Opini: Melawan Wabah Brain Rot dan Dehumanisasi Digital
January 10, 2026 08:19 AM

Oleh: Adelbertus Pontius Dhae
Mahasiswa Pascasarjana IFTK Ledalero Maumere, Flores.

POS-KUPANG.COM - Kita baru saja menapakkan kaki di tahun baru 2026. Sambil merumuskan resolusi tahun baru, sudah saatnya kita sebagai homo digitalis menata ulang perilaku digital kita. 

Di tengah keriuhan resolusi tahun baru dan banjir bandang digital, ada satu hantu yang masih bergentayangan di ruang siber kita: brain rot. 

Sejak Penerbit Universitas Oxford menetapkannya sebagai word of the year pada akhir 2024, diskursus publik setahun terakhir menyadari bahwa kita sedang berhadapan dengan penurunan kapasitas intelektual dan mental secara sistemik. 

Fenomena ini bukan lagi sekedar tren konten absurd, melainkan sebuah “pandemi perhatian” yang terstruktur. 

Hegemoni Algoritma dan Matinya Kedalaman

Brain rot pada awalnya populer sebagai julukan untuk konten-konten anomali absurd seperti Simpansini Bananini, Tralalero Tralala, dan Tung Tung Tung Sahur. 

Baca juga: Anggota KKB Tewas di Wamena

Menonton konten-konten seperti ini cukup untuk membuat kita mempertanyakan nasib rasionalitas. 

Namun, definisi tersebut telah bermutasi menjadi sebuah kondisi penurunan kapasitas intelektual dan mental akibat konsumsi berlebihan atas konten-konten dangkal daring. 

Masalahnya bukan lagi pada konten receh yang mungkin menghibur, melainkan cara algoritma platform memformat perilaku dan perasaan kita.

Dalam medan tarik menarik antara individu dan platform, posisi manusia sering kali menjadi pihak yang paling lemah. 

Kita berhadapan dengan teknologi yang sengaja dirancang untuk melampaui kegunaan asli dan menciptakan budaya overusing (Cal Neport, 2024). 

Media-media komunikasi digital dikembangkan dalam sistem yang terus memasung kebebasan individu, membajak perhatian, dan melumpuhkan kesadaran para penggunanya. 

Ketika perhatian kita terus menerus dibajak pleh algoritma, kita kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi dan berpikir jernih. 

Di sinilah brain rot bekerja secara sistemik: ia membuat kepala terasa penuh sekaligus kosong, menguras emosi, dan melumpuhkan kontrol diri. 

Kita bukan lagi pengemudi, melainkan kapal tanpa kemudi yang diombang-ambingkan oleh kepentingan korporasi dan ekonomi atensi.

Antropologi Digital: Dari Narsisme ke Perjumpaan

Mengingat semakin pentingnya teknologi digital, narasi-narasi yang cenderung negatif dan mengkambing-hitamkan konten-konten digital tentu tetap perlu dicurigai. 

Bagaimanapun, konten-konten receh bisa jadi alternatif hiburan, budaya populer, atau cara baru merayakan absurditas kehidupan (Anwar Kurniawan, Kompas.id, 18/7/2025). 

Sejarah juga menunjukkan bahwa kritik tajam terhadap suatu media komunikasi baru terdengar lantang ketika media tersebut semakin populer digunakan oleh kalangan biasa (Claudia Paganini dan A. Kristina Steimer: 2024). 

Seolah-olah suatu selera atau gaya hidup lenyap nilainya ketika bisa diakses rakyat jelata. 

Akan tetapi, dengan sedikit kerelaan untuk keluar dari budaya konsumerisme dan indivualisme digital yang sering di-branding sebagai cara terbaik menikmati layanan digital, kita sebetulnya masih dapat bertanya secara jujur: apakah perhatian, kedalaman berpikir, fokus, dan kebeningan batin masih kita anggap bernilai? 

Jika jawabannya adalah ya, maka kecemasan akan brain rot masuk akal.

Banyak strategi telah dikemukakan untuk mengatasi atau pun memitigasi fenomena brain rot seperti pembatasan screen time, kurasi konten, pengembangan literasi, dan peningkatan aktivitas fisik dan sosial. 

Namun, di tengah mentalitas kolektif yang kerap memandang penggunaan media sosial sebagai urusan personal, strategi teknis saja tidak cukup. 

Kita membutuhkan pendekatan etis dan spiritual yang lebih integral supaya dapat keluar dari kungkungan selera dan kepentingan egoistik.

Dalam konteks ini, agama-agama dapat berkontribusi melalui etika digital yang komprehensif untuk menjunjung martabat manusia yang dirongrong digitalisasi. 

Antropologi teologis, misalnya, dapat menjadi alat diagnosa terhadap perilaku yang mencederai kualitas manusiawi di era digital. 

Sejauh mana kebiasaan scoll layar hp mengembangkan rasionalitas, kreativitas, dan sosialitas manusia yang merupakan cerminan manusia sebagai citra Allah? 

Sejauh mana pengembangan dan penggunaan platorm-platform digital melayani pertumbuhan pribadi dan komunitas? 

Kesadaran kritis seperti ini perlu digemakan terus-menerus dalam ruang-ruang religius.

Gereja Katolik, melalui dokumen “Menuju Kehadiran Penuh” (2025) mengajak setiap pengguna media sosial untuk bergerak dari panggung validasi diri yang narsistik-egoistik menuju perjumpaan sejati dalam komunitas yang solider. 

Ruang siber harus dikembalikan fungsinya sebagai ruang kolaborasi dan dialog. 

Keluar dari budaya individualis dan konsumeris ialah langkah awal memulihkan kualitas kemanusiaan kita.

Jalan Keluar Holistik dan Berlapis

Strategi mengatasi pandemi perhatian harus bersifat holistik. Di level sistemik, kita membutuhkan peran negara melalui regulasi dan hukum untuk mengatur cara kerja paltform-platform digital agar tidak terus mengeksploitasi manusia. 

Di level komunitas, dibutuhkan ekosistem melek literasi digital yang mampu mendorong pengembangan media secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, dorongan etis dan spiritual setiap individu tetap merupakan kendali yang berharga. 

Menjadi pengguna media sosial kritis tidak berarti memandang sinis komunikasi sigital, melainkan berani mengambil kendali atas perhatian kita yang berharga. 

Tahun 2026 harus menjadi momentum untuk keluar dari budaya individualis konsumeris digital. 

Setiap orang memiliki potensi menjadi komunikator aktif yang menyebarkan suara-suara kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan lewat jagat digital. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.