BANGKAPOS.COM--Kabar kurang menyenangkan datang dari aktris dan penulis Aurelie Moeremans.
Di saat banyak orang menyambut pergantian tahun dengan penuh suka cita, Aurelie justru harus menghadapi ujian berat berupa peretasan akun media sosial miliknya.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Sabtu (3/1/2026), Aurelie mengungkap bahwa salah satu akun Instagram yang ia kelola telah diretas oleh pihak tak bertanggung jawab.
Akibatnya, ribuan konten penting, termasuk unggahan promosi dan testimoni pembaca buku terbarunya, Broken Strings, lenyap tanpa jejak.
Aurelie menyebut kejadian tersebut sebagai penutup tahun 2025 yang “absurd”.
Ia mengaku serangan digital terhadap dirinya sebenarnya sudah terjadi sejak buku Broken Strings dirilis ke publik.
Hampir setiap hari, ia menerima berbagai upaya peretasan, mulai dari email palsu hingga tautan mencurigakan yang berusaha menjebaknya.
“Tahun 2025 ditutup dengan cukup absurd, aku berhasil di-hack. Jadi semenjak aku rilis buku aku yang Broken Strings itu setiap hari ada yang mencoba masuk ke akun aku, email palsu, link-link ngaco,” ungkap Aurelie.
Aktris berusia 32 tahun itu mengaku sebenarnya sudah cukup berpengalaman menghadapi teror digital.
Ia menyebut bahwa sebelumnya juga kerap menjadi sasaran peretasan, terutama ketika aktif menyuarakan isu-isu sensitif, termasuk politik.
Namun kali ini, peretas berhasil menemukan celah pada akun lain yang baru ia buat.
Akun yang diretas tersebut diketahui merupakan akun khusus yang dibuat Aurelie untuk mempromosikan buku Broken Strings sekaligus menjadi ruang interaksi dengan para pembacanya.
Akun tersebut sempat mengalami penangguhan (suspend), namun berhasil dipulihkan setelah diurus. Sayangnya, kebahagiaan itu hanya bertahan singkat.
“Aku urus sebentar, bisa masuk lagi, tiba-tiba ada notif ada yang log-in dari Bogor dan setelahnya akunnya di-delete,” ujarnya.
Hilangnya akun tersebut menimbulkan dampak berantai. Aurelie kerap menggunakan fitur unggahan kolaborasi (collab post) antara akun utama dan akun buku.
Ketika akun buku dihapus, sejumlah konten kolaborasi di akun utama ikut terhapus secara otomatis.
Namun, yang paling membuat Aurelie terpukul bukanlah hilangnya jumlah pengikut atau konten promosi, melainkan musnahnya ribuan ulasan dan kisah personal dari para pembaca.
Selama ini, akun tersebut menjadi wadah bagi banyak orang untuk berbagi cerita, pengalaman hidup, dan proses pemulihan emosional setelah membaca Broken Strings.
“Sedih, iya. Ribuan review dan cerita orang-orang ikut hilang waktu postingannya kehapus. Tapi dampak Broken Strings gak ikut hilang,” tulis Aurelie.
Meski merasa kesal dan kecewa, Aurelie mencoba tetap berpikir positif.
Ia bersyukur buku Broken Strings telah dibaca oleh lebih dari 60 ribu orang dan memberi manfaat nyata bagi banyak pembaca sebelum insiden ini terjadi.
“Sebelnya ada, tapi bukunya tetap sudah dibaca 60 ribu orang, masih ada di link bio aku, dan sudah banyak orang yang terbantu dengan buku aku,” tuturnya.
Menariknya, alih-alih larut dalam kemarahan, Aurelie justru memilih membalas peristiwa ini dengan langkah yang penuh empati.
Sebagai bentuk perlawanan terhadap energi negatif dari peretas, ia membuka akses membaca buku Broken Strings secara gratis melalui tautan yang dibagikan di bio Instagram pribadinya.
Langkah tersebut mendapat respons positif dari warganet yang membanjiri kolom komentar dengan dukungan dan simpati.
Banyak yang memuji ketegaran Aurelie serta sikapnya yang tetap ingin berbagi, meski tengah dirugikan oleh aksi kejahatan digital.
Insiden ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya keamanan digital, terutama bagi figur publik yang kerap menjadi sasaran peretasan.
Sementara bagi Aurelie, peristiwa ini tampaknya justru mempertegas satu hal, bahwa karya dan dampak positif tidak bisa dihapus begitu saja, bahkan oleh serangan siber sekalipun.
Bangkapos.com/Tribunnewsmaker.com/Candra)