainuddin akhirnya mendapatkan kontak keluarganya.
Ia sempat melakukan panggilan video dengan sang ibu sebelum memutuskan pulang kampung pada 25 Desember 2025 bersama istri dan anaknya.
Lokasi rumah yang ia temukan berada di Dusun Jakatawa, Desa Bulaksari, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap.
Dahulu dikenal sebagai Dusun Klepukerep, hanya berpindah dusun dalam satu desa.
“Saya jalan kaki dulu dari rumah ke rel kereta, ternyata jaraknya memang jauh. Rumah itu dekat sungai, persis seperti yang saya ingat,” ujarnya.
Pertemuan itu penuh haru.
Sang ayah telah meninggal dunia.
Ibunya kini berusia 85 tahun.
Dari tujuh bersaudara, empat kakaknya telah wafat, sementara adiknya merantau bekerja.
“Rasanya campur aduk. Saya benar-benar terima kasih sama netizen, luar biasa, terutama dari TikTok. Dan tentu saja sama Allah Yang Maha Kuasa,” ucap Zainuddin.
Kini Zainuddin sudah berada di Bekasi, bekerja di JNE Bekasi dan membawa sang ibu ke Bekasi beberapa hari karena rindu.
Bagi sang ibu, kepulangan Zainuddin menjadi jawaban dari penantian panjang selama lebih dari 32 tahun.
Sementara bagi Zainuddin, pertemuan itu menutup pencarian jati diri yang melelahkan.
“Saya bukan cuma pulang ke rumah, tapi menemukan kembali siapa diri saya sebenarnya,” pungkasnya. (ray)