BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU – Nafija masih ingat betul masa dua bulan yang membuatnya bingung dan nyaris putus harapan. Setelah lulus kelas 9, anak dari keluarga buruh tani itu terpaksa berhenti sekolah karena tidak ada biaya.
Kini, gadis berusia 16 tahun ini kembali mengenakan seragam sekolah. Ia menjadi salah satu siswa Sekolah Rakyat Terpadu 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang diresmikan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Senin (12/1/2026).
Sejak awal Juli 2025, Nafija tinggal di lingkungan sekolah bersama siswa lainnya. Jauh dari rumah, ia meninggalkan mamanya dan nenek. Kedua orang itu yang selama ini membersamainya di rumah sederhana.
“Awalnya bingung handak nyambung sekolah ke mana, kurang lebih dua bulan. Karena memang kada ada biaya,” ucap Nafija lirih.
Harapan itu datang dari kabar di media sosial. Nafija mengaku pertama kali mendengar tentang Sekolah Rakyat dari unggahan ibu-ibu pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
Baca juga: Penampakan Sekolah Rakyat di Banjarbaru yang Akan Dikunjungi Presiden Prabowo, Seperti Hunian Hotel
Baca juga: Parkir Sembarangan di Jalur Presiden Prabowo Saat di Banjarbaru, Sejumlah Mobil Diderek Petugas
“Mereka memposting di sosial media, katanya ada Sekolah Rakyat. Dari situ saya terinspirasi masuk ke sini,” katanya.
Keputusan itu tidak mudah. Nafija mengaku berat harus berpisah dengan orang tua karena tak terbiasa hidup jauh dari keluarga. Namun dukungan dari teman-teman dan ibu wali asuh di sekolah membuatnya perlahan bertahan.
“Sebenarnya tidak enak berpisah dengan orang tua. Tapi karena dukungan kawan-kawan dan ibu wali asuh, jadi tetap bertahan,” ujarnya.
Saat ditanya tentang harapan, mata Nafija berkaca-kaca. Ia mengaku ingin membahagiakan orang tuanya.
“Saya ingin membahagiakan orang tua, ingin jadi orang sukses,” katanya, dengan nada bergetar dan mata berkaca-kaca.
Di Sekolah Rakyat, Nafija merasa mendapatkan lebih dari sekadar pendidikan. Fasilitas yang layak membuatnya semakin betah belajar.
“Makanannya enak. Fasilitasnya juga baik, ada AC, ada toilet di dalam kamar. Lebih enak dari pada di rumah,” katanya sembari tersenyum kecil.
Nafija pun sudah punya cita-cita. Ia ingin menjadi operator tambang, profesi yang menurutnya bisa mengubah kehidupan keluarganya kelak.
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)