Indro Warkop Prihatin Komika Pandji Dilaporkan Polisi: Komedi Kok Dituntut?
January 12, 2026 06:39 PM

BANGKAPOS.COM--Aktor senior sekaligus legenda komedi Indonesia, Indro Warkop, menyampaikan keprihatinannya terhadap sikap sejumlah masyarakat yang dinilainya semakin mudah tersinggung, terutama dalam menyikapi karya seni berbentuk komedi.

Keprihatinan itu muncul setelah mencuatnya polemik terkait materi stand up comedy Pandji Pragiwaksono dalam special show bertajuk Mens Rea yang tayang di platform streaming Netflix.

Pertunjukan tersebut semula mendapat sambutan luas dan menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Namun alih-alih berhenti sebagai diskusi publik, kontroversi itu justru berujung pada pelaporan Pandji Pragiwaksono ke Polda Metro Jaya oleh sekelompok pihak yang merasa keberatan dengan materi komedi yang dibawakan.

Bagi Indro, situasi tersebut merupakan fenomena yang memprihatinkan dan tidak lazim, terlebih dalam konteks masyarakat modern yang hidup di era demokrasi dan kebebasan berekspresi.

“Menurut keyakinan saya, komedi kok dituntut. Itu sesuatu yang aneh,” ujar Indro Warkop saat ditemui di Plaza Indonesia, Jalan MH Thamrin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (9/11/2026).

Komedi dan Kritik Sosial

Indro menilai polemik yang terjadi menunjukkan adanya kesalahpahaman mendasar dalam memaknai komedi.

Menurutnya, komedi bukan sekadar hiburan semata, tetapi juga memiliki fungsi penting sebagai sarana kritik sosial, refleksi, dan pengingat atas berbagai realitas kehidupan.

Ia mengajak masyarakat untuk kembali menempatkan komedi pada porsinya yang tepat.

Dalam pandangannya, reaksi berlebihan terhadap materi komedi justru mencerminkan kegagalan memahami esensi humor itu sendiri.

“Banyak orang sekarang ini tidak mengerti arti komedi. Tidak bisa membedakan antara candaan, satire, dan penghinaan,” kata Indro.

Sebagai pelaku seni yang puluhan tahun berkecimpung di dunia hiburan, Indro mengaku heran melihat bagaimana sebuah pertunjukan komedi dapat ditarik ke ranah hukum.

Padahal, sejak dulu komedi kerap digunakan sebagai medium menyampaikan kritik secara halus dan jenaka.

“Komedi itu ruang aman untuk bercermin. Kalau semua ditarik ke hukum, lalu di mana tempat kita bercanda dan berpikir kritis?” ujarnya.

Komika Kerap Berurusan dengan Hukum

Indro juga menyoroti fenomena yang belakangan kerap terjadi, yakni komika yang harus berhadapan dengan aparat penegak hukum akibat materi pertunjukan mereka. Menurutnya, kondisi ini terasa janggal dan ironis.

“Itu aneh. Sangat aneh,” ucap Indro menegaskan.

Ia khawatir jika tren kriminalisasi terhadap karya seni, khususnya komedi, terus berlanjut, maka ruang berekspresi bagi seniman akan semakin menyempit.

Hal tersebut tidak hanya berdampak pada individu pelaku seni, tetapi juga pada iklim kebudayaan dan demokrasi secara keseluruhan.

Menurut Indro, seni dan budaya merupakan cerminan kedewasaan sebuah bangsa.

Ketika masyarakat tidak mampu menerima perbedaan sudut pandang yang disampaikan melalui humor, maka yang terancam bukan hanya kebebasan berekspresi, tetapi juga kualitas dialog publik.

Dampak terhadap Citra Bangsa

Lebih jauh, Indro menilai ketidakmampuan memahami humor bisa berdampak pada citra Indonesia di mata dunia.

Ia menyebut bangsa lain bisa memandang Indonesia sebagai masyarakat yang belum dewasa dalam menyikapi perbedaan ekspresi.

“Bangsa Indonesia mungkin bisa dianggap primitif oleh bangsa lain kalau tidak bisa memahami komedi,” ucapnya dengan nada prihatin.

Menurut Indro, masyarakat perlu belajar untuk lebih bijak, dewasa, dan tenang dalam merespons karya seni.

Tidak semua hal yang tidak disukai harus berujung pada kemarahan atau pelaporan hukum.

Ia menekankan bahwa perbedaan pendapat adalah hal wajar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, menyelesaikannya dengan pendekatan hukum terhadap karya seni justru berpotensi mematikan kreativitas.

Mengajak Publik Lebih Dewasa

Indro berharap polemik yang terjadi dapat menjadi momentum refleksi bersama, baik bagi masyarakat maupun para pemangku kebijakan.

Ia mengajak publik untuk kembali membuka ruang dialog dan diskusi sehat, tanpa harus saling menghakimi.

Menurutnya, jika ada materi komedi yang dianggap tidak pantas, respons yang lebih tepat adalah dengan kritik terbuka, diskusi, atau bahkan tidak menonton, bukan dengan kriminalisasi.

“Kalau tidak suka, ya jangan ditonton. Itu jauh lebih dewasa,” ujarnya.

Sebagai sosok yang tumbuh dan besar di dunia komedi sejak era Warkop DKI, Indro menegaskan bahwa humor selalu berkembang mengikuti zaman.

Namun satu hal yang tidak berubah, komedi tetap menjadi sarana penting untuk menjaga kewarasan sosial.

Ia berharap masyarakat Indonesia ke depan dapat lebih lapang dada, memahami konteks, serta tidak mudah tersulut emosi hanya karena perbedaan sudut pandang yang dibungkus dalam humor.

“Kalau kita semua gampang tersinggung, negara ini bisa kehilangan senyumnya,” tutup Indro.(*)

(TribunNewsmaker.com/ Wartakotalive)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.