Abrasi Robohkan Dua Petak Rumah Warga Pulau Langkai, Ibu Tunggal Bertahan di Tengah Ancaman Ombak
January 12, 2026 01:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Deru ombak dan abrasi pantai perlahan menggerus harapan warga Pulau Langkai, Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. 

Dua petak rumah warga kini menyisakan bagian depan.

Dapur dan ruang keluarga roboh dihantam abrasi.

Ketua RW 05 Kelurahan Barrang Caddi, Badaruddin, mengatakan peristiwa runtuhnya bangunan terjadi pada tengah malam beberapa waktu lalu. 

Beruntung, tembok rumah roboh ke arah luar. 

Jika tidak, nyawa penghuni rumah terancam tertimbun reruntuhan.

Baca juga: Banjir Biringkanaya, Pemkot Makassar Jamin Suplai Makanan dan Obat-obatan

“Untungnya dia roboh keluar. Kejadiannya tengah malam. Seandainya roboh ke dalam, pasti tertimpa,” ujar Badaruddin kepada Tribun Timur, Senin (12/1/2026). 

Kini, rumah yang sebelumnya berdiri dengan ukuran sekitar 6 x 10 meter itu hanya menyisakan ruang tamu dan teras. 

Meski dalam kondisi memprihatinkan, pemilik rumah tetap bertahan. 

Ia merupakan seorang ibu tunggal alias janda yang harus menghidupi tiga orang anak.

“Masih tinggal di situ. Mau ke mana lagi, dia single parent,” kata Badaruddin. 

Abrasi yang terus menggerus garis pantai memaksa korban melakukan upaya darurat secara mandiri. 

Bersama warga sekitar, ia menyusun tanggul sementara dari reruntuhan rumah, batu karang yang terhempas ombak, serta batang pohon tumbang. 

Warga pun berharap adanya bantuan karung untuk diisi pasir sebagai tanggul darurat.

“Dia bikin tanggul sendiri dari sisa reruntuhan rumah dan pohon-pohon tumbang. Itu solusi sementara,” jelasnya.

Di lokasi tersebut sebenarnya pernah dibangun tanggul kayu oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) sekitar 10 tahun lalu. 

Namun, tanggul sepanjang kurang lebih 20 meter itu kini sebagian besar telah tertimbun dan terkikis abrasi.

“Itu tanggul lama, kadang tertimbun, kadang terkikis lagi. Hampir setiap tahun begitu,” ungkapnya.

Abrasi di wilayah ini bukan persoalan baru. 

Bahkan, Wali Kota Makassar pernah turun langsung meninjau lokasi dan melihat kondisi rumah warga yang berada tepat di bibir pantai. 

Namun hingga kini, warga menilai belum ada tindak lanjut konkret.

“Pak Wali sendiri yang datang langsung, saya antar ke lokasi abrasi, sampai ke belakang rumah korban. Waktu itu dapurnya hampir runtuh, sekarang sudah hilang dapur sama ruang keluarganya,” katanya.

Selain rumah ibu tunggal tersebut, tercatat ada empat rumah warga yang terdampak abrasi di Pulau Barrang Caddi. 

Dua berada di RT 1 dan dua lainnya di RT 2. 

Salah satu rumah bahkan telah ditinggalkan pemiliknya sejak tahun lalu karena dianggap tak lagi aman.

Saat air laut pasang, jarak air dengan pemukiman semakin dekat. Saat surut, jaraknya sekitar 10 meter, namun saat pasang, air kembali naik hingga mendekati rumah warga.

“Kalau pasang naik lagi, itu sekitar kurang lebih 10 meter juga,” tuturnya.

Warga berharap persoalan abrasi ini segera mendapat perhatian serius pemerintah. 

Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan Barrang Caddi dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat dan diharapkan menjadi pintu masuk penanganan jangka panjang.

“Butuh memang perhatian di situ,” ucap Badaruddin. 

Di tengah keterbatasan dan ancaman abrasi yang terus menggerus, warga Pulau Langkai hanya bisa bertahan sembari berharap, agar ombak tidak lebih dulu merenggut sisa rumah dan rasa aman mereka. (*) 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.