Inara Rusli Buka Suara Soal Isu Kekerasan ke Anaknya yang Dituding Eva Manurung, Ini Dampaknya!
January 09, 2026 03:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah badai polemik nikah siri dengan Insanul Fahmi yang kian memanas, Inara Rusli menyimpan duka mendalam sebagai seorang ibu. 

Sudah dua bulan lamanya, ia mengaku tidak bisa bertemu dengan anak-anaknya. 

Saat ini, ketiga buah hatinya berada di bawah pengasuhan sang mantan suami, Virgoun.

Meski diterpa konflik orang dewasa, Inara dengan tegas menyatakan bahwa prioritas utamanya adalah keselamatan mental dan spiritual anak-anaknya. 

Ia tak ingin mereka terseret dalam pusaran masalah yang sedang ia hadapi.

Alasan Inara Rusli Memperjuangkan Hak Asuh

Bagi Inara, hak asuh bukan sekadar status hukum, melainkan amanah besar. 

Ia mengungkapkan alasan mendasar mengapa dirinya bersikeras mempertahankan hak asuh anak selama ini.

“Sebenernya kalau seandainya dirinya (Virgoun) bisa memenuhi kriteria menjadi seorang figur ayah yang sesuai syariat, aku enggak bakalan juga mau repot-repot ngerebut hak asuh anak,” ujar Inara seperti dikutip dari kanal YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo, Jumat (9/1/2026).

Ia menambahkan bahwa dirinya tidak akan menghalangi pertemuan anak dan ayah jika sang mantan suami mampu memberikan bimbingan yang tepat.

“Silahkan kalau emang dia sayang sama anak, dia mampu membimbing dan mendidik anak-anak silahkan aku enggak masalah. Tapi kan yang jadi permasalahan anak-anak ini tanggung jawabnya sampai akhirat,” tegasnya.

Baca juga: Reaksi Inara Rusli Soal Insan Pamer Tangan Banyak Darah, Singgung Suami Gen Z: Semua Dikontenin

Menjawab Tudingan Ibu Kasar dari Eva Manurung

Perjalanan Inara tidaklah mulus. Di tengah perjuangannya, ia sempat mendapat tudingan miring dari mantan mertuanya, Eva Manurung, yang menyebutnya bersikap kasar kepada anak. 

Menanggapi hal tersebut, wanita berusia 32 tahun ini memilih bersikap tenang namun tegas secara hukum.

“Semua omongan itu kan harus ada buktinya karena ini negara hukum. Kalau ada buktinya dan tidak terbukti ya ada konsekuensi hukum kan,” ucap Inara.

Ia menilai bahwa definisi kasar sering kali subjektif dan bergantung pada sudut pandang masing-masing orang. 

Baginya, ketegasan dalam mendidik sering kali disalahartikan.

“Kadang ada orang yang memang tegas sama anaknya itu dianggap kasar. Ada yang ngomong harus dengan gebrak meja itu udah dibilang kasar jadi ya beda-beda,“ jelasnya.

Baca juga: Inara Rusli Aslinya Tidak Ada Perasaan pada Insanul Fahmi, Mau Dinikahi Karena Terlanjur Nyaman

Filosofi Mendidik: Antara Ketegasan dan Kasih Sayang

Sebagai ibu, Inara mengakui memiliki standar disiplin yang kuat, namun tetap berlandaskan prinsip agama. Ia menjelaskan bahwa dirinya memahami batasan dalam memberikan hukuman fisik.

“Aku enggak tau dengan yang dimaksud kasar ini apa, tapi yang jelas aku paham bahwa dalam Islam memukul anak itu tidak boleh menyakiti sampai meninggalkan bekas,“ tuturnya.

Inara pun secara jujur mengakui pernah memberikan hukuman fisik, namun hanya untuk pelanggaran yang dianggapnya sangat fatal dan prinsipil.

Pesan Menohok Soal Rekam Jejak Digital

Menutup perbincangannya, Inara mengajak semua pihak yang terlibat untuk melakukan introspeksi diri. 

Ia menyadari bahwa di era modern ini, segala tindakan akan tercatat secara digital dan kelak akan dilihat oleh anak-anak mereka saat dewasa.

“Kalau emang anak ini harus bersama dengan figur yang baik gitu ya, kalau emang aku enggak cukup baik ya seenggaknya intropeksi diri aja gitu. Mengingat rekam jejak digitalkan juga enggak bisa hilang,“ pungkasnya.

Hingga kini, publik masih menanti kelanjutan dari polemik hak asuh ini, berharap ada titik temu terbaik demi masa depan ketiga anak mereka.

Baca juga: Inara Rusli Siap Jadi Istri Kedua Insanul Fahmi yang Ingin Poligami, Mawa Ogah & Mantap Pilih Cerai

Memahami Dampak Fatal Kekerasan pada Anak

Kekerasan terhadap anak bukan sekadar urusan mendisiplinkan yang kebablasan. 

World Health Organization (WHO) telah memperingatkan bahwa setiap tindakan kasar, baik fisik maupun verbal, meninggalkan luka yang sangat dalam beberapa di antaranya bahkan tidak bisa disembuhkan.

Lantas, apa saja risiko yang mengintai tumbuh kembang buah hati saat mereka menjadi korban perilaku abusif? Mari kita bedah dampaknya secara mendalam.

1. Tragedi Terburuk: Kehilangan Nyawa

Pukulan atau tindakan kasar yang dianggap sepele oleh orang dewasa bisa berakibat fatal bagi tubuh kecil anak. 

Risiko ini tidak hanya menghantui balita, tetapi juga remaja, amarah yang tidak terkontrol bisa merampas masa depan mereka dalam sekejap.

2. Luka Fisik dan Trauma Batin yang Membekas

Meski tidak berujung pada kematian, kekerasan meninggalkan jejak nyata berupa cedera. 

Anak-anak yang hidup dalam lingkungan toksik sering kali harus menyembunyikan memar, bekas lemparan benda keras, atau luka fisik lainnya.

3. Terganggunya Arsitektur Otak dan Sistem Syaraf

Secara kognitif, anak yang sering mengalami kekerasan cenderung mengalami hambatan dalam berpikir. 

Dampaknya? Prestasi akademik di sekolah menurun drastis karena otak mereka terus-menerus berada dalam mode bertahan hidup (survival mode) alih-alih belajar.

4. Pelarian ke Perilaku Negatif dan Merusak Diri

Luka emosional yang tidak terobati sering kali memicu perilaku menyimpang saat anak beranjak dewasa. 

5. Ancaman Penyakit Kronis di Masa Depan

Kekerasan yang dialami saat kecil ternyata berkorelasi dengan kesehatan fisik di masa tua. 

Stres tingkat tinggi (toxic stress) akibat perlakuan kasar dapat memicu penyakit serius seperti kanker, penyakit jantung, diabetes, hingga endometriosis. 

(TribunTrends.com/Darma/Hellosehat.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.