JFlow: Rivalitas Persib vs Persija Setara El Clasico, Tapi Jangan Makan Korban
January 11, 2026 11:57 AM

TRIBUNNEWS.COM - Pertemuan antara Persib Bandung dan Persija Jakarta kerap disebut sebagai El Clasico Indonesia. Tensi tinggi, sejarah panjang, dan gengsi antar-suporter membuat laga ini memiliki nilai jual fantastis. Hal tersebut ditegaskan oleh musisi sekaligus rapper JFlow.

Persib Bandung akan menjamu Persija Jakarta pada pekan ke-17 Super League/Liga 1 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada Minggu (11/1/2026) sore. 

Menurut JFlow, Indonesia patut bangga memiliki rivalitas sepak bola yang bisa disejajarkan dengan liga-liga top dunia.

“Kalau La Liga punya El Clasico, Inggris punya North West Derby (MU vs Liverpool), Manchester Derby, dan Serie A ada Derby della Madonnina. Indonesia punya ini nih, Persib-Persija,” ujar JFlow saat ditemui di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, Sabtu (10/1/2026) malam.

JFlow menilai rivalitas ini adalah aset berharga bagi industri sepak bola nasional. Media dan masyarakat pun menyadari betapa tingginya nilai jual pertandingan tersebut. Namun, ia memberi catatan penting agar rivalitas tetap dijalankan secara sehat.

“Kalau rivalitas, kudu lah. Kalau enggak ada rivalitas, nonton bola apa serunya? Rivalitas bikin tim lawan tertekan. Tapi jangan sampai berujung kriminal atau anarkis,” tegas pria berusia 40 tahun itu.

Ia mengecam keras aksi-aksi negatif seperti sweeping kendaraan, pemeriksaan plat nomor, hingga intimidasi yang membuat masyarakat takut datang ke stadion.

“Tradisi rivalitas perlu dilanjutkan, tapi kekerasan vandalismenya jangan. Rivalitasnya jangan yang makan korban,” tambahnya.

Bagi JFlow, esensi sepak bola adalah hiburan. Kemacetan atau keramaian jalanan saat pertandingan dianggapnya sebagai bagian dari pesta bola, namun kekerasan fisik adalah hal yang haram.

Dengan pesan tersebut, JFlow berharap rivalitas Persib vs Persija tetap menjadi tontonan penuh gengsi, namun tetap aman dan membanggakan bagi sepak bola Indonesia.

Baca juga: Laga Persib vs Persija El Clasico di GBLA: Semua yang Perlu Anda Ketahui

El Clasico Indonesia dari Masa Kolonial hingga Era Modern

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, rivalitas antara Persib Bandung dan Persija Jakarta bukanlah hal asing. Pertemuan keduanya kerap disebut sebagai El Clasico Indonesia, sebuah duel penuh drama, emosi, dan gengsi yang melibatkan dua klub terbesar di tanah air.

  • Akar Rivalitas Sejak Masa Kolonial

Sejarah panjang rivalitas ini sudah dimulai sejak masa kolonial. Tim Jakarta saat itu   bernama Voetbalbond Indonesische Jacatra, sedangkan kesebelasan Bandung dikenal dengan nama Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond. Pertemuan mereka sejak awal selalu berlangsung penuh semangat, membentuk basis penggemar setia di kedua kota.

  • Persaingan Menguat di Era Perserikatan

Pada era 1930-an hingga 1970-an, kedua klub kerap mendominasi kompetisi Perserikatan. Persija yang berdiri pada 1928 dan Persib pada 1933 sama-sama memiliki kiprah stabil. Rivalitas semakin sengit seiring bertambahnya basis pendukung fanatik, baik di Jakarta maupun Bandung.

  • Memanas di Era 2000-an

Rivalitas meruncing pada era 2000-an ketika kedua klub bertemu dalam kompetisi resmi Liga Indonesia. Sejak itu, setiap pertemuan selalu dinantikan publik. Hingga September 2024, Persib dan Persija telah bertemu 49 kali, dengan laga terakhir dimenangkan Persib 2-0 atas Macan Kemayoran.

Momen bersejarah juga tercatat pada final Piala Menpora 2021, ketika Persija mengalahkan Persib 2-1, memicu euforia besar di kalangan The Jakmania.

Baca juga: Ada Eks Bomber Persib & Persija, 5 Pesepak Bola Liga 1 Miliki Pasangan Pevoli Proliga

Suporter Fanatik: Bobotoh dan The Jakmania

Rivalitas ini bukan hanya soal klub, tetapi juga identitas dua kota besar. Suporter Persija dikenal sebagai The Jakmania, berdiri pada 1997 dengan warna oranye sebagai identitas. Sementara suporter Persib disebut Bobotoh, dengan kelompok terbesar Viking Persib Club (VPC) yang berdiri pada 1993.

Kedua kelompok suporter memiliki basis besar dan fanatisme tinggi, namun juga kerap melahirkan ketegangan di luar lapangan. Meski begitu, ada pula upaya dari kedua pihak untuk menjalin persahabatan dan mengurangi konflik.

  • Rivalitas Abadi, Harapan Sportivitas

Kini, baik Persib maupun Persija terus berjuang di kompetisi domestik dan internasional. Rivalitas mereka menjadi aset berharga bagi sepak bola nasional, menghadirkan atmosfer khas yang selalu dinanti.

Ke depan, diharapkan rivalitas ini tetap berjalan dalam semangat sportivitas, menjadi tontonan penuh gengsi tanpa memakan korban, serta membawa kontribusi positif bagi perkembangan sepak bola Indonesia.

Laga Persib Bandung vs Persija Jakarta dikenal sebagai salah satu rivalitas paling panas dalam sepak bola Indonesia. Persaingan ini tumbuh sejak era Perserikatan dan berlanjut hingga Liga Indonesia, melibatkan basis suporter besar Bobotoh dan The Jakmania.

Namun, dalam lebih dari satu dekade terakhir, rivalitas ini juga mencatat sejumlah insiden kekerasan di luar stadion. Data menyebutkan setidaknya tujuh suporter meninggal dunia sejak 2012 akibat bentrokan yang berkaitan dengan laga kedua tim.

  • Tragedi Haringga Sirila

Peristiwa paling disorot terjadi pada 23 September 2018 di Bandung, ketika seorang suporter Persija bernama Haringga Sirila (23 tahun) meninggal dunia setelah dikeroyok sebelum pertandingan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api.

Kejadian tersebut terekam kamera dan menyebar luas di media sosial, memicu penyelidikan kepolisian serta sanksi dari otoritas sepak bola.

Kelompok suporter Persib, Viking Persib Club, kemudian menyampaikan duka cita dan menegaskan penolakan terhadap kekerasan.

“Jangan biarkan rivalitas ini menjadi penyakit yang menambah korban dari masing-masing pihak,” tulis pernyataan resmi Viking.

  • Catatan Kelam Lain
  1. 27 Mei 2012, Jakarta: Tiga suporter Persib, yakni Lazuardi, Rangga Cipta Nugraha, dan Dani Maulana meninggal dunia setelah pengeroyokan di luar Stadion Gelora Bung Karno.
  2. 6 November 2016, Cirebon: Bentrokan suporter kembali menelan korban jiwa. Suporter Persib bernama Gilang dan suporter Persija Harun Al Rasyid Lestaluhu meninggal dunia dalam insiden terpisah terkait konvoi pendukung.
    Fokus Keamanan Jelang Laga 2026

Rangkaian peristiwa tersebut menempatkan duel Persib vs Persija sebagai pertandingan dengan tingkat risiko keamanan tinggi. Aparat dan federasi sepak bola menerapkan sejumlah kebijakan, termasuk pembatasan kehadiran suporter tamu dan pengamanan berlapis.

Menjelang laga panas yang dijadwalkan berlangsung pada 11 Januari 2026, perhatian kembali tertuju pada rekam jejak rivalitas ini. Pengamanan pertandingan menjadi fokus utama agar tragedi masa lalu tidak terulang, sehingga rivalitas tetap menjadi tontonan penuh gengsi tanpa memakan korban.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.