Penguatan Baht Tekan Ekonomi Thailand, Pedagang Dorong Beli Emas Pakai Dolar
kumparanBISNIS January 09, 2026 03:01 PM
Pedagang emas terbesar di Thailand berencana mendorong transaksi emas menggunakan dolar AS. Tujuannya adalah mengurangi pengaruh perdagangan emas terhadap nilai mata uang baht dan mencegah kemungkinan diberlakukannya pajak khusus.
Mengutip Bloomberg, Ketua MTS Gold Group Kritcharat Hirunyasiri mengatakan sebanyak 14 pedagang emas batangan akan meningkatkan sistem perdagangan online mereka dalam waktu tiga hingga enam bulan, agar bisa melayani transaksi berbasis dolar. Bank of Thailand juga telah menyetujui hal ini dan akan untuk bekerja sama dengan bank-bank komersial agar proses penukaran mata uang menjadi lebih mudah.
Langkah ini dilakukan setelah muncul ancaman pengenaan pajak khusus untuk menekan perdagangan spekulatif emas, yang telah mendorong nilai baht ke level tertinggi sejak 2021.
Kenaikan baht ini sebagian disebabkan oleh penjual emas yang menukarkan dolar menjadi baht. Penguatan mata uang tersebut menambah tekanan pada perekonomian Thailand karena membuat ekspor kurang kompetitif dan mengurangi belanja wisatawan.
Tahun lalu baht menguat 8 persen dan menjadi mata uang dengan kinerja terbaik kedua di Asia. Kondisi ini kemudian mendorong bank sentral untuk memperketat aturan pelaporan transaksi emas oleh bank-bank komersial.
Volume perdagangan emas harian di Thailand kadang-kadang setara dengan volume perdagangan di bursa saham lokal. Akibatnya, terjadi transaksi dolar AS dalam jumlah yang sangat besar. Pada masa puncak, bank sentral menyebutkan transaksi terkait emas menyumbang sekitar 50 persen sampai 60 persen dari total perdagangan dolar di Thailand.
Perbesar
Mata uang Thailand, Baht. Foto: Shutterstock
Kritcharat menuturkan meski Bank of Thailand sudah lama mendorong perdagangan emas menggunakan dolar, penerapannya masih terbatas. Alasannya, masyarakat Thailand terbiasa bertransaksi dengan baht dan merasa proses membuka rekening valuta asing terlalu rumit. Jika upaya terbaru ini tidak berhasil, pemerintah mungkin akan menerapkan pajak, seperti pajak keuntungan modal atas transaksi emas berbasis baht, untuk mempercepat perubahan.
“Ini akan menjadi perubahan besar dalam sistem perdagangan emas Thailand. Kali ini, kita harus membiasakan masyarakat berdagang emas dalam dolar, seperti halnya uang digital. Ini akan menguntungkan semua pihak, dan bank sentral pasti senang,” kata Kritcharat dikutip dari Bloomberg, Jumat (9/1).
Kritcharat memperkirakan tiga pedagang emas terbesar di Thailand yang menguasai sekitar 90 persen pasar akan memperbarui sistem mereka dalam waktu tiga bulan agar bisa melayani transaksi berbasis dolar.
Asosiasi Pedagang Emas Thailand mencatat total nilai perdagangan emas tahun lalu diperkirakan mencapai 10 triliun baht (sekitar 318 miliar dolar AS) atau dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Thailand masih menjadi importir emas bersih, dengan impor 180 ton dan ekspor 110 ton.
Presiden asosiasi tersebut, Jitti Tangsithpakdi mengatakan rencana pengenaan pajak khusus atas emas adalah ide yang buruk dan bisa menghancurkan industri emas. “Emas tidak seharusnya dikenakan pajak karena selama ini diperlakukan seperti uang oleh masyarakat Thailand. Emas adalah bagian dari tabungan masyarakat,” ujarnya.
Penyebab Penguatan Mata Uang Thailand Memberatkan Ekonomi
Saat ini ekonomi Thailand sendiri tidak sedang kuat pariwisata masih lesu, utang rumah tangga tinggi, dan ekspor ke AS dikenai tarif sebesar 19 persen. Namun di saat yang sama, nilai tukar baht Thailand sedang menuju kenaikan tahunan terbesar terhadap dolar AS dalam delapan tahun terakhir.
Pergerakan baht sebagian dipicu oleh kenaikan harga emas dan membuat produk manufaktur Thailand menjadi kurang kompetitif. Hal ini menambah tantangan bagi Perdana Menteri baru, Anutin Charnvirakul, yang pemerintahannya akan menghadapi pemilu dini pada Februari mendatang.
Mengapa Baht Thailand begitu kuat?
Perbesar
Ilustrasi mata uang Thailand, Bath. Foto: chatiyanon/Shutterstock
Baht mulai menguat terhadap dolar AS sejak pertengahan 2024, bersamaan dengan peluncuran program stimulus ekonomi pemerintah dan aksi para pelaku pasar yang mulai menjual dolar menjelang siklus penurunan suku bunga oleh bank sentral AS, The Fed. Keraguan terhadap posisi dolar sebagai mata uang cadangan dunia juga ikut mendorong penguatan baht tahun ini.
Penguatan baht teranyar dipicu oleh melemahnya pasar tenaga kerja AS, yang meningkatkan harapan akan penurunan suku bunga The Fed lebih lanjut pada 2026, serta musim puncak pariwisata di Thailand.
Kebijakan tarif impor era Trump juga memberi dorongan bagi ekonomi Thailand, lewat dua cara. Pertama, eksportir mempercepat pengiriman barang produksi lokal seperti mobil ke AS sebelum tarif diberlakukan. Kedua, tarif AS atas produk Thailand sebesar 19 persen lebih rendah dibanding tarif 30 persen yang dikenakan pada banyak produk asal China.
Kondisi ini mendorong produsen untuk membangun pabrik di Thailand guna memasok pasar AS. Nilai proposal investasi asing dan domestik ke Thailand mencapai rekor USD 42,2 miliar dalam tujuh bulan pertama tahun 2025.
Baht juga terdorong oleh lonjakan harga emas lebih dari 60 persen tahun ini, seiring investor melepas aset AS dan beralih ke investasi alternatif seperti emas yang dianggap aman. Emas merupakan instrumen simpanan favorit bagi rumah tangga Thailand, dan investor Thailand punya peran besar dalam perdagangan emas global, menjadikan Thailand salah satu dari 10 pasar emas terbesar di dunia.
Harga emas yang lebih tinggi mendorong pedagang Thailand untuk menjual emas, lalu menukar hasilnya dari dolar ke baht. Akibatnya, ekspor emas Thailand melonjak 52 persen menjadi USD 11,6 miliar pada periode Januari–Oktober, sehingga aliran dolar masuk ke negara tersebut meningkat tajam.
Apa dampak buruk dari Baht yang terlalu kuat?
Baht yang kuat membuat barang-barang Thailand menjadi lebih mahal di pasar internasional. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan ekspor Thailand tumbuh paling lambat dalam lebih dari setahun pada Oktober.
Sektor pariwisata juga terdampak karena baht yang kuat mengurangi daya tarik Thailand sebagai tujuan liburan murah. Pada Oktober, Kementerian Keuangan menurunkan proyeksi jumlah wisatawan asing tahun 2025 menjadi 33,5 juta dari sebelumnya 34,5 juta.
Wisatawan China khususnya mulai menghindari Thailand dan memilih negara yang lebih murah seperti Vietnam dan Malaysia. Selain faktor biaya, kekhawatiran soal keamanan akibat kasus penculikan yang mencuat awal tahun ini juga berperan. Banjir parah di provinsi paling selatan Thailand turut mengurangi jumlah wisatawan dari Malaysia, yang selama ini merupakan penyumbang wisatawan terbesar.
Bagi rumah tangga Thailand, baht yang kuat memang membuat barang impor seperti bahan bakar dan elektronik lebih murah, sehingga membantu menekan inflasi. Namun bagi ekonomi yang sangat bergantung pada ekspor dan pariwisata, dampak negatifnya lebih besar daripada manfaatnya.
Apa yang bisa dilakukan pemerintah?
Perbesar
Ilustrasi emas batangan Foto: Shutter Stock
Setelah bertemu dengan para pelaku industri pada awal September, Anutin mengatakan pemerintahannya akan segera menangani kekhawatiran terkait penguatan baht. Namun, arah kebijakan pemerintah masih tidak pasti akibat situasi politik yang bergejolak.
Anutin membubarkan parlemen pada pertengahan Desember untuk menggagalkan mosi tidak percaya dari Partai Rakyat, rival utama partainya. Pemilu akan digelar pada 8 Februari.
Siapapun yang memimpin Thailand tahun depan akan menghadapi dilema. Jika baht terus menguat, ekonomi yang masih rapuh bisa terganggu. Namun jika pemerintah secara agresif melemahkan baht, AS bisa memberi label Thailand sebagai manipulator mata uang, yang berisiko memicu sanksi dagang dan semakin memukul eksportir.
Untuk saat ini, otoritas Thailand melakukan intervensi terbatas di pasar valuta asing untuk meredam volatilitas yang dianggap berlebihan. Bank of Thailand menyatakan lebih memilih membiarkan baht bergerak sesuai faktor fundamental seperti neraca transaksi berjalan, perbedaan suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi namun tetap siap turun tangan jika gejolak terlalu besar.
Upaya tersebut tidak sepenuhnya pasif. Cadangan devisa Thailand naik ke rekor USD 278 miliar per 12 Desember, setara sekitar setengah dari PDB. Untuk mengatasi penguatan baht, Bank of Thailand mengusulkan peningkatan batas dana valuta asing yang boleh disimpan perusahaan di luar negeri, agar perusahaan lebih fleksibel mengelola pendapatan dalam mata uang asing. Langkah lanjutan masih mungkin dilakukan.
Transaksi emas dengan menggunakan dolar AS adalah salah satu cara untuk mengurangi pengaruh besar emas terhadap baht, salah satunya melalui platform online. Dengan demikian hubungan langsung antara arus emas dan nilai baht bisa berkurang.
Bank of Thailand juga meminta lembaga keuangan memperketat pengawasan transaksi terkait emas guna menekan perdagangan lewat jalur informal.
Langkah lain yang dipertimbangkan adalah pengenaan pajak atas perdagangan emas fisik. Namun, para pejabat menegaskan bahwa kebijakan ini memerlukan waktu, kajian mendalam, dan konsultasi dengan para pelaku industri.