Dari AC Milan ke Ajax: Maximilian Ibrahimovic Ulang Kisah Legendaris Ayahnya
January 11, 2026 04:30 PM

TRIBUNNEWS.COM – Jejak Zlatan Ibrahimovic kembali terulang. Kali ini bukan sang legenda, melainkan putranya, Maximilian Ibrahimovic, yang resmi mengikuti langkah ayahnya dengan hijrah dari AC Milan ke Ajax Amsterdam.

Berbagai sumber, termasuk Sky Sport Italia, memastikan bahwa kesepakatan telah rampung pada hari ini, Minggu (11/1/2026).

Baik Ajax dan AC Milan kini hanya tinggal menuntaskan pertukaran dokumen administrasi.

Maximilian bergabung dengan Ajax dengan status pinjaman hingga akhir musim, disertai opsi pembelian permanen senilai 3,5 juta euro (sekitar Rp68,6 miliar).

AC Milan juga menyertakan klausul persentase penjualan kembali dalam kesepakatan tersebut.

Max, panggilan dari anak pasangan Zlatan Ibrahimovic dan Helena Seger itu, dijadwalkan tiba di Amsterdam pada hari ini, Minggu (11/1/2026). Ia direncanakan menjalani tes medis keesokan harinya.

Pemain berusia 19 tahun itu sebelumnya memperkuat AC Milan Futuro, tim akademi Rossoneri, setelah bergabung sejak 2022.

Sepanjang musim ini, Maximilian tampil cukup impresif di Serie D dengan catatan lima gol dan empat assist dari 16 pertandingan, meski tim mudanya harus menelan kenyataan pahit terdegradasi dari Serie C pada akhir musim lalu.

SELEBRASI - Selebrasi anak Zlatan Ibrahimovic, yakni Maximilian Ibrahimovic saat masih membela akademi AC Milan (Milan Futuro).

Nostalgia Ibrahimovic di Ajax

Kepindahan Maximilian ke Ajax langsung mengundang nostalgia besar. Pasalnya, sudah 22 tahun berlalu sejak terakhir kali nama Ibrahimovic menghiasi daftar pemain Ajax.

Zlatan sendiri pernah memperkuat klub raksasa Belanda itu pada periode 2001 hingga 2004, sebelum hijrah ke Juventus dan memulai petualangan panjangnya di Serie A.

Bersama Ajax, Zlatan mencatatkan 48 gol dan 17 assist dari 110 penampilan di semua kompetisi, sekaligus menjadikan klub tersebut sebagai panggung besar awal kariernya di level elite Eropa.

Selain itu, Zlatan juga memberikan banyak gelar ke Ajax termasuk 2x juara Liga Belanda, sekali juara Piala Belanda dan Piala Super Belanda.

Baca juga: Uang Goyahkan Kesetiaan, Christopher Nkunku Tinggalkan AC Milan Gegara Naik Gaji Rp137 M

Kini, tongkat estafet itu berpindah ke Maximilian, yang diharapkan mampu mengulang bahkan melampaui jejak sang ayah.

Menariknya, saat ini Zlatan Ibrahimovic masih memiliki hubungan erat dengan AC Milan, setelah ditunjuk sebagai penasihat senior klub.

Kepindahan Maximilian ke Ajax pun menjadi cerita simbolis: seorang Ibrahimovic meninggalkan Milan menuju Amsterdam, persis seperti yang dilakukan ayahnya dua dekade silam.

Publik kini menanti, apakah Maximilian Ibrahimovic mampu mengukir kisah emasnya sendiri, atau justru hidup di bawah bayang-bayang besar nama Zlatan.

Maximilian Ibrahimovic Awalnya Benci Sepak Bola

Di balik nama besar Ibrahimovic, tersimpan kisah mengejutkan dari Maximilian Ibrahimovic. Putra legenda sepak bola Zlatan Ibrahimovic itu ternyata pernah membenci sepak bola saat masih kecil.

Pengakuan jujur tersebut disampaikan Maximilian setelah menerima panggilan pertamanya ke timnas Swedia U-18 pada Oktober 2024 lalu.

Dalam wawancaranya dengan Sportbladet, yang dikutip Milan News, Maximilian mengungkapkan bahwa hubungannya dengan sepak bola tidak selalu berjalan mulus.

“Saya mulai cukup terlambat, saya baru berusia sembilan tahun,” ujar Maximilian.

Perjalanannya di dunia sepak bola pun terbilang nomaden. Ia sempat berlatih di berbagai negara mengikuti jejak karier sang ayah.

“Saya mulai di klub lokal di Paris. Setelah itu saya bermain di akademi PSG, lalu pindah ke akademi Manchester United. Kami kemudian pindah ke Amerika Serikat, saya bermain di Los Angeles, lalu LA Galaxy. Setelah itu ke Swedia bersama Hammarby, dan akhirnya ke Italia bersama Milan,” paparnya.

Namun di balik perjalanan panjang tersebut, Maximilian menyimpan perasaan getir terhadap olahraga yang kini membesarkan namanya.

“Saya benci sepak bola," terus terang Maximilian.

“Sampai umur 11 tahun, saya membenci sepak bola. Saya pikir itu adalah hal terburuk di dunia,” katanya.

"Baru ketika menginjak usia 11 hingga 12 tahun, perasaannya mulai berubah. Saat itu saya mulai menyukainya,” tambahnya.

Lebih jauh, Maximilian mengungkap alasan utama di balik kebenciannya terhadap sepak bola: bayang-bayang besar Zlatan Ibrahimovic.

“Tidak ada yang terasa benar. Semuanya salah. Saya selalu dibandingkan dengan ayah saya,” ungkapnya jujur.

Tekanan sebagai anak seorang legenda membuat Maximilian merasa tidak cocok berada di dunia sepak bola.

“Saya tidak cocok. Tapi kemudian saya menemukan kecintaan saya sendiri pada olahraga ini,” tutupnya.

Kini, Maximilian Ibrahimovic perlahan membangun identitasnya sendiri, bukan sebagai ‘anak Zlatan’, melainkan sebagai pesepak bola muda yang berusaha menulis kisahnya sendiri di lapangan hijau.

(Tribunnews.com/Ali)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.