SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Manajer Tim Sriwijaya FC Eko Saputro mengakui target tim Elang Andalas saat ini realistis dalam situasi krisis menjalani kompetisi Pegadaian Championship 2025/26.
"Untuk target kita realistis ya. Perolehan poinnya Sriwijaya FC terpaut jauh banget. Kita pasti maksimal. Minimalnya meringankan tugas Pak Anggoro itu sendiri dari sisi finansial dan beberapa pun saya juga mencari sponsor kecil-kecilanlah," ungkap Eko Saputro kepada Sripoku.com.
HIngga laga ke-15, tim Sriwijaya FC masih betah di peringkat 10 alias juru kunci klasemen sementara grup wilayah barat dengan raihan 2 poin. Terpaut 15 poin dengan Persekat Tegal (17 poin) di peringkat 9.
Eko Saputro yang merupakan founder dan owner Ereight Apparel mengaku telah menyiapkan pemain anyar untuk mengisi krisis pemain Sriwijaya FC pada bursa transfer window periode kedua ini.
"Kalau pemain saya belum bisa berani info. Tapi pasti ada. Salah satunya bekas mantan dulu Sriwijaya FC, Derry Herlangga. Kemudian Coach Tedi Berlian juga bakal membantu di ofisial," kata Eko Saputro yang juga Manajer Tim PSB Bogor.
Nama Eko Saputro mendadak jadi sorotan di dunia sepakbola Tanah Air. Pengusaha muda kelahiran Bogor, 27 November 1987, resmi turun tangan menangani Sriwijaya FC di putaran kedua Pegadaian Championship 2025/26. Keputusan ini bukan sekadar langkah bisnis, melainkan panggilan hati.
“Yang pertama saya sudah pegang apparelnya Sriwijaya FC, dan yang kedua kedekatan saya dengan Pak Anggoro (Direktur Olahraga PT SOM Anggoro Prajesta),” ungkap Eko saat diwawancarai Sripoku.com.
Eko bukan orang asing bagi Laskar Wong Kito. Melalui Ereight Apparel, ia sudah menjadi sponsor resmi jersey Sriwijaya FC. Kedekatan personal dengan jajaran manajemen membuatnya tak ragu merogoh kocek pribadi demi menjaga keberlangsungan tim.
Sebelum menjadi Manajer Tim Sriwijaya FC, Eko lebih dulu membuktikan diri di PSB Bogor. Selama empat tahun tim itu tak pernah lolos fase grup. Namun, saat ia turun tangan bersama coach Tedi Berlian, PSB Bogor berhasil menembus 12 besar tanpa sekalipun menelan kekalahan.
"Kalau PSB Bogor kemarin hampir tidak mengikuti, ya saya masuklah. Dengan materi yang pemain saya bawa kebetulan kami di Bogor saya naungi pemain-pemain Liga ataupun pemain-pemain muda yang memang untuk menyalurkan latihan," jelasnya.
Kini pengusaha kelahiran Bogor, 27 November 1987 mempersiapkan diri merogoh kocek untuk menangani tim Sriwijaya FC kedepannya.
"Jadi untuk masalah gaji ini kalau dibilang sangat-sangat minim sekali. Mudah-mudahan saya bisa membantu Sriwijaya FC ini dari segi operasional gaji tim, dan sedikit-sedikit saya untuk membantu operasional tim. Kayak laga away," kata Eko Saputro lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan.
Eko Saputro yang hobi olahraga basket dan sepakbola juga tercatat sebagai pendiri sejumlah perusahaan lain, di antaranya PT Eco Multi Sinergi, PT Eco Metalindo Indonesia, CV Eco Karya Solusi, Fiberco, serta 8Essentials. Aktivitas bisnis tersebut menjadikannya figur entrepreneur yang cukup berpengaruh di Sumatera Selatan.
Eko Saputro mengaku masih belum memastikan kisaran budget yang disiapkan baik itu belanja pemain baru, operasional Sriwijaya FC hingga akhir menjalani kompetisi Pegadaian Championship 2025/26 nanti.
"Kayaknya itu belum, masih dibedah lagi dengan Pak Anggoro. Sekarang kita ngalir dulu aja supaya tidak WO aja," ucapnya.
Harapan untuk melihat Sriwijaya FC bangkit dari keterpurukan kini digantungkan pada sosok Manajer Tim yang baru, Eko Saputro. Kehadiran Eko Saputro—yang juga dikenal sebagai pemilik Ereight Apparel—mampu meniupkan semangat baru, bukan hanya bagi pemain, tetapi juga suporter dan masyarakat Sumatera Selatan yang selama ini mulai diliputi rasa pesimistis akibat krisis berkepanjangan Elang Andalas.
Sebelumnya, Direktur Olahraga PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM), Anggoro Prajesta, mengisyaratkan peluang kedatangan pemain baru di bawah komando Eko Saputro, termasuk pemain asing.
“Masih diatur sama Pak Eko. Bismillah saja. Ini hasil dari orang-orang baik yang mau bantu,” kata Anggoro.
Anggoro Prajesta yang juga CEO PT Digi Sport Asia selaku pemegang saham mayoritas Sriwijaya FC menegaskan komitmen manajemen untuk menyelesaikan kompetisi musim ini.
“Kita selesaikan musim ini, apa pun hasilnya,” tegasnya.
Baca juga: Geri Mandagi: Saya Masih di Sriwijaya FC, Tunggu Tiket Belum Dikasih
Ancaman Sanksi Menghantui
Jika Sriwijaya FC benar-benar mundur, sanksi berat sudah menanti. Regulasi Pegadaian Championship 2025/26 Pasal 9 menyebutkan konsekuensi yang sangat serius:
Jika merujuk regulasi Kompetisi Pegadaian Championship 2025/26 Pasal 9 terkait pengunduran diri setelah kompetisi dimulai akan ada konsekuensi sanksinya.
Apabila terdapat Klub yang menyatakan mengundurkan diri setelah dimulainya Pegadaian Championship 2025/26, berlaku hal-hal sebagai berikut:
PASAL 9
PENGUNDURAN DIRI SETELAH KOMPETISI DIMULAI
1. Apabila terdapat Klub yang menyatakan mengundurkan diri setelah dimulainya
Pegadaian Championship, berlaku hal-hal sebagai berikut:
a. seluruh hasil Pertandingan yang telah dijalankan oleh Klub yang mengundurkan
diri dibatalkan dan dinyatakan tidak sah. Poin dan gol yang diraih dari
Pertandingan tersebut, baik untuk Klub tersebut maupun Klub lawan, tidak
akan dihitung dalam Klasemen akhir dan dihapus dari Klasemen Pegadaian
Championship;
b. seluruh Pertandingan terjadwal dari Klub yang mengundurkan diri akan
dibatalkan;
c. Klub yang mengundurkan diri wajib membayar biaya kompensasi atas kerugian
yang timbul dan dialami oleh Klub lain, PSSI, I.League, sponsor, televisi dan
pihak terkait lainnya. Nilai kompensasi akan ditetapkan oleh I.League;
d. diskualifikasi terhadap Klub yang mengundurkan diri dari Pegadaian
Championship di 2 (dua) musim berikutnya dan hanya dapat bermain di
kompetisi yang akan ditentukan oleh PSSI;
e. Klub yang mengundurkan diri dihukum denda sebesar Rp 1.000.000.000,- (satu
milyar rupiah) apabila mengundurkan diri pada putaran 1 dan sebesar Rp
2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) apabila mengundurkan diri pada putaran 2
dan/atau putaran final dan apabila mengundurkan diri pada putaran 3 dan
sebesar Rp 3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah);
f. Klub yang mengundurkan diri dapat dilaporkan ke Komite Disiplin PSSI
untuk mendapatkan sanksi tambahan; dan
g. Klub yang mengundurkan diri harus mengembalikan seluruh kontribusi yang
telah diterima yang terkait penyelenggaraan Pegadaian Championship.
Sanksi di luar regulasi, terancam diskualifikasi terhadap klub yang mengundurkan diri dari Pegadaian
Championship di 2 (dua) musim berikutnya dan hanya dapat bermain di kompetisi yang akan ditentukan oleh Komdis PSSI.