Protes Pro-Pemerintah Digelar saat Demo Anti-Pemerintah Iran Masuk Hari ke-16
January 13, 2026 02:17 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran menggelar aksi pro-pemerintah di sejumlah wilayah pada Senin (12/1/2026).

Demonstrasi anti-pemerintah terus berlangsung tanpa henti dan memasuki hari ke-16 di berbagai daerah di negara itu.

Di Teheran, massa berkumpul di Lapangan Enghelab, kawasan utama dekat Universitas Teheran.

Para peserta aksi mengibarkan bendera nasional Iran serta mengecam kekerasan yang terjadi selama kerusuhan, menurut laporan Anadolu Agency.

Para pengunjuk rasa menyuarakan dukungan terhadap pemerintah.

Mereka juga mendesak otoritas untuk segera mengatasi persoalan ekonomi.

Selain itu, para demonstran menolak apa yang mereka sebut sebagai campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Iran.

Aksi serupa dilaporkan terjadi di kota-kota lain.

Kota tersebut antara lain Kerman, Zahedan, dan Birjand di wilayah timur Iran.

Aksi pro-pemerintah berlangsung di tengah berlanjutnya demonstrasi anti-pemerintah.

Gelombang protes dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi dan melemahnya mata uang nasional.

Baca juga: Pembakaran Masjid di Iran Dibesar-besarkan Media Barat, Eks Dubes RI: Ada Keterlibatan AS

Nilai tukar rial Iran dilaporkan jatuh hingga sekitar 145.000 per dolar AS.

Kondisi itu memicu lonjakan harga kebutuhan pokok.

Pejabat Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik dukungan terhadap kelompok yang mereka sebut sebagai “perusuh bersenjata.”

Kementerian Intelijen Iran mengumumkan penyitaan 273 senjata.

Selain itu, sejumlah tersangka ditangkap, termasuk anggota sel teroris yang dikaitkan dengan partai Kurdi terlarang.

Ketegangan juga meningkat di tingkat internasional.

Presiden AS Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan berbagai opsi untuk merespons situasi di Iran.

Opsi tersebut mencakup kemungkinan tindakan sebelum perundingan terkait program nuklir Iran.

Trump juga mengklaim Teheran telah menghubungi Washington untuk menjajaki pembicaraan.

Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memberikan peringatan keras.

Ia menyebut Iran akan memberikan “pelajaran yang tak terlupakan” jika AS mengambil langkah agresif.

Sejumlah pejabat tinggi Iran terlihat menghadiri unjuk rasa pro-pemerintah.

Mereka antara lain Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Baca juga: Adu Kekuatan Militer Iran vs Amerika Serikat di Ambang Perang Terbuka Timur Tengah

Sementara itu, kelompok pemantau HAM HRANA melaporkan sedikitnya 544 orang tewas sejak protes pecah.

Lebih dari 1.000 orang dilaporkan luka-luka.

HRANA juga mencatat lebih dari 10.600 orang ditahan.

Penahanan terjadi dalam aksi yang berlangsung di ratusan lokasi di seluruh Iran.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.