TRIBUNNEWS.COM - Pada Selasa, 13 Januari 2026 pagi, John Herdman untuk pertama kalinya diperkenalkan ke publik oleh Induk Organisasi Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Ia yang akan menjadi pelatih skuat Garuda untuk menggantikan Patrick Kluivert.
John Herdman berbicara dengan tenang, lugas, penuh informasi, dan tak jarang melemparkan senyum kepada audience saat sesi perkenalan tersebut berlangsung.
Pelatih kelahiran Consett yang dibesarkan di daerah Timur Laut Inggris, County Durham ini terlihat bergairah ketika menguntai kalimat per kalimat yang terlontar dari mulutnya soal Timnas Indonesia, alasan pemilihan Indonesia di saat tawaran dari berbagai negara datang, hingga apa yang akan dia lakukan untuk membawa skuat Garuda terbang tinggi.
Melihat cara John Herdman melakukan presentasi di depan publik yang begitu baik menimbulkan rasa baru tentang sebuah harapan untuk Timnas Indonesia.
Ia adalah sosok yang telah berpengalaman di dunia kepelatihan sepak bola sejak awal tahun 2000-an.
Mulai dari sebuah akademi kecil di negara Selandia Baru, menjadi pelatih kepada di negara tersebut, hingga menorehkan capaian tertinggi bersama dua timnas Kanada, putra dan putri.
Untuk diketahui, John Herdman adalah pelatih pertama di dunia yang berhasil meloloskan dua kelompok timnas sebuah negara ke Piala Dunia.
Timnas Kanada Putra lolos ke Piala Dunia 2022 untuk pertama kalinya setelah 36 tahun.
Sementara di timnas putri, ia mencapai hal tersebut pada tahun 2015, empat tahun setelah masa jabatannya di Selandia Baru dilepas untuk bergabung dengan Federasi Sepak Bola Kanada.
Baca juga: John Herdman Menatap Jadwal Timnas Indonesia, Satu Naturalisasi Potensi Debut
Cara berbicara John, cara dia menarik perhatian, cara dia membawa suasana audience ke dalam topik pembicaraan yang dia bawakan dapat dinikmati dengan baik.
Wajar saja, dia adalah seorang Doktor Sains kehormatan yang diberikan oleh Universitas Nortumbria di Newcastle.
Berbicara di depan publik adalah keharusan yang harus dilakukan dengan baik oleh John.
John cukup sering memberikan kuliah tentang kepemimpinan, dunia olahraga, dan bagaimana cara kerja otak.
Ia bahkan pernah memberikan materi tentang otak kepada ratusan pendidik sekolah kedokteran. Saat itu ia sedang menjabat sebagai pelatih timnas wanita Kanada tahun 2015.
Bagi John, seorang pemimpin bukanlah orang yang memberi instruksi, tetapi bagaimana orang tersebut bisa memberikan gambaran, contohnya bagaimana sebuah gunung dapat didaki.
Cara untuk memicu tindakan dengan memanfaatkan sistem limbik yang ada di dalam otak untuk menempatkan emosi.
"Apakah orang-orang abnormal beroperasi di ranah keselamatan?" tanyanya.
Abnormal di sini dianggap sebagai hal yang baik, setidaknya dala, hal mencapai kesuksesan.
Mereka menempatkan diri mereka dalam risiko.
Pidato itu disampaikan Herdman sehari sebelum pengumuman skuat resmi timnas putri Kanada untuk Piala Dunia.
Kanada ketika itu kehilangan beberapa pemain andalan yang sedang berada di puncak performa.
Walhasil, Herdman harus menyingkronkan antara ketersediaan pemain senior, termasuk Christine Sinclair (32) dengan beberapa pemain muda yang sedang berkembang.
Herdman dituntut menemukan solusi dari sebuah permasalahan dan kuat ketika menghadapi tantangan.
Tahu apa yang dilakukan Herdman?
Ia kemudian melakukan pembicaraan dengan Sinclair untuk membahas soal Piala Dunia Wanita 2015. Bukan soal memenangkan trofi, tetapi tentang warisan apa yang akan dia tinggalkan untuk negaranya.
"Itu membangkitkan sesuatu yang berbeda dalam dirinya," aku Herdman untuk mengangkat motivasi dan hasrat yang ada di dalam diri Sinclair dan pemain lainnya.
Ketertarikan ini berakar pada kehidupan keras di kota kecil Inggris tempat ia dibesarkan.
Pabrik baja yang menjadi tempat kerja kakek dan bapaknya telah ditutup sejak ia kecil, narkoba serta alkohol tidak bisa lagi dihindarkan. Pengangguran dan kejahatan merajalela.
Itu adalah pengalaman mendalam tentang bagaimana otak bisa salah, tetapi bagi Herdman, itu lebih dari sekadar itu. Intinya, "Bagaimana pikiran dapat menyabotase orang, tetapi juga bagaimana pikiran disalahpahami. Jika Anda memahami otak, Anda tidak dapat memahami pelatihan. Semuanya dimulai dan berakhir di sini (sambil menunjuk kepalanya), dan Anda harus memahami cara kerjanya," lugasnya.
Herdman menggunakan pemahaman itu untuk membangkitkan kembali semangat tim nasional.
"Dia memberi orang kebebasan untuk menjadi diri mereka sendiri," ucap Tom Sermanni, seorang warga Skotlandia yang berusia 60 tahun yang telah melatih tim wanita Amerika Serikat, Australia, dan saat itu menjadi asisten pelatih Kanada.
Sinclair yang telah membela timnas wanita Kanada selama 15 tahun dengan menjalani 223 pertandingan (sampai 2015) mengakui, Herdman adalah pelatih terbaik yang pernah dia rasakan selama berkarier.
"Dia adalah pelatih terbaik yang pernah saya miliki," tegas Sinclair.
Singkronisasi yang dilakukan Herdman tentu tidak hanya dengan pemainnya saja, tetapi juga dengan staf pelatih yang dia miliki.
Oleh sebab itu, sisi lain dari strateginya adalah menghubungkan semua orang demi satu tujuan yang sama.
"Terlepas dari strategi dan taktik, bagaimana Anda terhubung dengan orang-orang," beber Presiden Vancouver Canuck, Trevor Linden soal John Herdman.
Doktor Sains tersebut adalah dosen awalnya di sebuah universitas dan pelatih di akademi muda Sunderland, Inggris.
Ia belum pernah bermain di level elit sepak bola, dan ia melihat peluang saat itu di dunia kepelatihan Inggris yang masih konservatif.
Kurangnya dukungan dari keluarga semakin membuatnya termotivasi, bahkan sampai saat ini.
Tiba waktunya, pada tahun 2001 ada lowongan pekerjaan di Invercargill, dekat ujung paling selatan Selandia Baru, Herdmann dan calon istrinya berkunjung dan mengambil langkah, "Ayo kita lakukan," ucapnya saat itu.
John Herdman kemudian mengembangkan permainan di daerah terpencil.
Hingga pada akhirnya, akhir tahun 2004 bakatnya terendus oleh Federasi Sepak Bola Selandia Baru yang kemudian dipercaya menukangi timnas wanita.
Saat itu, gagasan-gagasan Herdman keluar. ia menjadi perancang "Seluruh Sepak Bola" atau yang disebut dengan teori Whole of Football.
Yakni sebuah sistem yang membayangkan kembali pengajaran dan pengembangan permainan sepak bola sejak anak-anak masih kecil hingga tingkat elit.
Teori itu digunakan sebagai model sepak bola Selandia Baru.
Di Kanada, Herdman membawa caranya sendiri yang khas.
Dia menginginkan semua hal terntang pemain tercatat.
Kanada adalah salah satu negara yang pertama kali mengadopsi Prozone pada tahun 2011.
Prozone adalah sebuah sistem kamera yang melacak pemain di lapangan. Kebugaran pemain dipantau oleh sistem GPS portabel Catapult.
Herdman bahkan bisa mengetahui jika pemainnya mengkonsumsi hal-hal yang berlebihan.
Selain Prozone, Herdman juga punya alat yang bernama pusat kebugaran otak yang terdiri dari sejumlah mesin dan layar komputer.
Tujuan utamanya adalah untuk merangsang otak alfa dan theta, yaitu gelombang yang muncul saat relaksasi mendalam, meditasi, dan tidur ringan.
"Ini tentang tetap tenang di bawah tekanan."
Rencana Herdman selama satu dekade untuk sepak bola wanita di Kanada dapat diringkas dalam empat kata, " Lebih banyak Sinclair, lebih baik."
Ia telah mengawali kesuksesan dengan timnas wanita Kanada dengan CV Piala Dunia, dan itu yang menjadi landasanya untuk membangun pondasi baru.
Herdman ingin merombak tim, ia melakukan presentasi kepada Own The Podium, dan kemudian mendapatkan pendanaan yang lebih besar untuk persiapan Olimpiade London.
Dana tersebut untuk timnas dan para pemain muda berbakat yang terakhir berada di program Excel. Idenya untuk menyelaraskan semuanya dengan tim nasional.
Tujuannya untuk mengajarkan generasi penerus cara mengontrol bola.
Herdman pun berhasil memperluas pengaruhnya di sepak bola Kanada. Ia membantu mengembangkan Own The Podium di sebelah utara Toronto untuk atlet berprestasi dari cabang olahraga Olimpiade.
Kini, setelah masa-masa di Selandia Baru dan Kanada berlalu dengan berbagai capaian, terobosan, dan warisan yang ditinggalkannya, waktunya John Herdman mengemudikan Timnas Indonesia yang punya mimpi untuk tampil di Piala Dunia.
Langkah Indonesia tinggal sejengkal lagi untuk pentas 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, namun pada akhirnya gagal.
Ia akan mencoba, berusaha, dan lagi-lagi dengan pernyataan yang membawa rasa optimis dari track record dan kepiawaiannya dalam berbicara yang membuat harapan itu kembali tumbuh.
John Herdman akan melakukan tiga tahapan di awal masa kepelatihannya di Timnas Indonesia, yakni mendengar, mengerti, dan aksi untuk agenda terdekat FIFA Matchday Maret 2026.
"Pertama mendengar dari timnas Indonesia (pemain) dan mengerti apa kebutuhannya dari situ akan melakukan evaluasi," katanya saat sesi press conference.
"Indonesia sudah melangkah dengan baik dalam beberapa tahun terakhir, sudah dekat tetapi belum sampai tujuan."
"Saya sudah berbicara dengan beberapa pemain (terutama dengan lebih dari 60 pemain), saya ingin tahu bagaimana rasanya dari kegagalan kemarin ada sesuatu yang kurang enak dirasakan, dan dari itu juga ingin mengerti untuk membuat pemain juga mengerti bagaimana agar tidak mengulangi kesalahan yang sama."
"Maret ini akan menjadi kesempatan pertama untuk bisa melakukan itu. Tugas saya mengambil sebuah program, melihat apa kekurangannya untuk bisa ke tahap kualifikasi, entah itu Olimpiade maupun Piala Dunia."
"Jadi tiga tahap yang harus dilakukan adalah mendengar, mengerti, dan aksi," tutupnya.
(Tribunnews.com/Sina)