TRIBUNTRENDS.COM - Semua pihak diminta untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul maraknya aksi kejahatan jalanan yang kini menyasar anak-anak usia sekolah dasar.
Dalam waktu berdekatan, dua kasus penjambretan yang melibatkan bocah SD terjadi di Solo, Jawa Tengah, dan Medan, Sumatera Utara, sehingga memicu keprihatinan publik.
Aksi kejahatan tersebut menunjukkan bahwa pelaku tidak lagi memilih-milih korban.
Anak-anak berseragam merah putih pun kini menjadi sasaran empuk.
Baca juga: Kuatnya Tubuh Mungil Jovita, Bocah SD Medan Terseret Jambret 20 Meter, Kaki Berdarah Tergerus Jalan
Di Medan, seorang bocah SD menjadi korban penjambretan saat beraktivitas di luar rumah.
Meski bertubuh mungil, bocah tersebut menunjukkan keberanian luar biasa dengan mencoba melawan pelaku.
Korban bahkan nekat mengejar penjambret hingga akhirnya terseret di atas aspal sejauh kurang lebih 20 meter.
Peristiwa itu membuat bocah tersebut mengalami luka, namun keberaniannya sontak menuai perhatian dan simpati masyarakat.
Sementara itu, kasus serupa juga terjadi di Solo, Jawa Tengah.
Seorang bocah SD dirampas anting yang dikenakannya oleh pelaku kejahatan.
Tak hanya kehilangan perhiasan, korban juga disebut-sebut sempat mendapat ancaman penculikan, sehingga membuat trauma mendalam bagi anak dan keluarganya.
Rangkaian peristiwa ini menjadi peringatan keras bagi orang tua dan masyarakat agar lebih waspada dalam mengawasi aktivitas anak-anak, terutama saat berada di luar rumah.
Kejahatan jalanan yang menyasar bocah SD menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak perlu menjadi perhatian serius semua pihak.
Bocah berseragam merah putih di Medan viral gegara berani melawan penjambret yang menjambret tas miliknya pada Sabtu (10/1/2026) siang
Meski tubuhnya mungil, bocah Sekolah Dasar (SD) ini menunjukkan keberanian luar biasa saat mempertahankan harta benda miliknya dari seorang penjambret hingga terseret di aspal sejauh 20 meter.
Dia adalah Jovita Vianitan (9), yang kini duduk di kelas 3 SD.
Diketahui, seorang pencuri mendatangi rumah Jovita Vianitan di kawasan lorong 36, Gang Perabot, Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan, Sabtu (10/1) siang hari.
Kejadian terjadi sekitar pukul 11.30 WIB.
Saat itu, Darfan (52), ayah korban, tengah menjemput anaknya di sekolah yang tak jauh dari rumahnya.
Setelah menunggu hampir 20 menit dan anaknya tak kunjung muncul, Darfan memutuskan pulang dengan asumsi anaknya mungkin sudah lebih dahulu tiba di rumah.
"Saya tunggu-tungguin enggak pulang, akhirnya saya pulang sendiri. Pas sampai rumah, saya lihat anak saya sudah ada di rumah tapi kakinya berdarah-darah," ujar Darfan saat ditemui Tribun Medan, Minggu (11/1).
Berdasarkan keterangan dari rekaman Closed-Circuit Television (CCTV) dan anaknya, diketahui saat kejadian sang anak sedang berada di kamar mandi.
Jovita Vianitan, mendengar adanya suara orang membuka pintu rumah dan mengira itu adalah ayahnya yang pulang kerja.
Pas pintu rumah tersebut dibuka, tanpa diduga yang masuk adalah seorang pria bertubuh besar yang diduga seorang pekerja serabutan.
Pelaku langsung mengambil tas yang berisi dompet milik anaknya serta sebuah handphone.
Jovita yang menyadari kejadian itu segera mencegat pelaku untuk tidak kabur.
Namun usaha korban yang mencegat pelaku bertubuh besar ini sia-sia dan pelaku langsung kabur.
Akan tetapi, Jovita tidak membiarkan begitu saja pelaku kabur.
Jovita mengejar pelaku hingga ke sepeda motor yang digunakan pelaku.
Ia bahkan sempat memegang besi behel (rangka) sepeda motor sambil berusaha menghalangi pelaku kabur.
"Saat itu pelaku melirik ke belakang lalu tancap gas. Anak saya diperkirakan terseret aspal sejauh kurang lebih 20 meter," ujarnya.
DARFAN mengatakan, akibat insiden tersebut, anaknya mengalami luka di bagian kaki hingga berdarah.
Keluarga bersyukur tangan sang anak tidak terluka parah.
Meski sempat mengambil handphone, pelaku kemudian berhenti dan mengembalikan ponsel tersebut kepada anak korban.
Namun, tas berisi uang Rp 100 ribu milik Darfan tetap dibawa kabur.
"Kami sudah melaporkan kejadian ini ke pihak lingkungan setempat, namun belum melapor ke polisi, yang rencananya akan membuat laporan jika kondisi korban. Kalau parah, baru akan saya laporkan," lanjutnya.
Keluarga memastikan pelaku hanya seorang pria yang bertindak sendiri dan hanya membawa tas berisi uang.
Alsava Cantika Cahya, siswi kelas 1 SDN 3 Jaten, Karanganyar, Jumat (9/1/2026) mengalami pengalaman menakutkan.
Di usianya yang masih sangat belia, Alsava harus berhadapan dengan ancaman orang asing tepat setelah jam pelajaran usai.
Anting kecil yang melekat di telinganya menjadi sasaran, dirampas dengan cara yang membuatnya ketakutan.
Kepala SDN 3 Jaten, Chatarina Retmawati, membenarkan peristiwa tersebut.
Kejadian terjadi sekitar pukul 10.30 WIB, saat suasana sekolah mulai lengang karena siswa bersiap pulang.
"Benar, ada siswi kami dirampas antingnya, dan sekolah serta orangtua korban sudah melaporkan kejadian ini ke kepolisian," kata Catarina, Minggu (11/1/2026).
Menurut Catarina, korban merupakan siswi kelas 1 bernama Alsava Cantika Cahya, putri dari pasangan Danang Nur Cahyo dan Nia Gustianingrum, warga Desa Jati, Kecamatan Jaten.
Peristiwa itu terjadi tepat setelah Alsava keluar dari lingkungan sekolah.
"Kejadian saat itu ketika pulang sekolah, korban dihampiri pelaku dan diminta melepas antingnya oleh seorang wanita yang mengaku akan menculiknya jika tidak dilepas, dan ditaruh di tasnya," kata dia.
Ancaman itu membuat Alsava tak berdaya. Pelaku kemudian membawa korban ke kamar mandi sekolah, tempat anting tersebut dilepas langsung dari telinga bocah itu.
"Pelaku membawa korban ke kamar mandi untuk melepaskan anting itu dari telinga korban, setelah itu, pelaku meninggalkan korban," ujar dia.
Tak lama berselang, orangtua Alsava datang menjemput. Mereka langsung curiga saat melihat telinga anaknya sudah tanpa anting.
Ketika ditanya, Alsava menjawab bahwa anting tersebut disimpan di dalam tas.
Namun, firasat buruk orangtua korban terbukti. Setelah tas diperiksa, anting itu tidak ditemukan.
"Orangtuanya korban memiliki firasat jika anaknya jadi korban perampasan, ia mengecek tas korban dan tidak ditemukan anting itu. Sehingga kejadian itu dilaporkan ke kami dan bersama orangtua korban, kami melaporkan kejadian tersebut ke polisi," kata Catarina.
Kini, kasus tersebut tengah ditangani kepolisian. Pihak sekolah berharap peristiwa ini menjadi perhatian bersama agar lingkungan sekolah kembali menjadi tempat yang aman bagi anak-anak
Perampasan anting yang menimpa siswi SDN 3 Jaten, Desa/Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, pada Jumat (9/1/2026) siang, terus ditindaklanjuti.
Dari hasil penelusuran pihak sekolah, wajah pelaku kini telah teridentifikasi dan diketahui pernah melakukan aksi serupa di wilayah lain.
Kepala SDN 03 Jaten, Chatarina Retmawati, menyampaikan bahwa identitas visual pelaku perampasan anting milik Cantika Cahya, putri pasangan Danang Nur Cahyo dan Nia Gustianingrum, sudah diketahui dan telah dilaporkan kepada pihak kepolisian.
“Kami sudah mengetahui wajah pelaku dan melaporkan kejadian tersebut ke polisi,” kata Chatarina, Minggu (11/1/2026).
Ia menjelaskan, dari hasil pencocokan rekaman CCTV, pelaku diduga bukan kali pertama melakukan aksinya.
Pelaku diketahui pernah melakukan perampasan serupa di Kota Solo, tepatnya di salah satu sekolah dasar swasta.
Chatarina mengungkapkan, informasi tersebut bermula dari orang tua korban yang memiliki kenalan dengan orang tua siswa di Solo.
Saat melihat rekaman kejadian, muncul kecurigaan adanya kesamaan pelaku.
“Orang tuanya korban ternyata punya teman yang anaknya sekolah di Solo, kemudian teman dari orang tu korban itu bilang, ‘Kok kayak ojo-ojo?’ atau pelakunya sama seperti yang peristiwa yang di kota Solo, kemudian setelah saya cek di CCTV itu, ternyata pelakunya sama,” pungkas dia.
Saat ini, pihak sekolah menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus tersebut kepada kepolisian dan berharap pelaku segera ditangkap.
(TribunTrends.com/Tribunnews.com)