TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Permasalahan sampah di Kota Denpasar menjadi sangat mendesak saat ini.
Apalagi per 1 Maret 2026, TPA Suwung direncanakan akan ditutup total.
Selama ini, Denpasar sangat bergantung pada TPA Suwung tersebut.
Berbagai langkah dan upaya pun dilakukan untuk mengatasi permasalahan sampah.
Baca juga: SELAMAT JALAN Pak Made, Nyawa Korban Melayang di Tikungan Kubutambahan Buleleng
Termasuk juga sampah yang dihasilkan di sekolah yang ada di Denpasar.
Terkait hal ini, Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, AA Gde Wiratama mengatakan sampah yang dihasilkan di sekolah tak ada yang dibuang ke luar.
Menurutnya semua sampah tersebut diolah di lingkungan sekolah.
Baca juga: Nyawa Made Lemes Tak Tertolong, Pria 59 Tahun Meninggal Dunia Usai Terlibat Lakalantas
Pengolahan ini dilakukan dengan menggunakan teba modern, komposter dan bank sampah.
"Sampah di sekolah diolah langsung. Kan sudah ada teba modern dan komposter untuk sampah organik," ungkapnya, Senin, 12 Januari 2026.
Sementara itu, untuk sampah plastik dibawa ke bank sampah.
"Sehingga tak ada yang dibuang keluar sekolah," imbuhnya.
Saat ini, dengan teba modern, TPS3R, hingga pusat daur ulang (PDU) jumlah sampah yang bisa dikelola di Denpasar sebanyak 300 ton per hari.
Sementara untuk volume sampah harian di Denpasar 1.050 ton.
Untuk itu Pemkot Denpasar juga menyiapkan solusi pengolahan sampah di dalam kota dengan memasang mesin pengolah berkapasitas 200 ton per hari.
Sementara sisanya yang tidak bisa diolah direncanakan akan dikirim ke TPA Landih Bangli.
Jika mesin pengolahan 200 ton per hari dapat beroperasi optimal, sebagian sampah akan diolah langsung di dalam kota.
Pemkot Denpasar pun menyiapkan anggaran sebesar Rp103 miliar untuk sewa truk pengangkut sampah selama setahun. (*)