SURYA.CO.ID, SURABAYA - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memastikan Pemkot Surabaya terus mematangkan pengembangan Kawasan Kota Lama.
Menjadi destinasi wisata sejarah unggulan, revitalisasi kawasan cagar budaya ini tidak hanya berfokus pada penataan fisik dan pelestarian bangunan bersejarah, tetapi juga dibarengi dengan penguatan sistem keamanan.
Harapannya, ini akan menciptakan rasa aman bagi wisatawan dan masyarakat.
"Kalau kawasan ini aman, tertib, dan nyaman, maka wisatawan akan betah. Dampaknya bukan hanya pada kunjungan wisata, tapi juga pada perputaran ekonomi warga,” kata Wali Kota Eri ketika dikonfirmasi di Surabaya.
Wali Kota Eri menegaskan revitalisasi kawasan ini diarahkan untuk memperkuat daya tarik wisata.
Sekaligus ,menjaga kelestarian bangunan dan situs bersejarah yang menjadi identitas Kota Pahlawan.
Dilakukan secara bertahap, revitalisasi melibatkan para pemilik bangunan cagar budaya.
Kawasan Kota Lama Surabaya sendiri terbagi dalam tiga zona utama, yakni zona Eropa, zona Pecinan, dan zona Arab, yang masing-masing memiliki karakter sejarah dan arsitektur berbeda.
“Kita kan bergerak bersama dengan pemilik bangunan ya. Rata-rata di sana adalah BUMN. Iya. Maka kami sudah berkoordinasi dengan Danantara,” ujar mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini.
Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci utama agar revitalisasi tidak hanya memperindah kawasan.
Tetapi, juga memberi manfaat langsung bagi pemilik bangunan serta masyarakat sekitar.
Pemkot menargetkan kawasan Kota Lama dapat berkembang menjadi ruang publik yang hidup, nyaman, dan produktif tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.
"Ada sejumlah pengembangan yang terus dilakukan," tandas Wali Kota.
Pengembangan Kota Lama juga sejalan dengan kebijakan penguatan sektor pariwisata Surabaya.
Berdasarkan data Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Surabaya Tahun 2026, jumlah kunjungan wisatawan ke Surabaya menunjukkan tren meningkat signifikan.
Kota Lama turut memberikan kontribusi cukup signifikan.
Pada 2023, kunjungan wisatawan nusantara yang berkunjung ke Surabaya mencapai lebih dari 16,1 juta orang dan meningkat menjadi sekitar 19 juta orang pada 2024.
Sementara wisatawan mancanegara pada 2024 saja tercatat hampir 2 juta kunjungan.
Kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian daerah juga dinilai cukup signifikan.
Pada 2024, sektor pajak hotel, restoran, dan hiburan menyumbang hampir 19 persen terhadap total Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya.
Angka ini menunjukkan pengembangan kawasan wisata seperti Kota Lama memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekonomi kota.
Seiring meningkatnya jumlah wisatawan, Pemerintah Kota Surabaya juga mencatat adanya pengembangan destinasi wisata berbasis kriteria sapta pesona.
Hingga 2024, terdapat tujuh destinasi wisata yang berhasil dikembangkan, termasuk kawasan Kota Lama Pecinan yang mulai menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.
Eri Cahyadi menegaskan, tujuan akhir revitalisasi Kota Lama bukan semata-mata meningkatkan kunjungan wisata, tetapi memastikan kelestarian benda, situs, dan kawasan cagar budaya.
Dengan pendekatan tersebut, pembangunan pariwisata diharapkan tetap berimbang antara aspek ekonomi, sosial, dan budaya.
Dengan revitalisasi berkelanjutan dan kolaborasi lintas pihak, kawasan ini diharapkan menjadi wajah baru pariwisata Surabaya yang berkelas, berkelanjutan, dan tetap berpijak pada nilai sejarah.
"Dengan adanya revitalisasi ini tentu akan memberikan dampak positif khususnya bagi pemilik bangunan cagar budaya. Tujuan akhirnya adalah terlestarikannya Benda, Situs, dan Kawasan Cagar Budaya,” jelas Wali Kota dua periode ini.