Oleh: Sabarudin, M.Pd. - Kepala SMAN 1 Manggar, Kabupaten Belitung Timur
LITERASI telah lama dielu-elukan sebagai jantung pendidikan. Hampir setiap sekolah mengklaim memiliki program literasi. Hampir setiap dokumen kebijakan menyebut membaca dan menulis sebagai fondasi pembelajaran. Namun, di balik gemuruh jargon dan laporan kegiatan, pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah literasi benar-benar dijalankan, atau sekadar dipamerkan?
Kita perlu jujur mengakui bahwa literasi di banyak ruang pendidikan masih berhenti sebagai formalitas. Ia hadir dalam jadwal, tetapi absen dalam kesadaran. Ramai di awal, redup di tengah, lalu hilang tanpa jejak. Literasi menjadi aktivitas seremonial—bukan kebutuhan intelektual.
Dunia pendidikan Indonesia tidak kekurangan program literasi. Bahkan, jika program diukur dari jumlah, kita bisa dikatakan berlimpah. Namun, justru di situlah persoalannya. Terlalu sering kita sibuk menambah program baru, tetapi lalai merawat yang sudah ada.
Membaca dilakukan karena ada jadwal, bukan karena ada rasa ingin tahu. Menulis dikerjakan karena ada tugas, bukan karena ada gagasan yang ingin disampaikan. Literasi dijalankan demi laporan, bukan demi pemahaman. Ketika literasi hanya dipraktikkan untuk memenuhi kewajiban administratif, maka jangan heran jika dampaknya dangkal. Literasi tidak mati karena kekurangan ide. Ia mati karena dijalankan setengah hati.
Kesalahan mendasar lainnya adalah cara kita memosisikan literasi. Ia sering dianggap sebagai kegiatan tambahan, bukan kebutuhan utama. Membaca 15 menit sebelum pelajaran menjadi ritual tanpa roh. Dilakukan, tetapi tidak dihidupi. Padahal, tidak ada pembelajaran yang benar-benar berlangsung tanpa literasi.
Setiap mata pelajaran menuntut kemampuan membaca makna, menalar informasi, dan mengolah gagasan. Karena itu, gagasan bahwa literasi adalah “urusan guru bahasa” merupakan kekeliruan besar. Setiap guru adalah guru literasi, atau seharusnya demikian. Ketika literasi dipinggirkan, pembelajaran kehilangan kedalaman. Yang lahir bukan pembelajar kritis, melainkan penghafal yang mudah lupa.
Jika literasi ingin berdampak, niatnya harus diluruskan. Literasi bukan aksesori pendidikan. Bukan hiasan program sekolah. Bukan pula alat pencitraan. Membaca bukan agar siswa tampak sibuk memegang buku, tetapi agar mereka mampu memahami dunia yang kompleks. Menulis bukan sekadar menghasilkan teks, melainkan melatih keberanian berpikir dan bertanggung jawab atas gagasan. Literasi sejati membentuk cara berpikir, bukan sekadar portofolio.
Guru yang tidak membaca akan sulit menumbuhkan budaya membaca. Guru yang enggan menulis akan kesulitan mendorong siswa menulis. Dalam literasi, keteladanan jauh lebih keras berbicara daripada instruksi. Begitu pula kebijakan.
Literasi menuntut keberanian berpikir jangka panjang. Ia tidak menjanjikan hasil instan, tetapi justru menentukan kualitas generasi mendatang. Sayangnya, yang jangka panjang sering kalah oleh yang cepat terlihat.
Niat baik tanpa komitmen hanya akan menjadi wacana. Komitmen berarti setia pada proses, meski hasilnya belum segera tampak. Literasi tidak tumbuh dari gebrakan sesaat, melainkan dari kebiasaan kecil yang dijaga terus-menerus.
Menyediakan waktu membaca secara konsisten, memberi ruang diskusi yang sehat, dan menghargai proses menulis siswa jauh lebih bermakna daripada lomba literasi yang sekali lalu. Literasi tidak butuh sensasi, ia butuh ketekunan. Yang lebih penting, literasi bukan urusan satu pihak. Selama literasi hanya dibebankan kepada guru atau sekolah, ia akan rapuh. Literasi harus menjadi kerja bersama—keluarga, sekolah, dan masyarakat berjalan searah.
Totalitas berliterasi berarti berhenti memperlakukan literasi sebagai kegiatan musiman. Literasi harus naik kelas menjadi budaya. Budaya yang mendorong rasa ingin tahu, keberanian bertanya, dan kesediaan menerima perbedaan pandangan.
Dalam budaya literasi, membaca tidak selalu harus buku tebal dan menulis tidak harus selalu formal. Yang utama adalah proses berpikir, merefleksikan, dan memaknai.
Literasi adalah latihan bernalar, bukan sekadar keterampilan teknis. Sekolah yang berbudaya literasi biasanya gaduh oleh diskusi, bukan sunyi oleh ketakutan. Karya siswa dihargai, bukan sekadar dinilai. Di situlah literasi menemukan rumahnya.
Keterbatasan fasilitas, rendahnya minat baca, dan budaya instan sering dijadikan alasan. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa banyak praktik literasi yang kuat lahir justru dari keterbatasan. Yang membedakan bukan sarana, melainkan kesungguhan.
Selama kita terus mencari alasan, literasi akan terus berjalan di tempat. Tetapi ketika komitmen hadir, keterbatasan justru melahirkan kreativitas.
Sudah saatnya kita berhenti berpura-pura berliterasi. Kita tidak kekurangan program, tetapi kekurangan kesungguhan. Program bisa berganti, kebijakan bisa berubah, tetapi tanpa niat yang lurus dan komitmen yang kuat, literasi akan terus menjadi ritual kosong.
Literasi bukan tentang seberapa sering membaca dilakukan, melainkan seberapa dalam bacaan mengubah cara berpikir. Ketika literasi dijalankan dengan totalitas, pendidikan tidak sekadar mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia berpikir. Dan di sanalah pendidikan menemukan martabatnya. (*)