Banjir Nusa Jaya OKU Timur Surut, Sisakan Lumpur dan Trauma Mendalam bagi Warga
January 09, 2026 05:27 PM

SRIPOKU.COM, MARTAPURA - Banjir setinggi 80 sentimeter yang merendam Desa Nusa Jaya, Kecamatan Belitang III, Kabupaten OKU Timur, dilaporkan mulai surut pada Jumat (9/1/2026). 

Meski air telah kembali ke aliran Sungai Muara Balak, bencana ini meninggalkan endapan lumpur pekat di pemukiman serta trauma psikologis bagi warga yang sempat nyaris hanyut saat berupaya menyelamatkan diri.

Miratul salah seorang warga mengungkapkan, pagi itu sekira pukul 05.00 WIB debit air mendadak tinggi. 

Ia bersama keluarga memutuskan meninggalkan rumah untuk mencari tempat aman untuk menyelamatkan diri. 

Baca juga: Diterjang Banjir Material Batu dan Lumpur, 7 Rumah di Desa Air Kelinsar Rusak Berat

Ia menyusuri genangan air yang deras untuk mencari ke lokasi yang tinggi. 

Namun nahas kakinya terpeleset karena dihantam derasnya air. 

"Kaki saya tidak kuat menopang derasnya air, saya terpeleset," kata dia. 

Akibat kejadian itu, ia harus terpisah dengan keluarganya karena semuanya fokus menyelamatkan diri masing-masing. 

"Saya minta tolong sambil melambaikan tangan, tapi semua orang sibuk menyelamatkan diri masing-masing, saya berusaha menyelamatkan diri saya," kata dia. 

Miratul mengaku kuat bertahan dari derasnya arus air karena teringat dengan anaknya yang masih kecil. 

Ingatkan itu memberikan kekuatan ibu muda itu untuk bertahan. 

“Saya ingat anak saya. Itu yang bikin saya bertahan. Alhamdulillah Allah masih kasih keselamatan, saya berhasil menyeberang ke tempat yang aman,” ucapnya dengan suara bergetar sambil menahan tangis.

Pasca kejadian tersebut, kondisi fisik Miratul sempat menurun akibat trauma berat yang dialaminya.

“Badan saya lemas, kepala sakit. Asam lambung saya naik karena shock. Saya sempat dirawat di bidan desa sampai waktu dzuhur,” bebernya.

Sementara itu, Fatimah, kerabat Miratul, menyampaikan bahwa air mulai naik sejak pukul 02.30 WIB dini hari dan meningkat dengan secara perlahan namun pasti.

“Air naik berguyur sedikit demi sedikit. Di dalam rumah tingginya sudah sampai dada orang dewasa,  apalagi di luar rumah bisa bisa tenggelam. Sebab rumah saya ini pondasinya cukup tinggi,” jelas Fatimah.

Ia menambahkan, saat air terus meninggi, anaknya masih berada di dalam rumah untuk menyelamatkan barang-barang.

“Anak saya masih sempat menaikkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Anak saya masih bertahan di rumah karena takut untuk keluar rumah sebab air sudah tinggi” katanya.

Fatimah juga membenarkan kondisi Miratul yang sempat dirawat akibat trauma pasca kejadian.

“Adik saya ini trauma berat karena hampir hanyut. Apalagi dia baru sekitar satu tahun tinggal di sini, jadi masih syok. Pagi ini baru pulang dari bidan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fatimah menyebut banjir besar seperti ini bukan yang pertama kali terjadi di Desa Nusa Jaya, namun skala kali ini dinilai paling parah dalam dua dekade terakhir.

“Banjir besar pernah terjadi sekitar tahun 2004. Setelah itu sempat terulang, tapi tidak sebesar ini. Tahun 2026 ini yang paling besar,” ungkapnya.

Ia mengaku khawatir karena rumahnya berada tidak jauh dari aliran sungai.

“Takut sekali, pak. Rumah saya ini dekat sungai di belakang. Kalau air naik lagi, kami sangat khawatir,” pungkasnya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.