TRIBUNNEWS.COM - Militer Iran meningkatkan status kesiagaan penuh di tengah kekhawatiran akan kemungkinan intervensi militer Amerika Serikat dan Israel.
Langkah ini diambil menyusul meningkatnya tensi regional serta pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan campur tangan dalam situasi Iran.
Mengutip laporan Khaberni, dalam beberapa hari terakhir, Presiden Trump berulang kali menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menghantam Iran “dengan sangat keras” apabila aparat Teheran mulai membunuh para demonstran.
Trump menegaskan bahwa peringatan tersebut bukan sekadar retorika. Menurutnya, pesan serupa telah disampaikan langsung kepada pihak Iran dengan nada yang jauh lebih tegas.
Ia menyoroti pola lama pemerintah Iran yang kerap menggunakan kekerasan dalam merespons aksi unjuk rasa hingga memicu lonjakan korban tewas mencapai 45 orang, termasuk empat anggota pasukan keamanan.
Alasan ini yang mendorong Trump untuk menyatakan dukungan terhadap demonstran damai Iran, Washington ingin menegaskan bahwa protes ekonomi dan sosial adalah hak warga sipil, bukan tindakan kriminal.
Namun, pemerintah Iran menilai pernyataan Trump yang menyatakan dukungan terhadap demonstran di Iran sebagai tindakan yang melampaui batas diplomasi.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa setiap agresi militer Amerika Serikat terhadap Iran akan dianggap sebagai deklarasi perang. Ia menekankan bahwa Iran tidak akan tinggal diam jika diserang.
Baca juga: Serangan Israel ke Tenda Pengungsi Gaza Bunuh 3 Orang, Korban Tembus 425 Jiwa Sejak Gencatan Senjata
Pemerintah Iran juga melihat pernyataan Trump dalam konteks sejarah panjang ketegangan antara kedua negara.
Dalam pandangan Teheran, retorika dukungan terhadap demonstran kerap digunakan sebagai pembenaran politik untuk intervensi asing, sebagaimana pernah terjadi di sejumlah negara lain.
Karena itu, pernyataan Trump dinilai bukan sekadar solidaritas, melainkan bagian dari strategi tekanan yang berpotensi berujung pada tindakan militer.
Atas dasar inilah, Teheran menyatakan bahwa jika Amerika Serikat benar-benar melangkah lebih jauh dari pernyataan politik menuju tindakan nyata, Iran akan menganggapnya sebagai deklarasi perang dan siap merespons dengan langkah yang tegas.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi peringatan bahwa dukungan terbuka AS terhadap demonstrasi di Iran telah dipandang sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional negara tersebut.
Merespon ketegangan yang semakin memanas antara Iran dan AS, tiga sumber Israel yang mengetahui perkembangan tersebut mengungkapkan bahwa Tel Aviv juga telah menaikkan tingkat kewaspadaan militernya.
Dalam skenario tersebut, Israel dipandang berisiko menjadi target balasan Iran, mengingat hubungan permusuhan yang telah lama berlangsung antara kedua negara.
Peningkatan kewaspadaan ini juga tidak terlepas dari pengalaman konflik sebelumnya. Israel dan Iran diketahui sempat terlibat konfrontasi militer selama 12 hari pada Juni lalu, yang memperlihatkan bahwa ketegangan dapat dengan cepat meningkat menjadi aksi militer.
Situasi tersebut menjadi pertimbangan utama bagi otoritas keamanan Israel dalam membaca potensi eskalasi lanjutan.
Sumber-sumber Israel menyebutkan bahwa langkah ini bersifat preventif, untuk memastikan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk serangan balasan terhadap kepentingan Israel atau pangkalan-pangkalan yang berafiliasi dengan Amerika Serikat di kawasan.
Namun demikian, pihak Israel tidak mengungkapkan secara rinci bentuk langkah konkret yang diambil dalam status siaga tersebut, dengan alasan pertimbangan keamanan.
Dengan meningkatkan kesiapsiagaan, Israel berupaya mengantisipasi dampak dari dinamika geopolitik yang berkembang cepat di Timur Tengah.
Menunjukkan bahwa Tel Aviv menilai situasi saat ini sebagai fase rawan yang berpotensi memicu eskalasi regional, terutama jika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran berujung pada tindakan militer terbuka.
(Tribunnews.com / Namira)