Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Fatimatuz Zahroh
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Kawasan Terminal 1 Bandara Juanda di Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Kamis (8/1/2026) sore diterjang angun puting beliung.
Terjadi tepat setelah hujan berintensitas tinggi, angin puting beliung tersebut menimbulkan dampak rusaknya sejumlah fasilitas umum di area Terminal 1 Bandara Juanda.
Kalaksa BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menegaskan, angin puting beliung tersebut terjadi sekitar pukul 16.10 WIB.
“Kejadian tersebut mengakibatkan pohon tumbang dan terdapat mobil dan motor tertimpa pohon serta sejumlah fasilitas umum (fasum) mengalami kerusakan. Hingga saat ini belum terkonfirmasi terdapat korban,” tegas Gatot dalam konfirmasi pada Tribun Jatim Network.
Baca juga: Terjangan Angin Puting Beliung di Jombang Sebabkan Atap Beterbangan, Belasan Rumah Warga Rusak
Dari data BPBD Jatim, tercatat ada 10 pohon tumbang di sejumlah titik. Dan ada beberapa kendaraan bermotor yang rusak dan kini masih dalam proses pendataan.
“Akibat angin puting beliung ini juga berdampak pada jadwal penerbangan yang terganggu dan juga akses lalu lintas terhambat karena ada sejumlah pohon yang tumbang,” tegasnya.
Baca juga: Angin Puting Beliung Hancurkan 2 Rumah di Kecamatan Duduksampeyan Gresik, Seorang Gadis Terluka
Menanggapi kejadian ini, BPBD Jatim telah menerjunkan personel di lokasi kejadian untuk melakukan penanganan di lokasi kejadian dan melakukan koordinasi dengan dinas terkait untuk melakukan pembersihan material pohon tumbang.
Lebih lanjut Gatot mengimbau bahwa di bulan Januari ini memang diprediksi adalah puncak musim hujan. Dimana akan ada peningkatan intensitas hujan sebesar 58 persen dibandingkan bulan Desember.
Karenanya, ia meminta masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati ketika ada di luar ruangan terutama saat turun hujan.
“Ketika hujan turun lebih baik berhenti dulu, namun jangan berteduh di pohon yang terlalu rindang. Karena bisa berpotensi tumbang ketika angin besar,” tegasnya.
Tim BPBD Jatim saat ini juga terus melakukan operasi modifikasi cuaca dengan menebarkan garam maupun kapur di awan yang berpotensi hujan. OMC dilakukan sejak awal Desember 2025 lalu hingga akhir Januari 2026 mendatang.