TRIBUNTRENDS.COM - Sebuah video singkat yang beredar di media sosial mendadak menghebohkan publik. Rekaman itu memperlihatkan seorang perempuan dengan penampilan menyerupai pramugari Batik Air berada di dalam pesawat rute Palembang–Jakarta pada Selasa (6/1/2026).
Dalam hitungan jam, video tersebut diunggah ulang berkali-kali, menyebar lintas platform, dan memantik gelombang respons warganet.
Banyak yang terkejut, tak sedikit pula yang mempertanyakan bagaimana penyamaran itu bisa terjadi di ruang yang seharusnya paling ketat keamanannya: pesawat komersial.
Baca juga: Nisya Berhasil Keluar-Masuk Bandara Bak Pramugari Asli, Identitas Terbongkar Gegara Salah Beli Tiket
Di tengah derasnya spekulasi publik, pihak Batik Air akhirnya memberikan klarifikasi resmi. Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, menegaskan bahwa perempuan dalam video tersebut sama sekali bukan bagian dari maskapai.
"Yang bersangkutan tidak terdaftar dalam sistem kepegawaian Batik Air serta tidak memiliki kewenangan apapun untuk bertindak atas nama perusahaan," kata Danang dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (9/1/2026).
Penegasan ini sekaligus mematahkan asumsi publik yang sempat mengira perempuan tersebut adalah awak kabin aktif.
Tak hanya soal identitas, Batik Air juga meluruskan status seluruh atribut yang digunakan oleh oknum pramugari gadungan tersebut.
Menurut Danang, seragam, perlengkapan, dan aksesori yang dikenakan sama sekali bukan bagian dari inventaris resmi maskapai.
Seluruh atribut itu dipastikan tidak dikeluarkan, tidak dibagikan, dan tidak didistribusikan oleh Batik Air dalam bentuk apa pun.
Berdasarkan hasil penelusuran internal, perempuan berinisial KN tersebut tercatat sebagai penumpang yang sah.
Ia membawa boarding pass resmi dan mengikuti prosedur keberangkatan sebagai penumpang umum.
Namun, penampilannya yang menyerupai awak kabin menimbulkan kejanggalan di dalam pesawat.
Danang menjelaskan bahwa kru Batik Air yang bertugas telah menjalankan perannya sesuai dengan Prosedur Operasional Standar (SOP).
"Kru mengenali adanya kejanggalan saat fase inflight service, melakukan pengamatan dan konfirmasi sesuai kewenangan," jelas Danang.
Baca juga: Taktik Nisya Pramugari Gadungan Lolos Pemeriksaan, Penyamaran Runtuh Gegara Tak Bisa Bahasa Inggris
Setelah pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta, awak kabin melaporkan kejadian tersebut kepada petugas Aviation Security (Avsec) untuk penanganan lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.
Langkah ini menandai berakhirnya penyamaran yang sempat membuat publik terkejut dan bertanya-tanya soal celah keamanan penerbangan.
Batik Air menegaskan bahwa pihaknya memandang serius segala bentuk tindakan yang menyerupai atau mengatasnamakan awak kabin tanpa hak.
Terlebih jika melibatkan penyalahgunaan atribut atau identitas yang menyerupai seragam resmi.
Menurut Danang, tindakan semacam ini berpotensi merugikan masyarakat dan mengikis kepercayaan publik terhadap maskapai.
"Seragam, identitas, dan atribut awak kabin Batik Air bersifat resmi dan terbatas, serta hanya digunakan oleh personel yang telah melalui proses rekrutmen, pelatihan, dan penugasan sesuai standar perusahaan," ungkap Danang.
Di akhir pernyataannya, Batik Air mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan yang mengatasnamakan maskapai.
Baik itu pihak yang mengaku sebagai awak kabin, karyawan, atau perwakilan resmi, hingga permintaan uang, transaksi, maupun data pribadi melalui jalur tidak resmi.
Termasuk pula penawaran tiket, promosi, atau kerja sama yang tidak berasal dari kanal resmi Batik Air.
"Batik Air mengajak masyarakat untuk bersama-sama bersikap cermat, waspada, dan tidak mudah percaya kepada pihak yang tidak bertanggung jawab," pungkasnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Mono, mengungkap latar belakang penyamaran tersebut.
Menurutnya, perempuan berusia 23 tahun itu mengenakan seragam pramugari demi meyakinkan orangtuanya bahwa ia telah bekerja di Batik Air.
Padahal, kenyataannya ia tidak lolos seleksi pramugari.
"Dia ngelamar kerja jadi pramugari, namun ternyata gagal," kata Kompol Yandri Mono, dilaporkan Kompas.com, Kamis (8/1/2026).
Baca juga: Pembelaan Pramugari Gadungan yang Bikin Geleng Kepala saat Diamankan, Kru Pesawat Curiga dari Awal
KN diketahui membeli seragam, name tag, dan koper Batik Air melalui online shop. Atribut tersebut ia kenakan sejak berangkat dari rumah menuju bandara di Palembang.
Setibanya di bandara, KN sebenarnya berniat untuk berganti pakaian. Namun, keterbatasan waktu membuat rencana itu batal.
"Jadi kalau pengakuannya dia sebenarnya setelah sampai Bandara di Palembang itu dia mau ganti, namun karena waktunya mepet sehingga dia naik pakai seragam itu ke pesawat sampai ke bandara Soekarno-Hatta," tuturnya.
Kasus pramugari gadungan ini menjadi pengingat bahwa seragam bukan sekadar pakaian, melainkan simbol tanggung jawab, kepercayaan, dan profesionalisme.
Ketika simbol itu disalahgunakan, dampaknya tak hanya personal, tetapi juga menyentuh kepercayaan publik terhadap sistem yang lebih besar.
Dari sebuah video viral, publik kini melihat dengan lebih jernih: di balik seragam rapi dan senyum kabin, ada aturan ketat yang tak bisa dilangkahi begitu saja.
***